JAKARTA – Umar bin Khattab menetapkan penentuan khalifah penggantinya di bawah majelis syura yang beranggotakan enam orang. Di antaranya, Utsman bin Affan, Ali bin Abi thalib, Thalhah bin Ubaidullah, az Zubair bin al Awwam, Abdurrahman bin Auf, dan Saad bin Abu Waqqash. Dilansir dari laman Youm7 pada Kamis 3/6, dalam Al Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir djelaskan bahwa Umar merasa berat untuk memilih salah seorang di antara mereka. Beliau berkata, "Aku tidak sanggup untuk bertanggung jawab tentang perkara ini baik ketika aku hidup maupun setelah aku mati. Jika Allah menghendaki kebaikan terhadap kalian, Dia akan membuat kalian bersepakat untuk menunjuk seorang yang terbaik di antara kalian sebagaimana telah membuat kalian sepakat atas penunjukan orang yang terbaik setelah Nabi kalian ﷺ". Di antara yang menunjukkan kesempurnaan kewaraan beliau, beliau tidak memasukkan dalam anggota majelis syura tersebut Said bin Zaid bin Amr bin Nufail karena dia adalah anak paman beliau. Beliau khawatir dia akan diangkat karena posisinya sebagai anak paman beliau, dan dia adalah salah seorang yang diberitakan masuk surga, bahkan pada riwayat al Madainy dari para Syaikhnya bahwa dia Said bin Zaid mendapat pengecualian di antara mereka, Umar katakan, "Kamu tidak termasuk anggota majelis syura." Umar berkata kepada anggota majelis syura, "Apakah Abdullah anak beliau ikut hadir? Dia tidak termasuk dalam keanggotaan majelis ini." Bahkan, beliau memberikan pendapat dan nasihat kepada anggota tersebut agar dia Abdullah jangan diberi jabatan tersebut. Beliau juga mewasiatkan agar Shuhaib bin Sinan ar Rumy mengimami sholat selama tiga hari sampai musyawarah itu tuntas dan majelis syura mempunyai kesepakatan atas urusan tersebut. Mereka bermusyawarah membicarakan tentang urusan ini hingga akhirnya hanya terpilih tiga kandidat. Zubair menyerahkan jabatan khalifah tersebut kepada Ali bin Abi Thalib, Saad kepada Abdur Rahman bin Auf, dan Thalhah kepada Utsman bin Affan. Abdurrahman bin Auf berkata kepada Ali dan Utsman, "Sesungguhnya aku melepaskan hakku untuk salah seorang di antara kalian berdua yang berlepas diri dari perkara ini, Allah sebagai pengawasnva. Sungguh akan diangkat sebagai khalifah salah seorang yang terbaik di antara dua orang yang tersisa." Ucapan ini membuat Utsman dan Ali terdiam. Kemudian Abdurrahman melanjutkan, "Aku akan berusaha untuk menyerahkan jabatan tersebut kepada salah seorang di antara kalian berdua dengan cara yang benar." Mereka berdua berkata, "Ya." Kemudian masing-masing mereka memberikan khutbahnya yang menyebutkan tentang keistimewaannya dan berjanji jika mendapat jabatan tersebut tidak akan menyimpang dan jika ternyata tidak, maka dia akan mendengar dan mentaati orang yang diangkat. Mereka berdua menjawab, "Ya." Lantas mereka pun bubar. Abdurrahman berusaha selama tiga hari tiga malam tidak tidur dan hanya melakukan sholat, doa, dan istikharah serta bertanya-tanya kepada mereka yang mempunyai pendapat tentang dua kandidat ini, dan tidak dijumpai seorang pun yang tidak condong kepada Utsman. Ketika tiba pagi hari yang keempat setelah wafatnya Umar bin Khattab, Abdurrahman mendatangi rumah kemenakannya, al Miswar bin Makhramah dan berkata, "Apakah engkau tidur ya Miswar? Demi Allah aku sangat sedikit tidur sejak tiga hari yang lalu. Pergilah untuk memanggil Ali dan Utsman!" Al Miswar berkata, "Siapa yang pertama harus kupanggil?" beliau berkata, "Terserah padamu." Maka aku pun pergi menemui Ali dan aku katakan, "Pamanku tadi memanggilmu," Ali bertanya, "Apakah dia juga memanggil yang lain selainku?" jawabku, "Benar" BACA JUGA Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Klik di Sini
Umarsempat berdebat dengan Abu Ubaidah, Gubernur Syam soal wabah penyakit dan takdir. Wabah terjadi di wilayah Saragh, sebuah daerah di Lembah Tabuk dekat Syam. Awalnya sang Amirul Mukminin itu
Kehidupan Khalifah Umar bin Khattab tidak lepas dari memperhatikan kesejahteraan, keamanan, dan keadilan warganya. Suatu ketika Umar mendapat laporan bahwa putra Gubernur Mesir telah menempeleng seorang warga negara tanpa sebab berarti dibanding perlakuan yang telah didapatnya itu. Seketika, Umar segera memanggil sang Gubernur yang tak lain adalah Amr bin Ash untuk menghadapkan putranya dan mempertanggungjawabkan perbuatannya yang dinilai sewenang-wenang itu. Di hadapan Gubernur Mesir dan putranya itu, Khalifah Umar memperlihatkan ketegasannya dengan kata-kata yang hingga kini termasyhur menjadi sebuah doktrin. Umar berkata Ilaa mataa ista’badtum an naasa wa qod waladathum ummahatuhum ahroron? Sampai kapan kalian memperbudak manusia, padahal mereka dilahirkan oleh ibu-ibu mereka dalam keadaan merdeka? Konon, menurut riwayat yang diceritakan oleh KH Saifuddin Zuhri dalam buku karyanya Berangkat dari Pesantren 2013 itu, doktrin Sayyidina Umar tersebut yang menguatkan jalan perjuangan para kiai dan ulama di Indonesia dalam mengusir penjajah dari tanah air. Dalam sejarahnya, keprihatinan dan peran sentral para kiai dari kalangan pesantren dalam menghidupkan kesadaran bangsa Indonesia untuk merdeka dari kungkungan penjajah begitu tinggi. Bahkan atas langkahnya itu, pesantren selalu mendapat sorotan dari pihak kolonial karena dianggap mampu memobilisasi kekuatan rakyat untuk melakukan perlawanan. Bagi bangsa Indonesia, perlawanan wajib dilakukan kepada penjajah atas perlakuannya yang tidak berperikemanusiaan. Ketegasan Khalifah Umar kepada Amr bin Ash bukan kali itu saja. Amr bin Ash berencana akan membangun sebuah masjid besar di tempat gubuk tersebut dan otomatis harus menggusur gubuk reot Yahudi itu. Lalu dipanggil lah si Yahudi itu untuk diajak diskusi agar gubuk tersebut dibeli dan dibayar dua kali lipat. Akan tetapi si Yahudi tersebut bersikeras tidak mau pindah karena dia tidak punya tempat lain selain di situ. Karena sama-sama bersikeras, akhirnya turun perintah dari Gubernur Amr bin Ash untuk tetap menggusur gubuk tersebut. KH Abdurrahman Arroisi dalam salah satu jilid bukunya 30 Kisah Teladan 1989 menjelaskan, si Yahudi merasa dilakukan tidak adil, menangis berurai air mata, kemudian dia melapor kepada khalifah, karena di atas gubernur masih ada yang lebih tinggi. Dia berangkat dari Mesir ke Madinah untuk bertemu dengan Khalifah Sayyidina Umar bin Khattab. Sepanjang jalan si Yahudi ini berharap-harap cemas dengan membanding bandingkan kalau gubernurnya saja istananya begitu mewah, bagaimana lagi istananya khalifahnya? Kalau gubernrunya saja galak main gusur apalagi khalifahnya dan saya bukan orang Islam apa ditanggapi jika mengadu?” Sesampai di Madinah dia bertemu dengan seorang yang sedang tidur-tiduran di bawah pohon Kurma, dia hampiri dan bertanya, bapak tau dimana khalifah Umar bin Khattab? Dijawab orang tersebut, ya saya tau, Di mana Istananya? Istananya di atas lumpur, pengawalnya yatim piatu, janda-janda tua, orang miskin dan orang tidak mampu. Pakaian kebesarannya malu dan taqwa. Si Yahudi tadi malah bingung dan lalu bertanya sekarang orangnya di mana pak? Ya di hadapan tuan sekarang. Gemetar Yahudi ini keringat bercucuran, dia tidak menyangka bahwa di depannya adalah seorang khalifah yang sangat jauh berbeda dengan gubernurnya di Mesir. Sayiddina Umar bertanya, kamu dari mana dan apa keperluanmu? Yahudi itu cerita panjang lebar tentang kelakuan Gubernur Amr bin Ash yang akan menggusur gubuk reotnya di Mesir sana. Setelah mendengar ceritanya panjang lebar, Sayyidina Umar menyuruh Yahudi tersebut mengambil sepotong tulang unta dari tempat sampah di dekat situ. Lalu diambil pedangnya kemudian digariskan tulang tersebut lurus dengan ujung pedangnya, dan disuruhnya Yahudi itu untuk memberikannya kepada Gubernur Amr bin Ash. Makin bingung si Yahudi ini dan dia menuruti perintah Khalifah Sayyidina Umar tersebut. Sesampai di Mesir, Yahudi ini pun langsung menyampaikan pesan Sayyidina Umar dengan memberikan sepotong tulang tadi kepada Gubernur Amr bin Ash. Begitu dikasih tulang, Amr bin Ash melihat ada garis lurus dengan ujung pedang, gemetar dan badannya keluar keringat dingin lalu dia langsung menyuruh kepala proyek untuk membatalkan penggusuran gubuk Yahudi tadi. Amr bin Ash berkata pada Yahudi itu, ini nasehat pahit buat saya dari Amirul Mukminin Umar bin Khattab, seolah-olah beliau bilang hai Amr bin Ash, jangan mentang-mentang lagi berkuasa, pada suatu saat kamu akan jadi tulang-tulang seperti ini. Maka mumpung kamu masih hidup dan berkuasa, berlaku lurus dan adillah kamu seperti lurusnya garis di atas tulang ini. Lurus, adil, jangan bengkok, sebab kalau kamu bengkok maka nanti aku yang akan luruskan dengan pedang ku. Singkat cerita, setelah melihat keadilan yang dicontohkan Sayyidina Umar tersebut, akhirnya Yahudi itu menghibahkan gubuknya tadi buat kepentingan pembangunan masjid, dan dia pun masuk Islam oleh karena keadilan dari Umar bin Khattab. Penulis Fathoni Ahmad Editor Muchlishon
turutterpilih Umar bin Khattab (581-644), Utsman bin Affan (576-656) dan Ali bin Abi Thalib (601-661).5 Istilah khalifah dipakai untuk menggantikan fungsi Nabi menjelaskan ada lima cara pemilihan khalifah atau kepala negara, yaitu: a. Sekelompok warga yang tinggal diwilayah pusat (ibu kota atau ahlul
Berbicara tentag wasyiat Khalifah Umar menjelang wafat nya, Syeikh Abu Utsman Al Jahidz juga mengungkapkan keterangan Mu'ammar bin Sulaiman At Taimiy, yang diperol~h dari Ibnu Abbas. Yang tersebut belakangan ini diketahui pernah mendengar apa yang pernah dikatakan Umar Ibnul Khattab kepada para Ahlu Syuro menjelang wafatnya "Jika kalian saling membantu, saling percaya dan saling menasehati, maka kupercayakan kepemimpinan ummat kepada kalian, bahkan sampai kepada anak cucu kalian. Tetapi kalau kalian saling dengki, saling membenci , saling menyalahkan dan saling bertentangan, kepemimpinan itu akhirnya akan jauth ke tangan Muawiyah bin Abu Sufyan!". Perlu diketahui, bahwa ketika Khalifah Umar masih hidup, Muawiyah bin Abu Sufyan sudah beberapa tahun lamanya menjabat sebagai kepala daerah Syam. Ia diangkat sebagai kepala daerah oleh Umar Ibnul Khattab Sejarah kemudian mencatat, bahwa yang diperkirakan oleh Khalifah Umax menjelang akhir hayatnya menjadi kenyataan. Klimaks dari penyampaian wasyiat oleh Khalifah Umar ialah memerintahkan supaya Abu Thalhah A1 Anshariy datang menghadap. Waktu orang yang dipanggil itu sudah berada didekat pembaringannya, berkatalah Khalifah Umar dengan tegas dan jelas, seolah-olah sedang melepaskan sisa tenaganya yang terakhir "Abu Thalhah, camkan baik-baik! Kalau kalian sudah selesai memakamkan aku, panggillah 50 orang Anshar. Jangan lupa, supaya masing-masing membawa pedang. Lalu desaklah mereka 6 orang Ahlu Syuro supaya segera menyelesaikan urusan mereka untuk memilih siapa di antara mereka itu yang akan ditetapkan sebagai Khalifah. Kumpulkan mereka itu dalam sebuah rumah. Engkau bersama-sama teman-i;emanmu berjaga jaga di pintu. Biarkan mereka bermusyawarah untuk memilih salah seorang di antara mereka. "Jika yang Iima setuju dan ada satu yang menentang, penggallah leher orang yang menentang itu! J'ika empat orang setuju dan ada dua yang menentang, penggallah leher dua orang itu! Jika tiga orang setuju dan tiga orang lainnya menentang, tunggu dan lihat dulu kepada tiga orang yang diantaranya termasuk Abdurrahman bin 'Auf. Kalian harus mendukung kesepakatan tiga orang ini. Kalau yang tiga orang lainnya masih bersikeras menentang,penggal saja leher tiga orang yang bersikeras itu!. "Jika sampai tiga hari, enam orang itu belum juga mencapai kesepakatan untuk menyelesaikan urusan mereka, penggal saja leher enam orang itu semuanya. Biarlah kaum muslimin sendiri memilih siapa yang mereka sukai untuk dijadikan pemimpin mereka !". Dari sekelumit informasi sejarah tersebut di atas, kita mengetahui, betapa tingginya rasa tanggung-jawab dan jiwa kerakyatan Khalifah Umar Ibnul Khattab Secara tertib dan terperinci, sampai detik-detik menjelang ajalnya, ia masih memikirkan cara-cara pengangkatan seorang Khalifah yang akan mengantikannya. Sambil menahan rasa sakit akibat luka-luka tikaman sejata tajam, ia masih sempat berusaha menyinambungkan kepemimpinan ummat Islam sebaik-baiknya. Sumber Buku Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib Oleh Al Hamid Al Husaini
KhalifahUmar ibn Khattab ditunjuk menjadi khalifah melalui wasiat yang diberikan oleh khalifah pertama, Abu Bakar as-Shiddiq, sebelum ia wafat. Abu Bakar wafat pada 8 Jumadil Akhir tahun ke-13 Hijriyah. Adapula yang menyebutkan bahwa Abu Bakar wafat 21 Jumadil Akhir 13 H. Beliau wafat setelah memimpin kaum Muslim selama dua tahun.
Umar bin Khattab adalah pemimpin Islam yang mengenalkan cara pemilihan pemimpin khalifah melalui pengambilan suara terbanyak. Gagasan ini beliau sampaikan pada tahun terakhir kekhilafahan, guna menentukan siapa pemimpin pengganti beliau. Sebetulnya, dalam pandangan pribadi Umar bin Khattab sudah dipetakan dan diperhitungkan siapa yang layak memimpin umat Islam setelah dirinya. Kandidat terkuat ialah Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Tapi, jika beliau mengikuti jejak Abu Bakar dengan cara menunjuk pemimpin penggantinya, maka hal itu sulit dilakukan. Sebab, Utsman maupun Ali adalah dua tokoh kepercayaan Rasulullah untuk mencatat firman-firman Allah. Atas dasar pertimbangan itulah beliau menunjuk tokoh-tokoh di antara sahabat Nabi yaitu Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Talhah bin Ubaid, Zubayr bin al-Uwam, Sa'd bin Abu Wa'i. Umar tidak melibatkan dalam tim formatur itu, Abdurrahman bin Auf. Sebagaimana beliau tidak menunjuk Said bin Zaid bin Amr bin Nafil karena alasan masih sepupu khalifah sendiri. Padahal Said bin Zaid adalah salah satu dari sepuluh yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah. Namun, oleh sahabat yang lain, dimintakan satu perwakilan dari khalifah Umar. Lalu disepakatilah Abdullah bin Umar Dengan catatan ia memiliki hak suara tapi tidak memiliki hak untuk dipilih. Umar bin Khattab berpesan kepada mereka "Aku tidak menerima perintah untuk menunjuk penggantiku baik di waktu hidupku maupun matiku dengan cara berwasiat. Namun yang pasti aku akan mati. Maka untuk kelangsungan masa depan umat Rasulullah Saw, aku kumpulkan kalian untuk menentukan masa depan kalian." Umar bin Khattab tampaknya sudah memprediksi proses pemilihan khalifah penggantinya akan berlangsung ketat dan alot. Untuk itu, beliau berwasiat agar Suhaib bin Sinan al-Rumi berkenan memimpin shalat jamaah dan berdoa selama tiga hari, sesudah wafat beliau dan sampai ada kesepakatan siapa khalifah pengganti beliau. Ramalan Umar itu terbukti. Sahabat-sahabat yang ditunjuknya membutuhkan waktu tiga hari untuk menyelesaikan tugas memilih khalifah ke-3. Pada hari pertama dan kedua, dari 6 orang yang telah ditunjuk semua hadir, terkecuali Talhah bin Ubaid. Sahabat yang lain sempat ragu dan bertanya-tanya tentang sikap Thalhah. Tapi keragu-raguan itu akhirnya terjawab sesudah Thalhah hadir di tengah-tengah mereka. Mula-mula dari tokoh yang hadir, tiga di antaranya memilih Zubair. Tapi Zubair menolak dan melimpahkan tiga suara yang didapatnya kepada Ali. Menantu Rasulullah yang rendah hati inipun menolak dan melimpahkan suara yang diperolehnya kepada Sa'ad. Tapi lagi-lagi karena ketawadhuan Sa'ad beliau malah "melemparkan" suaranya kepada Abdurrahman bin Auf. Hari pertama rapat menghasilkan keputusan yang belum bulat sebab di antara peserta justru memilih tokoh yang tidak termasuk dalam tim formatur yang telah disepakati. Pada hari kedua, tim formatur menghadap Abdurrahman bin Auf untuk menyampaikan hasil keputusan sementara mereka. Tapi Abdurrahman sendiri ketika dikonfirmasi menolak penunjukan dirinya menjadi khalifah. Beliau justru berkata “Di antara kita yang lebih berhak menjadi khalifah ialah Utsman dan Ali." Tim formatur tak puas dengan jawaban Abdurrahman. Sa'ad bin Abu Wa'y selaku juru bicara mendesak agar Abdurrahman memilih salah satu di antara dua tokoh Utsman atau Ali. Setelah banyak pertimbangan, akhirnya Abdurrahman memilih Utsman bin Affan. Sekalipun sudah ada penegasan Abdurhman tapi ada yang mempertanyakan bagaimana dengan hak suara Thalhah yang belum juga hadir sampai hari kedua rapat? Untunglah pada hari ketiga Thalhah yang sudah dinanti-nanti hadir dalam forum musyawarah sahabat-sahabat Nabi. Ketika ditanya pilihannya, beliau spontan menjatuhkan pilihan kepada Utsman bin Affan. Dengan demikian, suara terbanyak telah menunjuk Utsman bin Affan sebagai khalifah pengganti Umar bin Khattab. Pemilihan ini diikuti dengan pembaitan yang dilakukan oleh 50 sahabat terkemuka kepada khalifah terpilih. Demikianlah kisah pertamakali pemilihan secara langsung al-khalifatur-rasyidun ke-3 dalam sejarah Islam. Walaupun berjalan alot, tapi demi kepentingan bersama, suksesi kepemimpinan dapat dilakukan secara aman dan damai. Semoga kisah ini memberikan inspirasi bagi umat Islam Indonesia dalam menyalurkan hak suara pada Pemilu 2019.
SyekhMaulana Muhammad Zakariyya Al-Kandahlawai rah mengatakan, keteguhan Umar ra, dalam mempertahankan akidah ini terlihat dalam sebuah hadits. Disebutkan bahwa apabila Umar ra, sampai di Hajar Aswad, ia akan berkata. "Aku bersaksi bahwa kamu hanyalah sebuah batu, tidak bisa memberi manfaat dan kerugian. Rabbku adalah Dia Yang tidak ada yang
UTSMAN bin Affan menjabat sebagai khalifah menggantikan Umar bin Khattab, tepatnya pada tahun 23 H. Utsman bin Affan diangkat menjadi khalifah atas dasar musyawarah dan keputusan para sahabat, yang anggotanya dipilih oleh khalifah Umar bin Khattab sebelum beliau wafat. Keenam anggota panitia itu ialah Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Abdurahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqas, Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah. Tiga hari setelah Umar bin Khattab wafat, keenam kandidat kemudian berkumpul dan bermusyawarah selama tiga hari di bawah panitia pemilihan yang terdiri dari Abdullah bin Umar, Abu Thalhah al-Anshari, al-Miqdad, dan Suhaib. Musyawarah pemilihan ini dimulai dengan pembukaan dari Abdurrahman bin Auf yang berkata “Pilihlah tiga orang di antara kalian.” BACA JUGA Orang-orang Pengganti Khalifah Umar Zubair bin al-Awwam berkata “Aku memilih Ali.” Thalhah bin Ubaidilah berkata “Aku memilih Utsman.” Sa’ad bin Abi Waqqash berkata “Aku memilih Abdurrahman bin Auf.” Abdurrahman bin Auf lalu berkata kepada Ali dan Utsman “Aku memilih salah satu di antara kalian berdua yang sanggup memikul tanggung jawab ini. Jadi, sampaikanlah pendapat kalian mengenai hal ini.” Ali maupun Utsman terhening tidak memberikan jawaban. Abdurrahman bin Auf pun memahami keduanya. Lalu Abdurrahman berkata, “Apa kalian hendak memikulkan tanggung jawab ini kepadaku? Bukankah yang paling berhak memikulnya adalah yang terbaik di antara kalian?” Mendengar hal itu, Ali dan Utsman berkata “Ya benar.” Abdurrahman bin Auf kemudian memandangi para sahabat yang hadir dan meminta pandangan mereka. la kemudian berkata kepada Ali “Jika kau tidak mau kubaiat, sampaikan pandanganmu.” Ali bin Abi Thalib berkata, “Aku memilih Utsman.” Lalu Abdurrahman bin Auf memandang Utsman bin Affan. Utsman pun berkata, “Aku memilih Ali bin Abu Thalib.” Dari keenam kandidat tidak ada satu pun yang mau mengajukan diri untuk dibaiat, begitu pun dengan dua kandidat terakhir, Ali dan Utsman. Oleh karena itu, musyawarah pun ditunda. Pada hari kedua, Abdurrahman bin Auf berkeliling Madinah menjumpai para sahabat dan memintai pendapat mereka. Akhirnya di malam hari ketiga, Abdurrahman bin Auf memanggil Zubair bin aI-Awwam dan Sa’ad bin Abi Waqqash, mereka bertiga kemudian bermusyawarah. Setelah ketiganya selesai bermusyawarah, Abdurrahman bin Auf kemudian memanggil Ali bin Abi Thalib dan keduanya berbincang hingga tengah malam. Ketika Ali pergi setelah selesai berbincang-bincang, Abdurrahman bin Auf kemudian memanggil Utsman bin Affan dan keduanya berbincang-bincang hingga azan subuh berkumandang. Pagi itu, kaum muslimin berkumpul di Masjid Nabi. Dihadiri oleh enam kandidat, wakil kaum Muhajirin dan Anshar, serta para pemimpin pasukan. Abdurrahman bin Auf kemudian memandang Ali bin Abi Thalib dan membacakan syahadatain, ia berkata kepada Ali sambil memegang tangannya “Engkau punya hubungan dekat dengan Rasulullah, dan sebagaimana diketahui, engkau pun lebih dulu masuk Islam. Demi Allah, jika aku memilihmu, engkau harus berbuat adil. Dan jika aku memilih Utsman, engkau harus patuh dan taat. Wahai Ali, aku telah berkeliling menghimpun pendapat berbagai kalangan, dan ternyata mereka lebih memilih Utsman. Aku berharap engkau menerima ketetapan ini.” BACA JUGA Orang Quraisy Terguncang ketika Umar bin Khattab Memeluk Islam Setelah berkata kepada Ali, Abdurrahman bin Auf berkata kepada Utsman “Aku membaiatmu atas nama sunnah Allah dan Rasul-Nya, juga dua khalifah sesudahnya.” Ali bin Abi Thalib adalah orang kedua yang berkata yang sama kepada Utsman untuk membaiatnya sebagai khalifah pengganti Umar. Saat itu juga semua kaum muslimin yang hadir serempak membaiat Utsman sebagai khalifah kaum muslimin. Maka Utsman bin Affan menjadi khalifah ketiga dan yang tertua. Pada saat diangkat, ia telah berusia 70 tahun. Peristiwa ini terjadi pada bulan Muharram tahun 24 H. Pengumuman dilakukan setelah selesai salat di Masjid Madinah. [] Sumber Sahabat Rasulullah Ustman bin Affan/ Penulis M. Syaikuhudin/ Penerbit Balai Pustaka/ 2012 Haru Ketika Umar bin Khatab Tak Kuasa Meneteskan Air Mata Melihat Kesederhanaan Rasulullah. Putrinya menjawab, 'Dia memerintahkan petugas untuk mengumumkan, hendaknya susu tidak dicampur dengan air.'. Ibunya berkata, 'Putriku, lakukan saja, campur susu itu dengan air, kita di tempat yang tidak dilihat oleh Umar dan petugas Umar.'. Bagaimana Proses Pemilihan Umar Bin Khattab Sebagai Khalifah – Pemilihan Umar bin Khattab sebagai Khalifah merupakan salah satu keputusan penting dalam sejarah Islam. Umar bin Khattab adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad yang paling dicintai dan dihormati. Dia memiliki banyak kualitas yang diperlukan untuk menjadi pemimpin yang baik, seperti ketegasan, kejujuran, keadilan, dan kemampuan untuk menangani masalah. Proses pemilihan Umar bin Khattab sebagai Khalifah dimulai dengan pemilihan Abu Bakar sebagai Khalifah pertama Rasulullah. Setelah Abu Bakar meninggal, umat Islam mengadakan rapat untuk memilih pemimpin baru. Saat itu, Umar bin Khattab merupakan salah satu yang paling disukai. Umar bin Khattab berbicara di depan para sahabat Nabi Muhammad dan menyatakan bahwa ia tidak akan menerima kepemimpinan jika tidak ada yang menyukainya. Hal ini menunjukkan bahwa ia tidak ingin mencari kedudukan karena keinginannya sendiri. Segera setelah Umar bin Khattab menyampaikan pendapatnya, para sahabat Nabi Muhammad pun punya kesepakatan untuk mengumumkan Umar bin Khattab sebagai Khalifah. Keberanian dan ketegasan Umar bin Khattab dalam mempertahankan pendapatnya membuat para sahabat Nabi Muhammad memberikan pengakuan atas kepemimpinannya. Selanjutnya Umar bin Khattab melakukan banyak hal untuk memperkuat pemerintahannya. Dia memperkenalkan berbagai peraturan baru yang meningkatkan keselamatan dan keadilan. Dia juga memperkuat posisi politik dan ekonomi Islam. Hal ini membuat masa pemerintahan Umar bin Khattab menjadi masa keemasan untuk umat Islam. Kepemimpinan Umar bin Khattab selama belasan tahun membuktikan kepribadian dan kualitasnya sebagai pemimpin. Hal ini menjelaskan mengapa pemilihan Umar bin Khattab sebagai Khalifah menjadi pemilihan penting dalam sejarah Islam. Ia memiliki kualitas yang diperlukan untuk menjadi pemimpin yang baik. Kepemimpinannya membawa kesejahteraan dan kemakmuran bagi umat Islam. Daftar Isi 1 Penjelasan Lengkap Bagaimana Proses Pemilihan Umar Bin Khattab Sebagai 1. Proses pemilihan Umar bin Khattab sebagai Khalifah dimulai setelah pemilihan Abu Bakar sebagai Khalifah 2. Umat Islam mengadakan rapat untuk memilih pemimpin baru setelah Abu Bakar 3. Umar bin Khattab menyatakan bahwa ia tidak akan menerima kepemimpinan jika tidak ada yang 4. Para sahabat Nabi Muhammad pun punya kesepakatan untuk mengumumkan Umar bin Khattab sebagai 5. Umar bin Khattab melakukan banyak hal untuk memperkuat pemerintahannya, seperti memperkenalkan peraturan baru, memperkuat posisi politik dan ekonomi 6. Keberanian dan ketegasan Umar bin Khattab dalam mempertahankan pendapatnya membuat para sahabat Nabi Muhammad memberikan pengakuan atas 7. Kepemimpinan Umar bin Khattab membuktikan kepribadian dan kualitasnya sebagai 8. Pemilihan Umar bin Khattab sebagai Khalifah menjadi penting dalam sejarah Islam karena ia memiliki kualitas yang diperlukan untuk menjadi pemimpin yang baik. 1. Proses pemilihan Umar bin Khattab sebagai Khalifah dimulai setelah pemilihan Abu Bakar sebagai Khalifah pertama. Proses pemilihan Umar bin Khattab sebagai Khalifah dimulai setelah pemilihan Abu Bakar sebagai Khalifah pertama. Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar telah dipilih oleh bangsa Arab sebagai Khalifah pertama dan penguasa Islam yang pertama. Sejak itu, Umar bin Khattab telah diangkat menjadi salah satu pemimpin utama dalam pemerintahan Islam. Setelah Abu Bakar meninggal, Umar bin Khattab mengambil alih pemerintahan dengan menjadi Khalifah kedua. Proses pemilihan Umar bin Khattab sebagai Khalifah dimulai dengan sejumlah orang yang mengumpulkan diri di Madinah untuk memilih Khalifah baru. Sebagian besar orang yang hadir di Madinah adalah sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW yang telah berjuang bersamanya dalam peperangan melawan orang-orang kafir. Pada saat itu, ada beberapa calon yang dipertimbangkan untuk diangkat menjadi Khalifah selanjutnya. Proses pemilihan Umar bin Khattab sebagai Khalifah dimulai dengan beberapa orang yang menyarankan Umar bin Khattab untuk menjadi Khalifah. Mereka menyarankan Umar karena kualitas dan kepribadian yang dimilikinya. Keputusan untuk memilih Umar bin Khattab sebagai Khalifah kemudian disetujui oleh sejumlah orang yang hadir di Madinah. Setelah Umar bin Khattab terpilih menjadi Khalifah, ia langsung mengambil tindakan untuk meningkatkan pemerintahan kota Madinah. Umar bin Khattab membuat kebijakan-kebijakan yang mampu meningkatkan kualitas pemerintahan yang lebih baik. Ia juga memperkuat ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Selain itu, Umar bin Khattab juga membuat berbagai peraturan yang dapat mencegah penindasan dan pembunuhan. Ia juga membuat kebijakan yang mengatur tentang hukum dan pengadilan. Umar bin Khattab juga menekankan pentingnya persatuan dan kesatuan antar warga negara. Umar bin Khattab juga memperluas wilayah pemerintahannya dengan menaklukkan wilayah-wilayah di sekitar Madinah. Ia juga berhasil menjatuhkan kerajaan Persia, yang pada saat itu merupakan salah satu kerajaan terkuat di dunia. Dengan demikian, Umar bin Khattab telah berhasil memperluas pengaruh pemerintahannya di seluruh dunia. Karena kepemimpinan yang ditunjukkan oleh Umar bin Khattab, ia dikenal sebagai salah satu pemimpin terbaik dalam sejarah Islam. Ia juga dikenal sebagai pemimpin yang adil, jujur, dan tulus. Keberhasilan Umar bin Khattab dalam menjalankan pemerintahan telah membuatnya dihormati dan dipuja oleh para sahabat Nabi Muhammad SAW dan juga masyarakat Arab pada saat itu. Oleh karena itu, proses pemilihan Umar bin Khattab sebagai Khalifah memiliki peran yang sangat penting dalam sejarah Islam. Proses pemilihan Umar bin Khattab sebagai Khalifah ini menandakan bahwa pemerintahan Islam telah berkembang dan berhasil menaklukkan beberapa wilayah di sekitar Madinah. Ia juga telah berhasil memperkuat ekonomi dan meningkatkan kualitas pemerintahan yang lebih baik. 2. Umat Islam mengadakan rapat untuk memilih pemimpin baru setelah Abu Bakar meninggal. Setelah Abu Bakar meninggal, tindakan yang diambil oleh Umat Islam adalah mengadakan rapat untuk memilih pemimpin baru. Rapat ini diselenggarakan di sebuah masjid di Madinah. Pada rapat ini, Ali bin Abi Thalib diwakili oleh Syu’bah bin Raafi’, dan Umar bin Khattab diwakili oleh Abu Ubaidah bin Al-Jarrah. Rapat ini diselenggarakan untuk menentukan siapa yang akan menjadi Khalifah berikutnya. Pada rapat ini, Ali bin Abi Thalib mengungkapkan pendapatnya bahwa ia layak menjadi Khalifah, tetapi beberapa orang yang hadir tidak setuju dengan pandangannya. Beberapa sahabat Nabi Muhammad SAW juga menyatakan bahwa Umar bin Khattab mungkin lebih tepat untuk memimpin Umat Islam. Mereka mengutip hadits yang diriwayatkan dari Nabi SAW, yang menyatakan bahwa “Umar adalah petunjuk.” Setelah mendengarkan pandangan dari Ali bin Abi Thalib dan sahabat Nabi SAW, para hadirin akhirnya memutuskan bahwa Umar bin Khattab adalah yang terbaik untuk menjadi Khalifah berikutnya. Hal ini dikonfirmasi oleh Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, yang merupakan perwakilan Umar bin Khattab di rapat tersebut. Setelah itu, para hadirin memutuskan untuk mengumumkan secara resmi Umar bin Khattab sebagai Khalifah. Keputusan para hadirin untuk mengumumkan Umar bin Khattab sebagai Khalifah ini membuktikan kesetiaan dan pengakuan Umat Islam terhadap kepemimpinan Umar. Sejak saat itu, Umar bin Khattab memimpin Umat Islam dengan keteladan dan keadilan sampai kematiannya. Pemilihan Umar bin Khattab sebagai Khalifah ini membuktikan bahwa Umat Islam sangat menghormati dan memiliki kepercayaan yang kuat terhadap kepemimpinannya. 3. Umar bin Khattab menyatakan bahwa ia tidak akan menerima kepemimpinan jika tidak ada yang menyukainya. Kepemimpinan Umar bin Khattab sebagai Khalifah adalah salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam. Proses pemilihan Umar bin Khattab sebagai Khalifah dimulai saat kematian Nabi Muhammad SAW. Saat itu, umat Islam sangat bingung tentang siapa yang akan menjadi penggantinya. Pertama, para sahabat Nabi Muhammad SAW berkumpul untuk berdiskusi tentang siapa yang akan menggantikan Nabi Muhammad SAW. Mereka menyadari bahwa mereka harus memilih seseorang yang tidak hanya mampu menyelesaikan tugas-tugas keras yang dihadapi oleh umat Islam, tetapi juga dapat memimpin umat Islam dengan baik dan benar. Setelah banyak diskusi, nama Umar bin Khattab disebutkan sebagai salah satu kandidat yang potensial untuk menggantikan Nabi Muhammad SAW. Umar bin Khattab adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad yang memiliki banyak pengalaman dan keahlian. Ia juga dikenal sebagai orang yang tegas dan berani. Ketika Umar bin Khattab diberi tawaran untuk menjadi Khalifah, ia menolaknya dengan tegas. Ia menyatakan bahwa ia tidak akan menerima kepemimpinan jika tidak ada yang menyukainya. Ia juga menyatakan bahwa ia tidak akan menerima kepemimpinan jika tidak ada yang mengakui bahwa kepemimpinannya akan lebih baik daripada yang lain. Akhirnya, para sahabat Nabi Muhammad SAW memutuskan untuk meminta bantuan orang lain untuk mendukung kepemimpinan Umar bin Khattab. Mereka meminta bantuan Abu Bakr, yang merupakan sahabat Nabi Muhammad yang paling dekat dengannya. Abu Bakr meminta kepada Umar bin Khattab untuk menerima jabatan tersebut sebagai Khalifah. Umar bin Khattab pun akhirnya menerima. Ia diangkat sebagai khalifah dan memerintah umat Islam selama 10 tahun. Sejak saat itu, Umar bin Khattab memiliki banyak pengaruh dan reputasi yang baik di kalangan umat Islam. Ia juga menyumbangkan banyak usaha untuk memajukan agama dan membantu umat Islam. Dari sini, dapat disimpulkan bahwa proses pemilihan Umar bin Khattab sebagai Khalifah adalah proses yang panjang dan rumit. Para sahabat Nabi Muhammad SAW harus berdiskusi untuk memilih orang yang tepat untuk menggantikan Nabi Muhammad SAW. Umar bin Khattab sendiri menyatakan bahwa ia tidak akan menerima kepemimpinan jika tidak ada yang menyukainya. Akhirnya, ia menerima kepemimpinan setelah mendapatkan dukungan dari Abu Bakr. 4. Para sahabat Nabi Muhammad pun punya kesepakatan untuk mengumumkan Umar bin Khattab sebagai Khalifah. Pemilihan Umar bin Khattab sebagai Khalifah merupakan proses yang panjang dan kompleks. Ini dimulai setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, yang menyebabkan para sahabatnya diharuskan untuk menentukan seorang pemimpin baru. Para sahabat Nabi Muhammad SAW sepakat untuk memilih Umar bin Khattab sebagai Khalifah, yang akan mengatur kehidupan umat Islam. Proses pemilihan Umar bin Khattab sebagai Khalifah dimulai dengan para sahabat Nabi Muhammad mengundang para pemimpin muslim untuk berkumpul di Masjid saat itu. Di sana, mereka mengadakan diskusi tentang siapa yang akan menggantikan Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin umat Islam. Diskusi ini berlangsung lama, dan pada akhirnya mereka sepakat untuk mengumumkan Umar bin Khattab sebagai Khalifah. Para sahabat Nabi Muhammad SAW punya kesepakatan untuk mengumumkan Umar bin Khattab sebagai Khalifah karena Umar bin Khattab memiliki kualitas yang dibutuhkan untuk menjadi pemimpin umat Islam. Umar bin Khattab telah menunjukkan kepemimpinannya selama berada di samping Nabi Muhammad SAW. Dia memiliki kepribadian yang kuat, tegas, dan berani, yang dianggap cocok untuk menjadi Khalifah. Selain itu, para sahabat Nabi Muhammad SAW merasa bahwa Umar bin Khattab adalah orang yang ideal untuk menggantikan Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin umat Islam. Umar bin Khattab memiliki pemahaman yang dalam tentang ajaran Islam, dan dia juga telah membuktikan komitmennya terhadap ajaran Islam. Dia juga dianggap sebagai orang yang ideal untuk mewakili umat Islam di hadapan para pemimpin lain dari agama lain. Setelah para sahabat Nabi Muhammad SAW mencapai kesepakatan, Umar bin Khattab pun dipilih sebagai Khalifah. Umar bin Khattab ditetapkan sebagai Khalifah di Masjid di Madinah dan diterima sebagai pemimpin umat Islam. Dia mengatur kehidupan umat Islam sampai ia wafat pada tahun 644 M. Umar bin Khattab telah memberikan sumbangan yang besar terhadap kehidupan umat Islam, dan ia masih dihormati sebagai salah satu pemimpin terbaik Islam hingga sekarang. 5. Umar bin Khattab melakukan banyak hal untuk memperkuat pemerintahannya, seperti memperkenalkan peraturan baru, memperkuat posisi politik dan ekonomi Islam. Pemilihan Umar bin Khattab sebagai Khalifah merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam. Umar adalah salah satu dari sahabat Nabi Muhammad SAW yang diangkat menjadi Khalifah pada tahun 634 Masehi. Setelah kematian Nabi Muhammad, para sahabat berselisih paham tentang siapa yang harus menggantikannya. Akhirnya, pada saat yang sama para sahabat secara bersama-sama menyepakati Umar sebagai Khalifah berikutnya. Umar bin Khattab memiliki beberapa keunggulan dan kemampuan yang luar biasa. Ia adalah seorang pemimpin yang tegas, berwibawa, dan bijaksana. Selain itu, ia juga sangat kuat secara fisik dan bersedia untuk menghadapi setiap cabang yang menentang pemerintahannya. Ia juga memiliki keterampilan strategi yang tajam. Sebagai Khalifah, ia juga berhasil memperluas wilayah pemerintahan Islam dan membangun pemerintahan yang kuat. Selain itu, Umar bin Khattab juga memperkenalkan beberapa peraturan baru untuk memperkuat pemerintahannya. Salah satu peraturan baru yang dibuatnya adalah peraturan tentang pajak. Ia menciptakan sistem pajak yang lebih adil dan berlaku untuk semua warga. Ia juga memperkenalkan beberapa hukuman untuk melawan tindakan kriminal, seperti pencucian uang, pencurian, dan penipuan. Selain itu, Umar bin Khattab juga berusaha memperkuat posisi politik dan ekonomi Islam. Ia menciptakan sistem moneter yang lebih baik dan juga menciptakan sistem keuangan yang lebih kuat. Ia juga meningkatkan kebijakan pengelolaan sumber daya alam dan menciptakan sistem perdagangan yang lebih aman. Kesimpulannya, Umar bin Khattab memiliki banyak keunggulan dan kemampuan yang luar biasa. Ia berusaha keras untuk memperkuat pemerintahannya dengan cara memperkenalkan peraturan baru, memperkuat posisi politik dan ekonomi Islam, serta memberikan perlindungan yang lebih baik kepada rakyatnya. Dengan cara yang ia lakukan, Umar berhasil menjadikan pemerintahannya menjadi lebih kuat dan teguh. 6. Keberanian dan ketegasan Umar bin Khattab dalam mempertahankan pendapatnya membuat para sahabat Nabi Muhammad memberikan pengakuan atas kepemimpinannya. Pemilihan Umar bin Khattab sebagai Khalifah merupakan salah satu momen penting dalam sejarah Islam. Umar bin Khattab adalah salah satu dari para sahabat Nabi Muhammad yang memiliki banyak kualitas. Salah satu dari kualitasnya yang paling dihargai ialah keberanian dan ketegasannya dalam mempertahankan pendapatnya. Hal ini membuat para sahabat Nabi Muhammad mengakui kepemimpinannya dan menjadikannya sebagai Khalifah. Pemilihan Umar bin Khattab sebagai Khalifah dimulai ketika Nabi Muhammad wafat pada tahun 632 Masehi. Pada saat itu, tidak ada pemimpin yang ditunjuk untuk menggantikan Nabi Muhammad. Para sahabat Nabi Muhammad berdebat tentang siapa yang harus mengambil alih kepemimpinan suci ini. Akhirnya, para sahabat Nabi Muhammad memutuskan untuk mengambil Umar bin Khattab sebagai Khalifah setelah mereka menyadari betapa hebatnya kualitasnya. Umar bin Khattab diakui oleh para sahabat Nabi Muhammad sebagai pemimpin yang sangat berdaya tahan. Dia memiliki keberanian untuk menegakkan hukum dan menegaskan kebenaran. Dia juga memiliki kesetiaan yang luar biasa terhadap agamanya. Hal ini membuat para sahabat Nabi Muhammad merasa nyaman dengan kepemimpinannya dan yakin bahwa dia dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Keberanian dan ketegasan Umar bin Khattab dalam mempertahankan pendapatnya membuat para sahabat Nabi Muhammad memberikan pengakuan atas kepemimpinannya. Mereka menghargai kesetiaan dan dedikasinya terhadap agama dan kepemimpinannya. Hal ini membuat para sahabat Nabi Muhammad yakin bahwa Umar bin Khattab adalah orang yang tepat untuk menggantikan Nabi Muhammad sebagai Khalifah. Ketika Umar bin Khattab diangkat menjadi Khalifah, ia menunjukan komitmennya untuk melayani umat Islam dan membawa perubahan yang positif. Dia memiliki visi untuk menciptakan masyarakat yang bersih dan sejahtera. Dia juga memperluas wilayah kekuasaan Islam dan memajukan negara Islam. Hal ini membuktikan bahwa Umar bin Khattab adalah pemimpin yang kuat dan berwibawa. Kesimpulannya, keberanian dan ketegasan Umar bin Khattab dalam mempertahankan pendapatnya membuat para sahabat Nabi Muhammad memberikan pengakuan atas kepemimpinannya. Hal ini menjadi alasan utama para sahabat Nabi Muhammad untuk mengangkat Umar bin Khattab sebagai Khalifah. Dengan kepemimpinannya, ia membawa perubahan yang positif bagi masyarakat Islam dan mengembangkan wilayah kekuasaan Islam. 7. Kepemimpinan Umar bin Khattab membuktikan kepribadian dan kualitasnya sebagai pemimpin. Umar bin Khattab adalah salah satu khalifah terbesar dalam sejarah Islam. Ia adalah khalifah kedua setelah Nabi Muhammad SAW dan menjadi pemimpin yang dihormati selama masa pemerintahannya. Pemilihan Umar sebagai khalifah dimulai setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW pada 632 M. Selama masa kekhalifahan Umar, berbagai perubahan besar terjadi di bawah kepemimpinannya. Ia membawa pembagian wilayah yang lebih teratur dan memperluas wilayah Islam. Proses pemilihan Umar bin Khattab sebagai khalifah dimulai ketika Nabi Muhammad SAW meninggal. Saat itu, Abu Bakr, sahabat dan menantu Nabi Muhammad SAW, diangkat menjadi khalifah pertama Islam. Abu Bakr menggunakan hak suara untuk memilih Umar sebagai khalifah kedua setelah dirinya. Setelah itu, Umar bin Khattab dipilih sebagai khalifah berdasarkan suara orang-orang yang hadir dalam proses pemilihan. Di antara mereka adalah sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW, para pejabat, dan para pembesar. Suara setiap pemilih diperhitungkan dan Umar bin Khattab akhirnya dipilih sebagai khalifah. Kepemimpinan Umar bin Khattab membuktikan kepribadian dan kualitasnya sebagai pemimpin. Ia adalah sosok yang tangguh, tegas, dan berani. Ia adalah sosok yang mengutamakan keadilan dan memberikan perlindungan kepada rakyatnya. Ia juga menghargai kontribusi yang telah diberikan oleh para pengikut Nabi Muhammad SAW. Kepemimpinan Umar bin Khattab juga memberikan banyak contoh kepada umat Islam. Ia adalah sosok yang berdedikasi dan menjadi teladan dengan cara hidupnya. Ia menciptakan berbagai peraturan baru yang bertujuan untuk meningkatkan kesetaraan dan kesejahteraan rakyatnya. Ia juga memungkinkan perdagangan antar negara dan menciptakan sistem keuangan yang baik. Kepemimpinan Umar bin Khattab juga dikenal karena kepemimpinannya dalam ekspansi wilayah Islam. Ia memperluas wilayah Islam ke beberapa negara dan meningkatkan ekonomi, sosial, dan politik wilayah tersebut. Ia juga mengenalkan berbagai konsep baru dan memastikan bahwa hukum Islam diikuti dengan ketat. Kepemimpinan Umar bin Khattab telah menjadi salah satu contoh terbaik bagi umat Islam. Ia menunjukkan bahwa ia adalah seorang pemimpin yang bijaksana dan berdedikasi. Ia membuktikan bahwa ia dapat memimpin dengan baik dengan mengikuti nilai-nilai keadilan dan keadilan. Dengan demikian, pemilihan Umar bin Khattab sebagai khalifah telah membuktikan bahwa ia memiliki kualitas dan pribadi yang luar biasa sebagai seorang pemimpin. 8. Pemilihan Umar bin Khattab sebagai Khalifah menjadi penting dalam sejarah Islam karena ia memiliki kualitas yang diperlukan untuk menjadi pemimpin yang baik. Pemilihan Umar bin Khattab sebagai Khalifah merupakan peristiwa penting dalam sejarah Islam. Pada tahun 632 M, Nabi Muhammad SAW wafat, meninggalkan kekosongan di tengah-tengah masyarakat Muslim yang sedang berkembang. Setelah berbagai diskusi dan perdebatan, khalifah pertama Islam, Abu Bakr, dipilih sebagai pengganti Nabi Muhammad SAW dan menjadi Imam pertama dalam Islam. Setelah Abu Bakr, ia dipilih untuk menjadi khalifah berikutnya, dan ia memilih Umar bin Khattab sebagai penerusnya. Pemilihan Umar bin Khattab sebagai khalifah adalah langkah yang tepat karena ia memiliki kemampuan yang diperlukan untuk menjadi pemimpin yang baik. Umar bin Khattab adalah seorang yang berani dan tegas, yang memiliki kemampuan untuk menghadapi berbagai masalah yang dihadapi oleh komunitas Muslim. Selain itu, ia juga memiliki kemampuan untuk membuat keputusan yang tepat dan berdaya saing. Ia sangat berdedikasi terhadap agama Islam dan berupaya untuk mengembangkan dan melestarikan nilai-nilai yang dianutnya. Umar bin Khattab juga memiliki kemampuan untuk memimpin orang-orang yang berbeda dan menangani berbagai konflik yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Ia memiliki kemampuan untuk memahami persoalan dari sudut pandang yang berbeda dan menemukan solusi yang terbaik untuk masalah tersebut. Ia juga dikenal sebagai seorang yang tulus dan adil, meskipun ia sering kritis dan keras dalam berbicara. Ia juga dikenal sebagai seorang yang bijaksana dan berpengalaman, yang memiliki kemampuan untuk membuat keputusan yang tepat dalam situasi yang sulit. Selain itu, Umar bin Khattab juga memiliki kemampuan untuk mengatur dan mengelola pemerintahan, membangun ekonomi dan mengembangkan teknologi. Ia juga berupaya untuk melakukan pengembangan agama Islam dan mempromosikan nilai-nilai yang dianutnya. Ia juga melakukan penyebaran agama Islam ke seluruh dunia, dengan mengirim pasukan militer untuk menyerang wilayah-wilayah yang jauh. Karena semua kualitas ini, Umar bin Khattab dipilih sebagai khalifah setelah Abu Bakr. Pemilihan Umar bin Khattab sebagai Khalifah menjadi penting dalam sejarah Islam karena ia memiliki kualitas yang diperlukan untuk menjadi pemimpin yang baik. Ia memiliki kemampuan untuk menghadapi berbagai masalah yang dihadapi oleh komunitas Muslim, membuat keputusan yang tepat dan berdaya saing, serta membangun ekonomi dan mengembangkan teknologi. Selain itu, ia juga berupaya untuk melakukan pengembangan agama Islam dan mempromosikan nilai-nilai yang dianutnya. Oleh karena itu, pemilihan Umar bin Khattab sebagai Khalifah merupakan peristiwa penting dalam sejarah Islam. Jawabpake cara yajangan ngasal Mapel Matematika, Jenjang Sekolah Menengah Pertama (Edit) Kali ini pasti bener ya kak.. * volume tabung 1 volume = πr²t volume = 3,14 x 7,5² x 5 volume = 883,125 cm³ volume tabung 2 volume = πr²t volume = 3,14 × 6² × 8 volume = 904,32 cm³ * volume - Umar bin Khattab merupakan Khulafaur Rasyidin kedua, yang memimpin setelah Abu Bakar. Pada masa kepemimpinannya, umat Islam muncul sebagai kekuatan baru di wilayah Timur Tengah. Umar bin Khattab menjadi khalifah selama sepuluh tahun, yakni antara 634 hingga tahun resmi menjadi Khulafaur Rasyidin kedua menggantikan Khalifah Abu Bakar, yang meninggal pada 634. Berikut ini proses terpilihnya Umar bin Khattab menjadi Khalifah Khulafaur Rasyidin. Baca juga Umar bin Khattab, Sahabat yang Pernah Berniat Membunuh RasulullahTerpilih berdasarkan wasiat Abu Bakar Setelah wafatnya Nabi Muhammad pada 632, Abu Bakar resmi menjadi khalifah umat Islam saat itu. Ketika Abu Bakar menjadi Khulafaur Rasyidin pertama, Umar bin Khattab berperan sebagai penasihat kepala. Begitu Abu Bakar meninggal, Umar ditunjuk untuk menggantikan posisinya menjadi Khulafaur Rasyidin kedua. Ditunjuknya Umar sebagai khalifah kedua merupakan peristiwa yang sangat penting dalam sejarah Islam. Dalam riwayat, disebutkan bahwa Umar diangkat menjadi khalifah pada Jumadilakhir bulan keenam tahun 13 Hijriah.Umar bin Khattab merupakan salah satu Khulafaur Rasyidin dan juga sahabat utama Nabi Muhammad SAW. Ia pun menjadi salah satu dari sepuluh sahabat Nabi Muhammad SAW yang dijamin masuk surga. Umar pernah menjabat sebagai Khalifah pada tahun 634-644, setelah meninggalnya Abu Bakar. Pada masa kepemimpinan Umar, umat Islam menjadi salah
Umar Bin Khatab adalah salah satu teladan bagi umat muslim. Sebelum Khalifah kedua ini wafat, ia telah menunjuk formatur untuk pemilihan khalifah penggantinya. Siapa sajakah mereka dan bagaimana cara penunjukannya? Mari kita Berita Islami – Pemimpin yang baik tentu memiliki kekhawatiran tentang siapa yang akan menggantikannya melindungi rakyat. Pembuatan sistem baru, untuk pemilihan khalifah selanjutnya mulai memiliki formatur terbaiknya. Formatur itu telah dibuat oleh Umar Bin Khatab menjelang Ulfiana Berita IslamiUmar Bin Khatab begitu terkenal di kalangan umat muslim. Ia adalah khalifah kedua setelah Abu Bakar. Umar terkenal akan kesederhanaannya sebagai tampak luar ia begitu keras, namun hatinya begitu lembut. Sering ia menangis karena mendengar ayat-ayat allah. ia keras dengan kaum kafir, namun lembut dengan kaum muslim. Ia juga bersikap begitu lembut pada Rasulullah SAW masih hidup, Umar menjadi pembela islam nomor satu. Ia adalah orang terdepan dalam membela islam. Daftar IsiKeteladanan Umar Bin KhattabUmar Bin Khatab Sangat PemberaniKesederhanaan KhalifahUmar Bin Khatab AdilUmar Gemar BermusyawarahKenapa Umar Disebut Singa Padang PasirKeberanian Umar Bin Khatab BerhijrahSiapa Yang Membunuh Umar Bin Khattab, Bagaimana Cara dan Alasannya?Kronologi Wafatnya umarAlasan PenusukanSistem Formatur Pemilihan Khalifah Usman Bin Affan Pasca Umar Bin KhattabPemilihan 6 Formatur Unggulan Khalifah Umar Bin KhatabSistem Pemilihan Khalifah Dari Para FormaturProses Pemilihan Formatur Terbaik KhalifahPesan Akhir Umar Bin Khattab Sebelum Wafat Tentang Formaturnya dalam Pemilihan KhalifahProfil Singkat Sahabat Yang Menjadi Formatur Pemilihan Khalifah Pasca UmarAli Bin Abi ThalibAbdurrahman Bin AufSa'ad Bin Abi WaqqasUtsman Bin AffanZubair Bin AwwamThalhah Bin UbaidillahKeteladanan Umar Bin KhattabSangat banyak sifat terpuji dari Umar Bin Khatab yang bisa kita teladani. Diantaranya adalahUmar Bin Khatab Sangat PemberaniUmar adalah seorang yang memiliki keberanian tinggi. Ketika ia telah yakin dengan sesuatu, ia akan membela sesuatu itu tanpa ada rasa takut sedikitpun. Sifat itu telah ada padanya sejak ia menjadi pemimpin kaum Quraisy, hingga akhirnya menjadi khalifah yang Umar miliki, juga menjadi salah satu pertimbangan Rasulullah untuk mendoakan hidayah pada dua Umar. Dua Umar itu adalah Amr Bin Hisyam dan Umar Bin masuknya Umar ke islam, penyebaran islam menjadi lebih mudah ketika sebelumnya secara KhalifahMeskpun Umar telah menjadi khalifah, Umar tetap hidup dalam kesederhanaan. Ia tidak belebih-lebihan dalam harta. Ia bersama keluarganya tetap mendiami rumahnya dan tidak tinggal di gedung yang kasur yang empuk, Umar memilih tidur menggunakan pelepah kurma sama seperti Rasulullah. Ketika bangun, pelepah itu akan membekas di punggungnya yang sederhananya ia, sampai-sampai ketika ada utusan dari kerajaan lain, ia sedang tidur di bawah pohon kurma tanpa alas. Ia juga tidak memakai pakaian kebesaran seperti pemimpin kerajaan utusan itu, tidak menyangka bahwa Umar adalah seorang Bin Khatab AdilUmar adalah seorang yang adil. Ia adalah sosok yang tidak membeda-bedakan antara rakyatnya dengan keluarganya sendiri. Jika salah satu dari mereka melakukan kesalahan, maka ia akan menghukum dengan jika keluarganya sendiri berbuat salah, hukumannya justru lebih berat dari yang lain. Umar juga adil dalam memberikan ghanimah maupun harta dari baitul Umar adalah tokoh yang bisa menerapkan keadilan murni tanpa Gemar BermusyawarahIa tidak pernah merasa lebih tinggi dari rakyatnya. Baginya, rakyatnya adalah guru yang akan menunjukannya pada sebabnya ketika akan memberikan sebuah kebijakan, Umar selalu meminta pendapat kepada para Umar Disebut Singa Padang PasirUmar bin Khattab Foto memiliki julukan Asadullah atau singa padang pasir. Julukan ini tersematkan pada Umar karena ketegasan, keberanian, serat kegarangan sampai-sampai setan takut kepada Umar. Rasulullah pernah berkata bahwa jika Umar berjalan, setan yang bertemu dengannya akan mencari jalan lain yang tidak Umar berperang melawan pasukan quraisy di padang pasir, Umar tampil gagah berani. Ia tidak memiliki ketakutan sedikitpun seperti seekor singa di padang kafir qurasy juga menyeganinya. Mereka tau Umar Bin Khatab sangat kuat dan keras, ditambah pula ia adalah seorang yang pemberani dan tak takut Umar Bin Khatab BerhijrahKetika Ia akan hijrah ke Yastrib, ia tidak menyembunyikan kabar hijrahnya. Berbeda dengan kaum muslimin lain yang berhijrah secara sembunyi-sembunyi, ia justru menantang orang yang ingin menghalanginya. Ia berteriak menantang“Barang siapa yang mau anaknya jadi yatim, istrinya jadi janda, orang tuanya kehilangan anak, silahkan temui aku di lembah belakang kota.”Tentu tak ada yang berani menghalangi Umar Bin Khatab Yang Membunuh Umar Bin Khattab, Bagaimana Cara dan Alasannya?Orang itu adalah Fairuz atau lebih terkenal dengan nama Abu Lu’ Wafatnya umarKetika itu subuh tanggal 26 Dzulhijah tahun 23 H. Umar Bin Khatab berdiri menjadi imam shalat. Sama seperti bisa, sebelum sholat ia melihat jamaahnya. Ia berjalan di sela-sela shaf dan mengatakan “luruskan shafnya!”.Ketika barisan telah rapat dan lurus, Umar Bin Khatab mulai kembali ke tempatnya dan membaca takbir. Saat itu mungkin surat yang ia baca adalah surat Yusuf atau An Nahl menurut Umar bin Umar Bin Khatab bertakbir selanjutnya, ia mendapati sebuah belati telah menikamnya. Sebanyak 6 kali tusukan melayang ke tubuh Umar, salah satunya pada panggulnya. Jamaah shalatpun berteriak terkapar dan tersungkur berlumuran lu’luah, budak dari persia itu menusuk Umar Bin Khatab ketika menjadi imam shalat. Ia lari membawa pisau belati bermata sholat ia tembus sambil menikamkan belatinya ke jamaah lain. Ke kanan dan ke kiri hingga ada 13 orang yang terkena satu dari jamaah yang melihat itu, melemparkan burnusnya untuk menangkap abu lu’luah. Kesadarannya sampai di titik ia tak mungkin bisa lolos. Ketika ia begitu yakin akan tertangkap, belati tersebut ia tikamkan kepada dirinya sendiri. Hingga, akhirnya langsung dibawa ke dalam rumah. Ia kemudian bertanya, siapa yang menusuknya. Ketika tau bahwa yang membunuhnya adalah seorang majusi bukan muslim, ia semua orang mengira Umar akan sembuh. Namun, pandangan itu berubah ketika Umar minum ramuan dari tabib, ramuan itu keluar melalui tidak menunjuk siapa penggantinya, ia hanya menyebutkan kandidat yang akan memutuskan siapa penggantinya. Kemudian, meminta Abdullah bin Umar untuk meminta izin pada menyampaikan, ayahnya ingin bisa dimakamkan di dekat Rasulullah dan Abu Bakar. Aisyah pun berdarah itu menelan 7 korban yang meninggal dunia. Termasuk salah satunya adalah Umar bin PenusukanAbu Lu’luah adalah budak dari Al Mughirah bin Syubah. Ia adalah seorang majusi dari persia. Menurut beberapa riwayat, ia begitu dendam pada Umar yang berhasil menaklukan persia, tanah tidak terima orang arab yang begitu sederhana berhasil menaklukan Persianya yang begitu juga beritaku Khalifah UmarSistem Formatur Pemilihan Khalifah Usman Bin Affan Pasca Umar Bin KhattabSebelum meninggal, Umar telah menyiapkan formatur penggantinya untuk berdiskusi dalam pemilihan khalifah selanjutnya. Ia hanya berkaca dengan situasi ketika Rasulullah itu terjadi kebingungan diantara umat muslim dalam menentukan pemimpin. Hampir-hampir mereka terpecah untuk mendukung sebabnya menjelang wafatnya, Umar menunjuk 6 sahabat yang ia rasa pantas untuk menjadi 6 Formatur Unggulan Khalifah Umar Bin KhatabUmar berharap, adanya 6 orang yang merupakan sahabat unggulan ini, mampu memilih pemimpin diantara mereka adalah– Ali Bin Abi Thalib.– Abdurrahman Bin Auf.– Sa’ad Bin Abi Waqqas.– Utsman Bin Affan.– Zubair Bin Awwam.– Thalhah Bin ketika putusan mulai berlangsung, Thalhah berada di luar Madinah. Akhirnya, pemilihan itu hanya jatuh pada 5 orang yang Pemilihan Khalifah Dari Para FormaturMereka akan menunjuk salah seorang diantara mereka untuk menjadi khalifah selanjutnya dengan tidak terjadi keributan yang menyebabkan proses pemilihan berhenti, Umar memerintahkan mereka untuk bersepakat dengan suara yang bulat dalam perlu, ia menambahkan anaknya, Abdullah Bin Umar untuk ikut dalam pemilihan jika terjadi kebuntuan. Syaratnya, Abdullah Bin Umar tidak boleh Pemilihan Formatur Terbaik KhalifahKetika terjadi proses pemilihan, Zubair menarik diri. Ia memilih untuk mendukung Ali Bin Abi Thalib. Sa’ad Bin Abi Waqas memilih Utsman Bin tersisa Abdurrahman Bin Auf untuk menjadi penentu. Abdurrahman Bin Auf kemudian mengajukan pertanyaan kepada dua calon khalifah secara sederhana, apakah mereka akan mengikuti jejak dari khalifah-khalifah menjawab, ia akan mengikuti Quran dan sunnah Rasulullah SAW. Sedangkan Utsman Bin Affan mengiyakan, tanpa ada jawaban kedua jawaban yang cukup berbeda itu, Abdurrahman Bin Auf memutuskan untuk memilih Utsman Bin Utsman Bin Affan menggantikan Umar Bin Khatab untuk memegang kepemimpinan khalifah Akhir Umar Bin Khattab Sebelum Wafat Tentang Formaturnya dalam Pemilihan KhalifahKetika sedang menyiapkan musyawarah calon penggantinya, Umar berkataWahai kaum muhajirin! Sesungguhnya rasulullah saw telah wafat, dan beliau menyukai kalian sebab itu, aku telah memutuskan untuk menjadikan kalian dalam pemilihan khalifah dengan musyawarah. Agar, kalian bisa memilih salah satu dari kalian untuk menjadi lima orang dari kalian menyetujui satu orang, dan ada satu orang yang menentang, maka bunuhlah orang itu. Jika ada 4 orang berada di satu sisi dan 2 orang disisi lainnya, maka bunuhlah dua orang jika ada tiga orang di satu sisi dan tiga orang disisi lainnya, maka abdullah bin Umar akan punya hak suara sehingga khalifah selanjutnya akan ia pilih. Dalam hal ini bunuhlah, tiga orang yang berlawanan kalian semua mau, kalian bisa mengundang beberapa orang penting dari kaum anshar sebagai pengamat. Tapi, khalifah harus salah satu dari kaum muhajirin, dan tidak salah satu dari kaum tidak mendapatkan bagian dari khliafat itu. Pemilihan ini harus kalian lakukan dalam waktu tiga Singkat Sahabat Yang Menjadi Formatur Pemilihan Khalifah Pasca UmarProfil para sahabat di masa Umar bin Khattab Foto ini adalah profil singkat dari para sahabat yang menjadi kandidat pemilihan khalifah Bin Abi ThalibAli Bin Abi Thalib adalah sepupu sekaligus menantu Rasulullah. Sosoknya cerdas dan bijaksana. Kecerdasannya itu membuatnya menjadi rujukan para sahabat nabi lain ketika Rasulullah telah berperan besar dalam dakwah islam terutama masa awal-awal penyebaran islam. Ia masuk islam ketika usianya masih sangat adalah orang terdepan ketika berada dalam peperangan. Tubuhnya kuat dan fikirannya cerdas. Itu salah satu yang membuatnya layak menjadi calon juga beritaku Ali Bin Abi ThalibAbdurrahman Bin AufAbdurrahman Bin Auf begitu masyhur namanya. Ia adalah seorang yang pandai berdagang dan memiliki banyak harta. Selain itu, sosoknya cerdas dan Bin Auf adalah seorang yang termasuk As Sabiqunal Awwalun. Itu adalah julukan bagi 8 orang yang pertama-tama masuk itu juga menjelaskan keistimewaan kedudukannya di hadapan Rasulullah SAW. Ia juga termasuk sebagai salah seorang dari 10 orang yang dijamin masuk Bin Abi WaqqasSaad Bin Abi Waqash adalah salah satu dari 10 sahabat nabi yang dijamin masuk surga. Ia berasal dari Bani akan kecerdasannya, membuatnya masuk dalam agama islam saat umurnya 20 tahun. Imannya begitu teguh ketika ibunya meminta untuk kembali ke agama juga terkenal sebagai orang pertama yang menumpahkan darah kaum kafir. Ia memukulkan tulang unta pada seorang Quraisy yang mengejeknya saat Bin AffanUtsman Bin Affan adalah salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang utama. Rasulullah SAW menikahkan kedua putrinya dengan Utsman. Itu sebabnya, ia mendapat julukan Dzun Nurrain atau pemilik dua terkenal akan kelembutan dan kedermawanannya. Ia adalah orang kaya diantara penduduk Mekah lain. Ia telah mewakafkan banyak hartanya di jalan Allah itu, pribadinya begitu pemalu, sampai-sampai malaikat juga malu pada juga beritaku Utsman bin AffanZubair Bin AwwamZubair bin Awwam adalah seorang yang termasuk 10 orang pertama yang masuk islam. Ia juga termasuk salah seorang sahabat nabi yang dijamin masuk bin Awwam begitu teguh dalam keislamannya. Pernah suatu kali pamannya memasukkannya dalam karung dan membakarnya, ia tetap tidak meninggalkan agamanya. Pribadinya juga begitu kuat dan membuatnya sering ikut dalam Bin Ubaidillah Sahabat nabi ini adalah yang termasuk dalam 10 orang yang dijamin masuk Thalhah begitu terkenal. Ketika perang Uhud, tubuhnya menjadi perisai bagi Rasulullah SAW yang tengah terkepung. Jari-jarinya terputus karena menahan panah dengan kisah singkat tentang sahabat nabi. Mulai dari keteladanan khalifah Umar Bin Khatab sampai caranya menunjuk khalifah Bin Khatab memberikan contoh tentang mengedepankan musyawarah dalam memutuskan sebuah hal menunjuk orang yang mulia untuk posisi yang tepat. Sesuatu yang sebenarnya butuh pemimpin saat ini wikipedia, timesindonesia, republika,
Prinsipdemikianlah yang mendasari hidupnya bertoleransi di Tanah Suci itu. Semua bermula dari kesediaan Patriarch Sophronious, pemuka agama Kristen Ortodoks Yerusalem saat itu, untuk memberikan kunci kota kepada Khalifah Umar bin Khattab. Penyerahan kunci tersebut dilakukan tanpa paksaan, melainkan sebagai upaya diplomasi.
Umar bin Khattab adalah pemimpin Islam yang mengenalkan cara pemilihan pemimpin khalifah melalui pengambilan suara terbanyak. Gagasan ini beliau sampaikan pada tahun terakhir kekhilafahan, guna menentukan siapa pemimpin pengganti beliau. Sebetulnya, dalam pandangan pribadi Umar bin Khattab sudah dipetakan dan diperhitungkan siapa yang layak memimpin umat Islam setelah dirinya. Kandidat terkuat ialah Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Tapi, jika beliau mengikuti jejak Abu Bakar dengan cara menunjuk pemimpin penggantinya, maka hal itu sulit dilakukan. Sebab, Utsman maupun Ali adalah dua tokoh kepercayaan Rasulullah untuk mencatat firman-firman Allah. Atas dasar pertimbangan itulah beliau menunjuk tokoh-tokoh di antara sahabat Nabi yaitu Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Talhah bin Ubaid, Zubayr bin al-Uwam, Sa’d bin Abu Wa’i. Umar tidak melibatkan dalam tim formatur itu, Abdurrahman bin Auf. Sebagaimana beliau tidak menunjuk Said bin Zaid bin Amr bin Nafil karena alasan masih sepupu khalifah sendiri. Padahal Said bin Zaid adalah salah satu dari sepuluh yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah. Namun, oleh sahabat yang lain, dimintakan satu perwakilan dari khalifah Umar. Lalu disepakatilah Abdullah bin Umar Dengan catatan ia memiliki hak suara tapi tidak memiliki hak untuk dipilih. Umar bin Khattab berpesan kepada mereka “Aku tidak menerima perintah untuk menunjuk penggantiku baik di waktu hidupku maupun matiku dengan cara berwasiat. Namun yang pasti aku akan mati. Maka untuk kelangsungan masa depan umat Rasulullah Saw, aku kumpulkan kalian untuk menentukan masa depan kalian.” Umar bin Khattab tampaknya sudah memprediksi proses pemilihan khalifah penggantinya akan berlangsung ketat dan alot. Untuk itu, beliau berwasiat agar Suhaib bin Sinan al-Rumi berkenan memimpin shalat jamaah dan berdoa selama tiga hari, sesudah wafat beliau dan sampai ada kesepakatan siapa khalifah pengganti beliau. Ramalan Umar itu terbukti. Sahabat-sahabat yang ditunjuknya membutuhkan waktu tiga hari untuk menyelesaikan tugas memilih khalifah ke-3. Pada hari pertama dan kedua, dari 6 orang yang telah ditunjuk semua hadir, terkecuali Talhah bin Ubaid. Sahabat yang lain sempat ragu dan bertanya-tanya tentang sikap Thalhah. Tapi keragu-raguan itu akhirnya terjawab sesudah Thalhah hadir di tengah-tengah mereka. Mula-mula dari tokoh yang hadir, tiga di antaranya memilih Zubair. Tapi Zubair menolak dan melimpahkan tiga suara yang didapatnya kepada Ali. Menantu Rasulullah yang rendah hati inipun menolak dan melimpahkan suara yang diperolehnya kepada Sa’ad. Tapi lagi-lagi karena ketawadhuan Sa’ad beliau malah “melemparkan” suaranya kepada Abdurrahman bin Auf. Hari pertama rapat menghasilkan keputusan yang belum bulat sebab di antara peserta justru memilih tokoh yang tidak termasuk dalam tim formatur yang telah disepakati. Pada hari kedua, tim formatur menghadap Abdurrahman bin Auf untuk menyampaikan hasil keputusan sementara mereka. Tapi Abdurrahman sendiri ketika dikonfirmasi menolak penunjukan dirinya menjadi khalifah. Beliau justru berkata “Di antara kita yang lebih berhak menjadi khalifah ialah Utsman dan Ali.” Tim formatur tak puas dengan jawaban Abdurrahman. Sa’ad bin Abu Wa’y selaku juru bicara mendesak agar Abdurrahman memilih salah satu di antara dua tokoh Utsman atau Ali. Setelah banyak pertimbangan, akhirnya Abdurrahman memilih Utsman bin Affan. Sekalipun sudah ada penegasan Abdurhman tapi ada yang mempertanyakan bagaimana dengan hak suara Thalhah yang belum juga hadir sampai hari kedua rapat? Untunglah pada hari ketiga Thalhah yang sudah dinanti-nanti hadir dalam forum musyawarah sahabat-sahabat Nabi. Ketika ditanya pilihannya, beliau spontan menjatuhkan pilihan kepada Utsman bin Affan. Dengan demikian, suara terbanyak telah menunjuk Utsman bin Affan sebagai khalifah pengganti Umar bin Khattab. Pemilihan ini diikuti dengan pembaitan yang dilakukan oleh 50 sahabat terkemuka kepada khalifah terpilih. Demikianlah kisah pertamakali pemilihan secara langsung al-khalifatur-rasyidun ke-3 dalam sejarah Islam. Walaupun berjalan alot, tapi demi kepentingan bersama, suksesi kepemimpinan dapat dilakukan secara aman dan damai. Semoga kisah ini memberikan inspirasi bagi umat Islam Indonesia dalam menyalurkan hak suara pada Pemilu sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.
.