SaranaTransportasi Laut Pada dasarnya angkutan antar-pulau diselenggarakan dengan sistem regular maupun non reguler, di mana saat ini hampir separuh dari volume angkutan antar pulau dilakukan oleh kapal-kapal berbendera asing, baik secara langsung maupun dengan status charter.
Jakarta - Buruknya prasarana, sarana, dan Sumber Daya Manusia SDM membuat transportasi laut di Indonesia tidak berkembang. Ketua Komisi V DPR RI Fraksi Partai Amanat Nasional PAN Laurens Bahang Dama menuturkan, Indonesia yang merupakan negara kepulauan, seharusnya bisa dimanfaatkan oleh pemerintah untuk mengembangkan transportasi laut guna meningkatkan perekonomian Indonesia. "Akan tetapi, hal tersebut belum bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh pemerintah," ujarnya dalam Diskusi Masa Depan Transportasi Laut Indonesia Tantangan dan Harapan di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Kamis 28/3. Seharusnya, lanjut Laurens, transportasi laut harus dikedepankan karena sudah tercantum dalam undang-undang. "Dan, sektor transportasi laut ini, bisa jadi berpotensi besar bagi ekonomi kita," tambah dia. Adapun penyebab tidak berkembangnya transportasi laut tersebut dikarenakan masih belum memadainya prasarana seperti kedalaman kolam dermaga yang kurang dalam sehingga kapal-kapal besar tidak bisa bersandar. "Dari sisi sarana, kapal penumpang juga belum memenuhi standar internasional. Harusnya kita sudah bisa meningkatkan ekonomi dari sektor ini dan ini yang harus dipecahkan," pungkasnya. Bila dibandingkan dengan negara tetangga, lanjut Laurens, Indonesia masih terbelakang transportasi lautnya dibandingkan dengan Malaysia dan Singapura. Seharusnya Indonesia memiliki potensi mendapatkan penerimaan devisa sebesar Rp 240 triliun dalam setahun dari sektor transportasi laut. "Nyatanya hal tersebut tidak bisa direalisasikan karena masih ada kapal-kapal asing yang melakukan kegiatan ekspor impor," tuturnya. Laurens menambahkan, untuk mengembangkan transportasi laut perlu asas cabotage sebesar 100% dan 40% eskpor impor share untuk kapal Indonesia. Lalu dibangunnya sebagian besar kapal di Indonesia sehingga menjadikan Indonesia sebagai pusat pelayaran kapal dunia. Sumber Investor Daily Saksikan live streaming program-program BTV di sini DPR Harap Dirjen Anggaran Kemenkeu Ungkap Nama Lain di Kasus Korupsi BTS NASIONAL Cuti Melahirkan 6 Bulan di RUU KIA Ditolak Pengusaha, DPR Beri Solusi Begini NASIONAL Jokowi Diminta Turut Bahas Investasi Saat Kunjungan ke Papua Nugini NASIONAL Oknum Perwira Polri Terlibat Perdagangan Orang, DPR Tindak Tanpa Pandang Bulu NASIONAL Puan Maharani Pastikan DPR Laksanakan Putusan MK Terkait Sistem Pemilu BERSATU KAWAL PEMILU Miris, Banyak Anak SD ke Sekolah Lewati Tepi Jurang NASIONAL
TransportasiLaut, Perahu, Dermaga, Pengembangan Wilayah: Subjek: 700 Kesenian, Hiburan, dan Olahraga > 711 Perencanaan Wilayah Perkotaan dan Pertamanan > 711.7 Perencanaan fasilitas transportasi ditinjau dari segi seni perkotaan: Lembaga/Fakultas/Jurusan: Fakultas Sains dan Teknologi > Perencanaan Wilayah dan Kota: Depositing User: Users 5 not
ArticlePDF AvailableAbstractProvinsi Nusa Tenggara Timur NTT merupakan provinsi kepulauan, dimana transportasi laut sangat vital dan strategis dalam mendukung mobilitas orang dan distribusi barang/ jasa. Adanya transportasi laut yang andal diharapkan dapat lebih mempercepat pembangunan dan pengembangan wilayah tersebut. Transportasi laut hendaknya dapat menghubungkan wilayah tertinggal dengan pusat-pusat pertumbuhan, baik yang berada di dalam Provinsi NTT maupun dengan provinsi lain. Kondisi sarana dan prasarana transportasi laut Provinsi NTT belum sepenuhnya dapat menghubungkan antar wilayah/ pulau yang berada di provinsi tersebut dan dengan wilayah provinsi lain. Tujuan penelitian adalah untuk memberikan rekomendasi pengembangan transportasi laut, sehingga terdapat konektivitas antar pelabuhan yang terdapat di Provinsi NTT dan dengan pelabuhan provinsi lain. Analisis dilakukan secara komprehensif dengan analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian mengemukakan bahwa sebagai upaya pengembangan transportasi laut dalam upaya meningkatkan konektivitas di wilayah Nusa Tenggara timur diperlukan langkah-langkah pengembangan berupa peningkatan jumlah dan volume muatan kapal, penerapan strategi pengembangan jaringan/ trayek, perubahan dan penambahan pada jaringan trayek, penempatan kapal yang sesuai, penambahan frekuensi dan konektivitas, sinkronisasi jadwal angkutan laut, optimalisasi sarana prasarana transportasi yang sudah ada, dan peningkatan sarana/ prasarana pelabuhan. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for freeContent may be subject to copyright. 241Pengembangan Transportasi Laut dalam Upaya Meningkatkan Konektivitas di Wilayah Nusa Tenggara Timur, Syafril. KA, Feronika Sekar PuriningsihPengembangan Transportasi Laut dalam Upaya Meningkatkan Konektivitas di Wilayah Nusa Tenggara TimurSea Transportation Development in Eorts to Improve Connectivity in East Nusa Tenggara TerritorySyafril. KA 1,*, Feronika Sekar Puriningsih 2Badan Penelitian dan Pengembangan PerhubunganJl. Merdeka Timur Nomor 5, Jakarta Pusat 10110E-mail *buyung55 28 Juli 2017, revisi 1 29 Agustus 2017, revisi 2 19 November 2017, disetujui 11 Desember 2017AbstractEast Nusa Tenggara NTT is an archipelagic province, where sea transportation is very vital and strategic for supporting mobility of people and distribution of goods. The existence of reliable sea transportation is expected to accelerate the construction and development of the region further. Sea transportation should be able to connect the remote areas with other growth centers, either located in NTT Province or other provinces. The conditions of sea transport facilities and infrastructure NTT province has not fully connect with other provinces. The research objective was to provide recommendations for the development of sea transport so that there is connectivity between ports located in NTT Province and other provinces to the port. Analysis carried out comprehensively with qualitative descriptive analysis. The results of the study suggestion are increasing number and volume of cargo ships, implement the development strategy of the route, changes and additions to the route network, the deployment of appropriate, increase the frequency and connectivity, synchronization schedule for sea transport, the optimization of transportation infrastructure that already exists, and the improvement of Sea transportation, connectivity, Nusa Tenggara Timur NTT merupakan provinsi kepulauan, dimana transportasi laut sangat vital dan strategis dalam mendukung mobilitas orang dan distribusi barang/ jasa. Adanya transportasi laut yang andal diharapkan dapat lebih mempercepat pembangunan dan pengembangan wilayah tersebut. Transportasi laut hendaknya dapat menghubungkan wilayah tertinggal dengan pusat-pusat pertumbuhan, baik yang berada di dalam Provinsi NTT maupun dengan provinsi lain. Kondisi sarana dan prasarana transportasi laut Provinsi NTT belum sepenuhnya dapat menghubungkan antar wilayah/ pulau yang berada di provinsi tersebut dan dengan wilayah provinsi lain. Tujuan penelitian adalah untuk memberikan rekomendasi pengembangan transportasi laut, sehingga terdapat konektivitas antar pelabuhan yang terdapat di Provinsi NTT dan dengan pelabuhan provinsi lain. Analisis dilakukan secara komprehensif dengan analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian mengemukakan bahwa sebagai upaya pengembangan transportasi laut dalam upaya meningkatkan konektivitas di wilayah Nusa Tenggara timur diperlukan langkah-langkah pengembangan berupa peningkatan jumlah dan volume muatan kapal, penerapan strategi pengembangan jaringan/ trayek, perubahan dan penambahan pada jaringan trayek, penempatan kapal yang sesuai, penambahan frekuensi dan konektivitas, sinkronisasi jadwal angkutan laut, optimalisasi sarana prasarana transportasi yang sudah ada, dan peningkatan sarana/ prasarana pelabuhan. Kata kunci Transportasi laut, konektivitas, Warta Penelitian Perhubungan, Volume 29, Nomor 2, Juli 2017242PendahuluanNusa Tenggara Timur NTT merupakan sebuah provinsi kepulauan terdiri dari lebih-kurang 550 pulau, antara lain Flores, Sumba, Timor, Alor, Lembata, Rote, Sabu, Adonara, Solor, Komodo dan Palue. Ibukota Provinsi NTT adalah Kupang, yang terletak di Timor Barat,Hasil survei Sosial Ekonomi Nasional Badan Pusat Statistik BPS tahun 2010, NTT merupakan 5 provinsi dengan persentase kemiskinan tertinggi di Indonesia 23,03%, setelah 1 Papua Barat 36,80 persen, Papua 34,88 persen, Maluku 27,74 persen, Sulawesi Barat 23,19 persen. Pertumbuhan ekonomi provinsi NTT lebih rendah dari pada rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia. Tingkat inasi yang tinggi mencapai 15%, pengangguran 30%, dan tingkat suku bunga 22-24%.Untuk mengatasi kemiskinan salah satu upayanya adalah dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam yang tersedia, dan distribusi hasilnya perlu didukung oleh infrastruktur yang satu infrastruktur yang dapat mendukung pengentasan kemiskinan adalah sarana dan prasarana transportasi laut. Penyediaan transportasi laut sangat diperlukan untuk menghubungkan suatu daerah tertinggal/ miskin dengan daerah yang lebih maju. Dengan adanya keterhubungan antara daerah maju dengan daerah miskin/ terisolir diharapkan taraf hidup masyarakat dapat meningkat dan kemiskinan dapat berkurang. Ketersediaan prasarana dan sarana transportasi di Provinsi NTT, relatif terbatas, sehingga masih belum mampu melayani luas wilayah dan penduduknya yang tersebar di beberapa pulau. Sedangkan di sisi lain, tuntutan dan permintaan pelayanan angkutan semakin meningkat, terutama untuk daerah yang sudah semakin berkembang dan juga tuntutan keterbukaan isolasi daerah yang terpencil. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan rekomendasi pengembangan transportasi laut, sehingga terdapat konektivitas antar pelabuhan yang terdapat di Provinsi NTT dan dengan pelabuhan provinsi 17/2008 menyatakan bahwa angkutan di perairan adalah kegiatan mengangkut dan/atau memindahkan penumpang dan/atau barang dengan menggunakan kapal. Kegiatan tersebut dapat dilaksanakan dalam suatu kesisteman yang mencakup seluruh moda transportasi. Dengan demikian, sistem transportasi melitputi seluruh subsistem transportasi darat, laut dan udara dimana setiap subsistem mencakup kegiatan operasional yang didukung oleh sarana dan prasarana, kebijakan, kelembagaan, sumber daya manusia, sumber daya modal dan sumberdaya antar dua lokasi atau lebih merupakan bagian dari keberadaan transportasi atau perangkutan, dan diwujudkan dari adanya perpindahan orang dan atau barang dari/ke lokasi yang lain. Aksesibilitas, didenisikan sebagai ukuran kapasitas lokasi yang akan dicapai oleh, atau untuk mencapai lokasi yang berbeda. Oleh karena itu kapasitas dan pengaturan infrastruktur transportasi merupakan elemen kunci dalam penentuan aksesibilitas [1].salah satu variabel yang dapat dinyatakan apakah tingkat aksesibilitas itu tinggi atau rendah dapat dilihat dari banyaknya sistem jaringan yang tersedia pada daerah tersebut. Semakin banyak sistem jaringan yang tersedia pada daerah tersebut maka semakin mudah aksesbilitas yang didapat begitu pula sebaliknya semakin rendah tingkat aksesbilitas yang didapat maka semakin sulit daerah itu dijangkau dari daerah lainnya [2].Aksesibilitas tinggi, menurut Sistranas 2005 adalah dalam arti bahwa jaringan pelayanan transportasi dapat menjangkau seluas mungkin wilayah nasional dalam rangka perwujudan wawasan nusantara dan ketahanan nasional. Keadaan tersebut dapat diukur, antara lain, dengan perbandingan antara panjang dan atau kapasitas jaringan transportasi dengan luas wilayah yang dilayani. Sedangkan kondisi yang diharapkan terkait dengan aksesibilitas transportasi angkutan laut adalah, meningkatnya aksesibilitas jaringan pelayanan dengan bertambahnya jumlah trayek dan armada yang melayaninya. Untuk jaringan prasarana diharapkan dapat meningkatnya jumlah pelabuhan utama. 243Pengembangan Transportasi Laut dalam Upaya Meningkatkan Konektivitas di Wilayah Nusa Tenggara Timur, Syafril. KA, Feronika Sekar PuriningsihTrayek Angkutan Laut, terdiri trayek tetap dan teratur liner, dan trayek tidak tetap dan tidak teratur tramper. Menurut PP 20 Tahun 2010, trayek tetap dan teratur liner adalah pelayanan angkutan yang dilakukan secara tetap dan teratur dengan berjadwal dan menyebutkan pelabuhan singgah. Sedangkan trayek tidak tetap dan tidak teratur tramper adalah pelayanan angkutan yang dilakukan secara tidak tetap dan tidak teratur [9].Penyelenggara Jasa Angkutan Penumpang, adalah Badan Usaha yang menyelenggarakan layanan jasa angkutan penumpang dengan menggunakan kapal;Jaringan Perintis, adalah trayek angkutan laut yang menghubungkan daerah terpencil, daerah yang belum berkembang dan atau daerah perbatasan dengan pelabuhan yang berfungsi sebagai pusat akumulasi dan distribusi atau pelabuhan yang bukan berfungsi sebagai akumulasi dan distribusi;Menurut PP N0. 63 Tahun 1992, Daerah Terpencil adalah daerah yang sulit dijangkau karena kekurangan atau keterbatasan prsarana dan sarana angkutan umum baik transportasi darat, laut maupun udara [10].Daerah Tertinggal, adalah daerah Kabupaten yang masyarakat serta wilayahnya relatif kurang berkembang dibandingkan daerah lain dalam skala terkait yang pernah dilakukan oleh Badan Litbang adalah1. Studi Pola Penyelenggaraan Angkutan Laut untuk Daerah Terpencil, 2005, hasil penelitian menunjukkan bahwa masih banyak daerah terpencil yang belum menerima jasa angkutan laut; Daerah terpencil sudah dilayani oleh angkutan laut, mempunyai keterbatasan sarana dan prasarana transportasi laut; Potensi sumber daya ekonomi pada daerah terpencil tidak dapat terdistribusi ke daerah yang sudah berkembang; Pemerintah daerah belum sepenuhnya dapat berkoordinasi dengan pemerintah propinsi dan pemerintah pusat atau pihak terkait, dalam mengupayakan pembangunan daerah melalui penyelenggaraan angkutan laut dari sisi pendanaan, kerjasama, dan lain-lain; Masyarakat kesulitan untuk berinteraksi ke luar daerahnya karena aksesibilitas pelayanan angkutan laut yang sangat Tingkat Aksesibilitas Jaringan Transportasi Antar Kabupaten/ Kota Di Provinsi Maluku dan Maluku Utara, 2010, Badan Litbang Perhubungan. Hasil Kajian menunjukkan bahwa Nilai aksesibilitas total Provinsi Maluku Utara adalah sebesar 194. Seandainya Kabupaten Kepulauan Sula sudah terhubung dengan salah satu kabupaten/kota yang lain, nilai aksesibilitas total ini akan jauh lebih besar, sedangkan nilai aksesibilitas total Provinsi Maluku adalah sebesar Pusat jaringan pelayanan transportasi yang terbentuk di Provinsi Maluku Utara adalah terletak pada Kabupaten Halmahera Barat dan Kabupaten Halmahera Selatan, hal ini terlihat dari nilai aksesibilitas tertinggi dicapai oleh kedua kabupaten tersebut, yaitu sebesar 30. Pusat jaringan pelayanan transportasi yang terbentuk di Provinsi Maluku adalah terletak pada Kabupaten Buru Selatan, hal ini terlihat dari nilai aksesibilitas tertinggi dicapai oleh kabupaten tersebut, yaitu sebesar 164. Nilai aksesibilitas terendah untuk Provinsi Maluku Utara adalah Kabupaten Morotai, sedangkan untuk Provinsi Maluku adalah Kabupaten Kepulauan Studi Konektivitas Transportasi Domestik sebagai Negara Kepulauan, 2011, Badan Litbang Perhubungan dengan hasil Studi menunjukkan bahwa Jumlah trayek pelayanan angkutan laut sebanyak 56 trayek perintis; Pulau-pulau besar dapat dinyatakan telah terhubung satu sama lain, dengan konektivitas tertinggi terdapat pada hubungan pulau Jawa meuju pulau Sumatera sedangkan konektivitas terendah terdapat pada hubungan pulau Sumatera menuju Pulau Papua yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan aksesibilitas dengan melihat konektivitas antar pelabuhan dan pulau-pulau yang terdapat di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kinerja pelayanan transportasi dapat ditinjau dari sisi efektivitas dan aspek esiensi. Indikator aspek efektivitas dilihat dari aksesibilitas, kapasitas, keterjangkauan, dan kualitas pelayanannya. Warta Penelitian Perhubungan, Volume 29, Nomor 2, Juli 2017244Penelitian ini akan menganalisis obyek pada aspek aksesibilitas pada kabupaten atau kota di Provinsi data berupa data primer dan sekunder. Data primer berupa hasil wawancara atau pengisian kuesioner dari pihak-pihak terkait di daerah tentang kondisi ketersediaan jaringan yang ada. Jumlah sampel sebanyak 60 data sekunder adalah data atau informasi yang diperoleh dari studi literatur, sumber-sumber atau instansi terkait yang menyangkut jaringan prasarana dan sarana transportasi serta pusat kegiatan utama di Provinsi NTT. Pengumpulan data sekunder diperoleh melalui literatur maupun sumber dari instansi terkait, seperti Dinas Perhubungan Provinsi atau Kabupaten/Kota, Otoritas Pelabuhan atau Syahbandar, Administrator Pelabuhan atau UPP, dan instansi terkait di NTT. Metode analisis, menggunakan jaringan Network, Jaringan Planar dan jaringan Nonplanar, Jaringan Keterhubungan Minimal JKM dan Jaringan Keterhubungan Lengkap JKL, Matriks Jaringan, serta Matriks Aksesibilitas Total Matriks T.Analisis dan PembahasanA. Data dan Informasi1. Pelabuhanan Laut di Nusa Tenggara TimurTerdapat sebanyak 72 pelabuhan di Provinsi NTT, yang terdiri 1 pelabuhan utama, 11 pelabuhan pengumpul, 15 pelabuhan pengumpan regional, dan 45 pelabuhan pengumpan lokal. Pelabuhan-pelabuhan lokal masih banyak yang belum mempunyai fasiltas pelabuhan. Sebagaimana terlihat pada 1. Jumlah Pelabuhan Laut NTT Berdasarkan Hirarkhi No Hirakhir Pelabuhan Jumlah1. Pelabuhan Utama 12. Pengumpul 113. Pengumpan Regional 154. Pengumpan Lokal 45Jumlah 72Sumber Dishub Provinsi NTTPada umumnya, tingkat pemakaian dermaga/ tambatannya masih sangat rendah. Tingkat pemakaiannya BOR yang cukup memadai baru pada 5 pelabuhan yaitu 1 Tenau/ Kupang dengan61%; 2 Baranusa dengan BOR 36%; 3 Ende/ Ippi dengan BOR 40%; 4 Lewoleba dengan BOR 49%; dan 5 Waingapu dengan BOR 45%. Hal ini mengindentikasikan bahwa dari sisi ketersediaan fasilitas dermaga pelabuhan sudah sangat 72 pelabuhan di NTT baru Pelabuhan Tenau yang memiliki sarana dan fasilitas penunjang yang memenuhi standar kecukupan dan kesesuaian dengan aktitas pelabuhan. Sedangkan 71 pelabuhan lain masih terdapat kekurangan fasilitas dengan tingkat kecukupan kurang dari 50%. Belum semua memiliki lapangan penumpukkan dan gudang. Lapangan penumpukkan baru terdapat di pelabuhan Tenau, Waingapu, Kalabahi, dan Ende/ Ippi. Sedangkan gudang baru terdapat di pelabuhan 1 Tenau Kupang dengan luas m²; 2 Waingapu dengan luas 750 m²; dan dengan luas lain yang turut berpengaruh terhadap kelancaran pelayanan di pelabuhan adalah fasilitas bongkar muat barang. Dari 72 pelabuhan yang ada di NTT baru pelabuhan Tenau yang memiliki fasilitas crane, sedangkan pelabuhan lain masih menggunakan fasilitas crane seluruh kondisi gedung terminal pelabuhan di NTT mempunyai kondisi yang memprihatinkan, hal ini dapat dilihat dari tingkat kenyaman dan keamanan pelabuhan di NTT telah memiliki gedung kantor dengan jumlah petugas rata–rata tidak lebih dari 10 orang, sehingga menjadi kesulitan dalam penanganan dan pengendalian operasonal pelabuhan. Jalan masuk pelabuhan pada seluruh pelabuhan di NTT sudah tersedia akan tetapi kelas jalan yang ada masih berada di 245Pengembangan Transportasi Laut dalam Upaya Meningkatkan Konektivitas di Wilayah Nusa Tenggara Timur, Syafril. KA, Feronika Sekar Puriningsihbawah standar. Kelas jalan yang dibutuhkan di kawasan pelabuhan serendah–rendahnya kelas II dengan pertimbangan kendaraan yang akan melintas di atasnya adalah kendaraan barang dengan muatan sumbu di atas 10 ton sesuai dengan kondisi dan karakteristik angkutan barang saat Kinerja Angkutan Laut di Provinsi NTTa. Pergerakan Kapal, Penumpang dan kurun waktu 5 tahun terakhir, arus kunjungan kapal rata-rata sebanyak 31 ribu unit per tahun yang didominasi oleh kapal-kapal jenis pelayaran rakyat pelra. Persentase kenaikan rata-rata sebesar 2,28% per tahun. Terdapat 2 pelabuhan yang kunjungan kapal menurun, yaitu Pelabuhan Baranusa/ ALor dan pelabuhan Marapokot di P Flores bagian pergerakan orang di Provinsi NTT menggambarkan kenaikan yang cukup besar. Pergerakan ini dilakukan dengan kapal penumpang kapal perintis laut, angkutan penyeberangan, dan angkutan pelra. Arus pergerakan orang ke luar/ dari wilayah NTT, lebih banyak ke/ dari P. Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan NTB/ pergerakan barang di Provinsi NTT menggambarkan kenaikan yang cukup besar. Pergerakan ini dilakukan dengan kapal kontener, kapal perintis laut, dan angkutan pelra. Arus pergerakan barang ke luar/ dari wilayah NTT, lebih banyak ke Pulau. Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan NTB/Bali. Barang masuk didominasi dari Pulau Jawa, terutama dari Surabaya, dan Sulawesi terutama dari ketidakseimbangan antara barang bongkar dengan barang masuk. Arus barang masuk/ bongkar jauh lebih banyak dibandingkan barang keluar/ muat. Selama 3 tahun terakhir barang bongkar 65% dan muat 35% dari total kegiatan bongkar muat sebanyak juta muat ternak yang menonjol terdapat di Pelabuhan Waingapu, Tenau/Kupang, dan Atapupu/Timor, yang mencapai lebih kurang sebanyak ekor per tahun. Sebagaimana terlihat di Tabel L1 lampiran.b. Load Factor Angkutan Laut/ Load Factor Angkutan BarangTrayek perintis laut di NTT pada umumnya memiliki load factor antara 10 – 30%. Load factor terendah terdapat pada lintasan dari Kupang ke Flores bagian timur karena berhimpitan dengan trayek angkutan penyeberangan dan trayek perintis penyeberangan di NTT pada umumnya memiliki load factor antara 5 – 50%. Load factor terendah terdapat pada lintasan 1 Larantuka–Waiwerang; 2 Larantuka–Lewoleba; 3 Balauring–Lewoleba; dan 4 Lewoleba– load factor pada lintasan ini, dipengaruhi oleh karena rute ini berhimpitan dengan pelra dan kapal cepat yang pelayanannya terjadwal setiap komersil angkutan laut jarak jauh dilayani oleh kapal PT. PELNI dengan rata–rata load factor per lintasan berkisar antara 40–70%. Sedangkan pada lintasan lokal yang menggunakan kapal cepat memiliki load factor berkisar antara 35–80%. Load factor tertinggi terdapat pada trayek kapal cepat Lewoleba–Larantuka. Trayek lokal dengan pelra memiliki load factor antara 40–75%. Load factor tertinggi terdapat pada lintasan Larantuka–Waiwerang dan terendah pada Warta Penelitian Perhubungan, Volume 29, Nomor 2, Juli 2017246lintasan Sabu– komersil angkutan penyeberangan di NTT memiliki load factor berkisar antara 45–80%. Load factor tertinggi terdapat pada lintasan Kupang–Pante Baru, kondisi ini dipengaruhi oleh jarak yang pendek dan tidak terdapat pelayanan angkutan udara, sehingga pergerakan orang yang keluar dan masuk pada pulau ini hanya menggunakan angkutan Load Factor Angkutan BarangLoad Factor kapal untuk angkutan barang yang masuk dan keluar wilayah NTT masih rendah. Load Factor yang tinggi hanya untuk kapal-kapal yang melakukan kegiatan bongkar pada pelabuhan-pelabuhan yang ada di NTT, yang besarannya bisa mencapai 80%. Sedangkan load factor untuk muatan keluar dari wilayah NTT tergolong masih sangat rendah, yang besarannya hanya mencapai 40%. Untuk mencapai load factor di atas 40%, kapal yang akan keluar dari pelabuhan di wilayah NTT, kapal tersebut harus menunggu lebih dari satu minggu bahkan pada pelabuhan di luar Kupang bisa mencapai dua sampai tiga load factor ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain 1 Rendahnya produksi lokal baik hasil pertanian, perkebunan, perikanan maupun pertambangan; 2 Kurang kooperatifnya pengumpul untuk melakukan konsolidasi barang–barang komoditi lokal yang akan dibawa keluar wilayah NTT; dan 3 Kurangnya informasi bagi masyarakat penghasil produksi pertanian, perkebunan dan perikanan, sehingga selalu tumbuh kekhawatiran untuk menyiapkan barang yang akan diolah sebagai barang ekspor baik domestik maupun keluar Jaringan/ trayek yang melayani Provinsi NTT terdiri dari jaringan trayek reguler and liner tetap dan teratur dan jaringan trayek tramper tidak tetap dan tidak teratur.Untuk trayek reguler and liner penumpang dilayani oleh kapal-kapal PT. PELNI, kapal perintis laut; kapal cepat; dan kapal-kapal PT PELNI sebanyak 3 unit dengan menjalan trayek, Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan laut perintis sebanyak 7 trayek, yaitu 1 Trayek R-18 dengan pelabuhan pangkalan di Bima;2 Trayek R-20 dengan pelabuhan pangkalan di Kupang;3 Trayek R-21 dengan pelabuhan pangkalan di Kupang;4 Trayek R-22 dengan pelabuhan pangkalan di Kupang;5 Trayek R-23 dengan pelabuhan pangkalan di Kupang;6 Trayek R-24 dengan pelabuhan pangkalan di Maumere;7 Trayek R-25 dengan pelabuhan pangkalan di cepat cepat menghubungkan pelabuhan-pelabuhan yang pengguna jasanya sudah mampu untuk membeli tiket secara komersill, antara lain sepertitrayek Kupang-Ba’a/Rote; Larantuka-Lewoleba; Kalabahi-Atapupu, dan pelra, terdapat hampir di seluruh pelabuhan di NTT. 247Pengembangan Transportasi Laut dalam Upaya Meningkatkan Konektivitas di Wilayah Nusa Tenggara Timur, Syafril. KA, Feronika Sekar PuriningsihKapal pelayaran rakyat ini selain mengangkut barang juga mengangkut penumpang, yang secara regulasi tidak pelra ini ada yang berupa kapal motor KM dengan ukuran tertentu, kapal layar motor KLM, kapal layar PL, dan juga kapal-kapal kecil yang diberi mesin tempel, kapal jenis ini sering disebut dengan ojek Frekuensi dan kunjungan kapal, terutama kapal-kapal reguler masih sangat jarang, hal ini terlihat dari data kunjungan kapal pada banyak pelabuhan. Lamanya tingkat frekuensi, terutama pada kapal-kapal penumpang PT. PELNI, kapal perintis, dan kapal barang jarak kunjungan kapal yang cukup tinggi terjadi pada kapal-kapal rakyat, yang melayani pelabuhan-pelabuhan jarak dari konektivitas, 22 kabupaten// kota yang terdapat di Provinsi NTT, sudah saling terhubung, baik secara regional maupun secara nasional. Angkutan penumpang PT. PELNI, angkutan laut perintis dan angkutan penyeberangan sudah berhasil menghubungkan sebanyak 19 kabupaten/ kota yang ada di provinsi NTT, namun keterhubungan tersebut belum optimal, karena round voyage per trayeknya masih lama, yang disebabkan terlalu banyak pelabuhan singgah Tabel L2, lampiran.3. REKAPITULASI HASIL PENILAIAN hasil penelitian diperoleh opini/ penilaian berbagai pihak terhadap kondisi transportasi laut di Provinsi NTT yang diperoleh dari 5 lokasi survei digambarkan pada Tabel 2. Rekapitulasi Hasil Penilaian RespondenNo. Aspek PenilaianSkor Rata-rataEnde Waingapu Waikelo Lembata Tenau1Kecukupan Fasilitas pelabuhan 2 2 2 1 32Peralatan bongkar muat di pelabuhan 3 3 2 2 33Gudang, lapangan penumpukan barang di pelabuhan3 3 3 3 34Produktivitas bong-kar muat barang saat ini3 3 3 2 35Informasi kedatangan dan keberangkatan kapal di pelabuhan3 2 2 3 37Tingkat Koordinasi antar Instansi terkait 3 3 3 3 38Tingkat kecukupan kapal untuk melayani barang dan orang2 2 3 3 39Kemudahan transpor-tasi lanjutan 4 3 2 3 3Rata - rata penilaian Responden 3 3 2 3 3Sumber Hasil olahanKeterangan Nilai 1 = Sangat buruk2 = Buruk3 = Cukup baik4 = Baik 5 = Sangat BaikAnalisis dan PembahasanUntuk mendorong pertumbuhan ekonomi, peran dari sektor transportasi terutama dalam menghubungkan antara daerah yang satu dengan yang lain di wilayah Nusa Tenggara Timur pada sub sektor transportasi laut analisis yang dilakukan meliputi1. Peningkatan Jumlah Dan Volume Muatan Kapal Kurangnya jumlah dan volume muatan pada sebagian besar pelabuhan di NTT menjadi alasan utama rendahnya frekuensi kunjungan kapal. Kapal harus menunggu muatan dan berlabuh dalam waktu yang lama, sehingga mengakibatkan biaya di pelabuhan menjadi tinggi yang bepengaruh pada meningkatnya harga barang. Salah satu strategi yang akan dilakukan adalah dengan mendorong peran koperasi dan UKM untuk melakukan pengelolaan hasil produksi daerah misalnya berperan sebagai pengumpul Warta Penelitian Perhubungan, Volume 29, Nomor 2, Juli 2017248yang mampu menjangkau hasil produksi masyarakat sampai ke pelosok/ Strategi Pengembangan Jaringan/ TrayekUntuk menghubungkan antar kabupaten/ pelabuhan-pelabuhan yang terdapat di NTT, terutama angkutan laut, perlu dilakukan strategi pengembangan jaringan trayek, sehingga terdapat konektivitas dalam upaya mengurangi tingkat kemiskinan di provinsi NTT. Jaringan/ trayek selaiknya di susun berdasarkan kebutuhan dengan pendekatan gravitasi, yaitu terdapatnya simpul-simpul yang merupakan pendorong bagi daerah-daerah miskin atau daerah-daerah maju dengan daerah-daerah penyusunan trayek juga perlu dilakukan analisis komoditi antara daerah surplus dengan daerah minus, sehingga terjadi perdagangan antara daerah-daerah tersebut. Dilihat dari hierarki pelabuhan, maka pelabuhan Tenau/ Kupang merupakan titik simpul utama bagi pelabuhan-pelabuhan lainnya. Titik simpul utama artinya pelabuhan Tenau/ Kupang dapat dijadikan out/ inlet komoditi bagi provonsi NTT. Selain pelabuhan Tenau/ Kupang yang dijadikan titik simpul utama, pelabuhan-pelabuhan yang mempunyai hirarkhi pengumpul juga dapat dijadikan titik simpul dalam pengembangan jaringan trayek. Variasi trayek yang disusun harus mencerminkan adanya daerah bangkitan dan daerah tarikan. Karena itu perpaduan antara pelabuhan pengumpan lokal, pengumpan regional, pengumpul regional dan pengumpul harus ditata sedimikian rupa, sehingga daerah-daerah tertinggal akan dapat terhubungan dengan daerah-daerah yang lebih sebagai pelabuhan utama, dapat berperan sebagai penghubung bagi daerah-daerah sekitarnya untuk berinteraksi dengan propinsi lain ataupun dengan pelabuhan-pelabuhan luar negeri. 3. Perubahan dan Penambahan Jaringan Trayek Usulan jaringan trayek perintis ini terdiri perubahan jaringan trayek yang sudah ada dan penambahan trayek yang dinilai tidak esien, baik dari sisi waktu maupun jumlah pelabuhan singgah, karena terjadi tumpang tindih dengan trayek-trayek angkutan lain. Untuk itu memerlukan penataan ulang, sehingga lebih efektif dan esien dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Untuk perubahan jaringan trayek adalaha. Jaringan trayek R 20 BaruJaringan trayek R-20 awalnya menyinggah 12 pelabuhan pada 3 pulau besar Timor, Sumba, dan Flores dengan panjang rute mencapai mil laut dan lama palayaran untuk satu putaran round voyage mencapai 14 yang dikembangkan akan menjadi Kupang-Ndao-Sabu-Raijua–Ende-Maumbawa–Waiwole-Mborong-Waingapu PP.Rute baru ini memiliki panjang lintasan mencapai 950 mil laut dengan lamanya jam berlayar selama 240 jam dengan waktu keseluruhan mencapai 10 hari. Rute baru ini dilakukan dengan menghilangkan beberapa pelabuhan singgah antara lain b. Jaringan trayek R 24 BaruTrayek ini memiliki panjang lintasan mencapai 1,136 mil laut dengan waktu yang dibutuhkan untuk satu putaran mencapai 14 baru yang diusulkan adalah menjadi Maumere–Balauring–Baranusa-Kalabahi-Maritaing-Atapupu-Kupang PP, dengan panjang lintasan mencapai 988 mil laut. Waktu yang dibutuhkan untuk satu putaran trayek ini mencapai 10 hari dengan lama berlayar 239 Penempatan Kapal yang sesuaiBerdasarkan hasil analisis potensi ekonomi provinsi NTT terlihat bahwa komoditi unggulan pada setiap kabupaten relatif sama yaitu pertanian terutama jagung peternakan, 249Pengembangan Transportasi Laut dalam Upaya Meningkatkan Konektivitas di Wilayah Nusa Tenggara Timur, Syafril. KA, Feronika Sekar Puriningsihperikanan, pertambangan/ bahan-bahan galian dan juga hasil itu maka penempatan kapal-kapal perintis hendaknya disesuaikan dengan komoditi unggulan tersebut, dengan tetap memberikan akses bagi Penambahan Frekuensi dan KonektivitasFrekuensi angkutan laut perintis diusahakan untuk lebih sering dan adanya konektivitas antara satu trayek dengan trayek yang lain. Frekuensi seyogianya setiap minggu atau maksimal 10 hari per round voyage atau sekali putaran dan apabila terjadi konektivitas antar trayek maka frekuensi ini akan semakin lebih di upayakan di pelabuhan-pelabuhan pengumpul serta pelabuhan utama. Lamanya putaran dalam trayek tersebut antara lain disebabkan oleh terlalu panjangnya trayek yang harus dilalui serta banyaknya pelabuhan yang harus disinggahi. Untuk itu maka perlu dilakukan pengurangan pelabuhan singgah dan pemotongan panjang lintasan trayek, sehingga waktu putaran roound vayage dapat Sinkronisasi Jadwal Angkutan Laut Kondisi pelayanan transporasi laut di NTT saat ini masih terlihat berjalan secara parsial dan terpisah–pisah antara jenis pelayanan yang satu dengan pelayanan yang lain, sehingga pada hari tertentu tidak terdapat jadwal pelayaran. Pelayanan perintis tidak terkoneksi secara baik dengan pelayanan komersil dan reguler sehingga menyulitkan bagi para pengguna untuk melakukan perjalanan lanjutan. Kondisi ini dipandang turut berperan menghambat pergerakan orang dan barang yang juga turut mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di NTT. Diharapkan dengan adanya sinkronisasi jadwal akan mampu menyinergikan sistem transportasi di NTT yang pada gilirannya akan mendorong pertumbuhan ekonomi serta mampu mengentaskan kemiskinan di wilayah Optimalisasi Sarana Prasarana Transportasi yang Sudah Ada Jumlah pelabuhan laut yang mencapai 72 yang tersebar di seluruh kepulauan di NTT belum semuanya berfungsi secara diasumsikan bahwa apabila sektor–sektor lain seperti pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan dan pariwisata mampu melakukan perubahan, maka optimalisasi pelabuhan di NTT akan meningkat dan akan mendorong pelayanan angkutan laut yang lebih meningkat yang akan dibangun adalah koordinasi bersama sektor–sektor terkait untuk melakukan pemetaan berbagai potensi di seluruh wilayah NTT. 8. Peningkatan Sarana/ Prasarana Pelabuhan Tingkat okupansi pelabuhan laut di NTT memang masih sangat rendah, akan tetapi pada beberapa pelabuhan seperti Pelabuhan Tenau, Pelabuhan Lorens Say, Pelabuhan Ende, Pelabuhan Kalabahi dan Pelabuhan Waingapu sudah mulai terjadi peningkatan aktitas, namun pelabuhan-pelabuhan tersebut masih terbatas ketersedian sarana prasarana pelabuhan. Kondisi ini dipandang turut menghambat pertumbuhan ekonomi oleh karena minimnya fasilitas yang harus difungsikan untuk menunjang kelancaran aktitas dan produktitas pelabuhan. Diasumsikan bahwa dengan tersedianya fasilitas penunjang di Pelabuhan akan mampu meningkatkan produktivitas Sebagai provinsi kepulauan, transportasi laut/ penyeberangan memegang peran sangat vital dan strategis. Namun kekurangan prasarana dan sarana transportasi laut menyebabkan pergerakan barang dan orang menjadi kurang efektif dn esien. Sebagai upaya pengembangan transportasi laut dalam upaya meningkatkan konektivitas di wilayah Nusa Tenggara timur diperlukan langkah-langkah pengembangan berupa peningkatan jumlah dan volume muatan kapal, penerapan strategi pengembangan jaringan/ trayek, perubahan dan penambahan pada jaringan trayek, penempatan Warta Penelitian Perhubungan, Volume 29, Nomor 2, Juli 2017250kapal yang sesuai, penambahan frekuensi dan konektivitas, sinkronisasi jadwal angkutan laut, optimalisasi sarana prasarana transportasi yang sudah ada, dan peningkatan sarana/ prasarana pelabuhan Ucapan Terima KasihPenulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu hingga terselesaikannya tulisan Pustaka[1] Black, John, Urban Transport Planning Theory and Practice, London Croom Helm. Ltd 1981.[2] Bintarto. Interaksi Desa Kota, Yogyakarta Pustaka Pelajar 1982[3] Danandjojo, Imbang, Tingkat Aksesibilitas Jaringan Transportasi Antar Kabupaten/ Kota Di Provinsi Maluku dan Maluku Utara, Jurnal Penelitian Transportasi Laut 2010.[4] Studi Pola Penyelenggaraan Angkutan Laut Untuk Daerah Terpencil, Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan bekerjasama dengan Lembaga Pengembangan Sekolah Tinggi Manajemen Transpor Trisakti 2005.[5] Studi Konektivitas Transportasi Domestik sebagai Negara Kepulauan, Badan Litbang Perhubungan 2011.[6] Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.[7] Undang-undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran.[8] Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 49 Tahun 2005 tentang Sistem Transportasi Nasional.[9] Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2010 Tentang Angkutan Perairan.[10] Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 1992 Tentang Pengertian Daerah Terpencil dan Jenis Imbalan dalam Bentuk Natura dan/atau Kenikmatan Dalam Pelaksanaan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan Sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1991. 251Pengembangan Transportasi Laut dalam Upaya Meningkatkan Konektivitas di Wilayah Nusa Tenggara Timur, Syafril. KA, Feronika Sekar PuriningsihLampiranTabel L1. Arus Penumpang Kapal Laut Pada Setiap Pelabuhan Laut, 2011-2015No. Plb. Laut Kab/ Kota Penumpang Barang2012 2013 2014 2015 * 2012 2013 2014 2015 *1 Baranusa Alor 560 Kabir Alor 60 47 67 3 Kalabahi Alor Maritaing Alor 5 Atapupu Belu Ende/ Ippi Ende Maurole Ende 711 847 14 Pulau Ende Ende 15 Larantuka Flotim - Tenau/ Kupang Kupang Balauring Lembata Lewoleba Lembata - 18 Wulandoni Lembata 8Reo Manggarai Labuan BajoManggarai Barat - Marapokot Nagekeo 253 340 295 - Ba’a/ Role Rote Ndao Ndao Rote Ndao 8 Batutua Rote Ndao 9 Papela Rote Ndao 254 289 20 Seba Sabu Raijua - Maumere Sikka - WaikeloSumba Barat Daya 314 706 875 Waingapu Sumba Timur Wini TTU Jumlah 16 56 Pelabuhan Lain Dinas Perhubungan Provinsi Nusa Tenggara Timur, diolahKeterangan * = data tidak tersedia Warta Penelitian Perhubungan, Volume 29, Nomor 2, Juli 2017252Tabel L2. Keterhubungan Antar Kabupaten Oleh Angkutan Laut Perintis dan Angkutan PenyeberanganNo Kabupaten/ KotaKota Kupang KupangTimor Tengah Selatan SoeTimor Tengah Utara KefamenanBelu AtambuaAlor KalabahiFlores Timur LarantukaSikka MaumereEnde EndeNgada BajawaManggarai RutengSumba Timur WaingapuSumba Barat WaikubaLembata LewolebaRote Ndao BaaManggarai Barat LabuanNagekeo MabySumba Tengah WaikabulSumba Barat Daya TambolakaManggarai Timur BarongKupang KupangSabu Raijua Seba1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 211Kota Kupang Kupang1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 12Timor Tengah Selatan Soe 1 13Timor Tengah Utara Ke-famenan1 1 1 1 1 1 1 1 1 14Belu Atam-bua 1 1 1 1 1 1 1 15Alor Kalaba-hi 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 16Flores Timur Larantuka 1 1 1 1 17Sikka Mau-mere 1 1 1 1 1 1 1 18Ende Ende 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 19Ngada Baja-wa 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 110 Manggarai Ruteng 1 1 1 1 1 1 1 111 Sumba Timur Waingapu 1 1 1 1 1 1 1 1 112 Sumba Barat Waikuba 113 Lembata Le-woleba 1 1 1 1 1 1 1 1 114 Rote Ndao Baa 115Manggarai Barat La-buan1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 116 Nagekeo Maby 1 1 1 1 1 1 1 117 Sumba Tengah Waikabul18Sumba Barat Daya Tambo-laka1 1 1 1 1 1 1 1 1 119Manggarai Timur Bar-ong1 1 1 1 1 1 1 1 1 120 Kupang Kupang 1 121 Sabu Rai-juaSeba 111Sumber Hasil Olahan Data ... Sea transportation plays an important role in developing archipelagic areas in Indonesia to improve commodity flows, increase intensity and accessibility of product marketing, support the maritime, tourism, and fishery economy, and strengthen national resilience at the border area [1,2]. As a part of the sea transportation sector, traditional shipping contributes significantly and plays an active role in serving the distribution of goods and the movement of people in local and national transportation networks [3,4]. The utilization of traditional shipping is found in Indonesia and countries with maritime history and heritage, such as Egypt and China [5,6]. ...Traditional shipping vessel is a mode of transportation that is part of Indonesia's cultural heritage and still exists today. However, traditional shipping has been deemed unable to compete with the national shipping fleet due to the high transport cost, the low safety level, long travel times, limited capacity, and limited ship repair facilities. In addition, its existence was eliminated with the advent of modern ships. This study aims to analyse the competitiveness of traditional shipping with national shipping freight based on transportation costs. The analysis used is a gap analysis of transportation costs based on variable costs and fixed costs for every traditional shipping route that overlaps with national shipping. Data were obtained by field observations. The results of the analysis show that the competitiveness of traditional shipping has decreased due to the loss of cargo of national ships. It is necessary to optimize the route by restoring the traditional shipping function as a national shipping feeder, especially in the underdeveloped, remote, outermost, and border UROaB areas. This study recommends the integration of the national shipping transportation network as a trunk line and traditional shipping as a feeder line. The shipping integration is expected to form a network pattern and generates increase in the demand for traditional shipping BlackUrban Transport PlanningBlack, John, Urban Transport Planning Theory and Practice, London Croom Helm. Ltd 1981. DorongPertumbuhan Perekonomian Ntt, Pemerintah Sediakan Sarana Dan Prasana Transportasi Laut Yang Andal KUPANG (24/3) - Kementerian Perhubungan cq. Ditjen Perhubungan Laut terus mendorong pertumbuhan perekonomian di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui penyediaan sarana dan prasarana transpo Pengembangan potensi wisata yang ada di Kepulauan Karimunjawa terkendala oleh keterbatasan infrastruktur dan cuaca ekstrem yang terjadi. Pada saat cuaca ekstrem, kapal-kapal kecil tidak bisa berlayar untuk menuju Karimunjawa. Hanya kapal berukuran besar seperti kapal milik PELNI yang masih bisa berlayar pada saat cuaca ekstrem, tetapi tidak bisa sandar di dermaga hanya bisa lego jangkar. Adanya cuaca ekstrem menyebabkan pasokan sembako ke Karimunjawa juga terhambat karena tidak ada kapal yang berani berlayar ke Karimunjawa. Untuk mengantisipasi hal tersebut, maka Pemerintah membangun Pelabuhan Legon Bajak agar kapal-kapal berukuran besar bisa sandar di Karimunjawa. Namun, sejak pengembangan pelabuhan selesai, Pelabuhan Legon Bajak ini belum dimanfaatkan optimal oleh penyedia jasa maupun masyarakat. Belum ada kegiatan nyata kunjungan kapal dan bongkar/muat barang maupun naik turun penumpang. Untuk itu perlu dilakukan kajian mendalam untuk mengetahui kekuatan strenght, kelemahan weakness, peluang oppurtunities dan ancaman threat atau analisis SWOT sebagai rumusan kebijakan strategis transportasi laut untuk mendukung pengembangan pariwisata di Karimun Jawa. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan penggabungan dua metode atau mixed method. Hasil analisis dengan pendekatan SWOT, dihasilkan bahwa posisi transportasi laut di Karimunjawa berada di kuadran I yaitu menggunakan strategi agresif pengembangan. Peneliti merekomendasikan 3 alternatif kebijakan strategi yang dihasilkan dalam analisis SWOT transportasi laut yang diprioritaskan untuk dilaksanakan guna mendukung pengembangan pariwisata di Karimunjawa yaitu dari Strategi SO Strengths – Opportunities. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free Jurnal Penelitian Transportasi Laut Vol. 24 2022 Hal 11-20 Jurnal Penelitian Transportasi Laut pISSN 1411-0504 / eISSN 2548-4087 Journal Homepage *Corresponding Author i_made_wahyu doi 1411-0504 / 2548-4087 ©2021 Jurnal Penelitian Transportasi Laut. Diterbitkan oleh Puslitbang Transportasi Laut, Sungai, Danau, dan Penyeberangan, Balitbang Perhubungan, Kementerian Perhubungan Artikel ini disebarluaskan di bawah lisensi CC BY-NC Strategi Transportasi Laut Untuk Mendukung Pengembangan Pariwisata Di Karimunjawa Wahyu Anggrahini, Vega F. Andromeda, Rufiajid Navy Abritia, I Made Wahyu Sandika Putra Poliktenik Ilmu Pelayaran Semarang Jl. Singosari Kota Semarang, Jawa Tengah 50242, Telp. 024 8311527 Diterima 11 Desember 2021, diperiksa 12 Mei 2022, disetujui 30 Juni 2022 Abstrak Pengembangan potensi wisata yang ada di Kepulauan Karimunjawa terkendala oleh keterbatasan infrastruktur dan cuaca ekstrim yang terjadi. Pada saat cuaca ekstrim, kapal-kapal kecil tidak bisa berlayar untuk menuju Karimunjawa. Hanya kapal berukuran besar seperti kapal milik PELNI yang masih bisa berlayar pada saat cuaca ekstrim, tetapi tidak bisa sandar di dermaga hanya bisa lego jangkar. Adanya cuaca ekstrim menyebabkan pasokan sembako ke Karimunjawa juga terhambat karena tidak ada kapal yang berani berlayar ke Karimunjawa. Untuk mengantisipasi hal tersebut, maka Pemerintah membangun Pelabuhan Legon Bajak agar kapal-kapal berukuran besar bisa sandar di Karimunjawa. Namun, sejak pengembangan pelabuhan selesai, Pelabuhan Legon Bajak ini belum dimanfaatkan optimal oleh penyedia jasa maupun masyarakat. Belum ada kegiatan nyata kunjungan kapal dan bongkar muat barang maupun naik turun penumpang. Untuk itu perlu dilakukan kajian mendalam untuk mengetahui kekuatan strength, kelemahan weakness, peluang oppurtunities dan ancaman threat atau analisis SWOT sebagai rumusan kebijakan strategis transportasi laut untuk mendukung pengembangan pariwisata di Karimunjawa. Metode analisis dalam penelitian ini menggunakan penggabungan dua metode atau mixed method. Hasil analisis dengan pendekatan SWOT, menunjukkan bahwa posisi transportasi laut di Karimunjawa berada di kuadran I yaitu menggunakan strategi agresif pengembangan. Sebagai rekomendasi, strategi SO Strengths – Opportunities dikembangkan menjadi 3 alternatif kebijakan untuk mendukung pengembangan pariwisata di Karimunjawa yaitu mengembangkan fasilitas sarana dan prasarana transportasi laut, mengoperasionalkan Pelabuhan Legon Bajak dan melaksanakan program-program strategis sehubungan dengan masyarakat sekitar sebagai wujud pengabdian kepada masyarakat. Kata kunci Strategi; Transportasi Laut; Pelabuhan Legon Bajak; Pengembangan Pariwisata; SWOT Abstract Sea Transportation Strategy to Support Tourism Development in Karimun Jawa. The development of tourism potential in the Karimunjawa Islands is constrained by limited infrastructure and the extreme weather that occurs. In times of extreme weather, small ships cannot sail to Karimunjawa. Only large ships such as PELNI ships can still sail during extreme weather, but cannot dock at the pier. They can only anchor. Due to extreme weather, the supply of basic necessities to Karimunjawa was also hampered because no ship dared to sail to Karimunjawa. To anticipate this, the Government built the Legon Bajak Port so that large ships could dock at Karimunjawa. However, since the port development was completed, the Legon Bajak Port has not been optimally utilized by service providers and the community. There has been no real activity of ship visits and loading/unloading of goods or passengers boarding and down. For this reason, it is necessary to conduct an in-depth study to determine the strengths, weaknesses, opportunities, and threats or SWOT analysis as a strategic policy formulation for marine transportation to support tourism development in Karimun Jawa. In this study, researchers used a combination of two methods or a mixed method. The result of the analysis using the SWOT approach shows that the position of sea transportation in Karimunjawa is in quadrant I, namely using an aggressive strategy development. Researchers recommend 3 alternative strategic policies produced in the 12 Wahyu. A., / Jurnal Penelitian Transportasi Laut Vol. 24 2022 11-20 SWOT analysis of marine transportation that are prioritized to be implemented to support tourism development in Karimunjawa, namely the SO Strengths - Opportunities Strategy. Keywords Strategy; Sea Transportation; Legon Bajak Port; Tourism Development; SWOT template 1. Pendahuluan Dari segi ekonomi dan bisnis, menggunakan transportasi kapal lebih efektif dan membawa manfaat yang besar. Pengiriman lewat laut dianggap sebagai cara yang paling efisien dan berbiaya rendah untuk mengangkut barang dalam jumlah besar melalui jarak yang signifikan Lespier, Long, Shoberg, & Corns, 2019. Selain itu, dalam jaringan pelayaran internasional, selat dan kanal dipandang sebagai simpul utama dan penyumbatan simpul-simpul ini akan menghasilkan variasi jaringan rute pelayaran utama Gao & Lu, 2019. Modus penjadwalan lalu lintas kapal yang baik dapat meningkatkan efisiensi lalu lintas ke tingkat yang besar, terutama di saluran air terbatas seperti saluran pendekatan pelabuhan dan selat Zhang, Santos, Soares, & Yan, 2015. Sehingga dengan adanya infrastruktur transportasi laut untuk memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lain diharapkan dapat diikuti oleh kegiatan ekonomi masyarakat yang akan berdampak positif terhadap peningkatan perekonomian daerah. Transportasi pada dasarnya berfungsi sebagai unsur penunjang servicing function dan sebagai unsur pendorong promoting function. Sektor transportasi ini merupakan salah satu bidang terpenting dalam pembangunan berkelanjutan Cheba & Saniuk, 2016. Fungsi penunjang untuk kegiatan sektor lain, salah satunya yaitu sektor pariwisata pada wilayah yang telah berkembang dan bersifat komersial Yuliani & Lestari, 2019. Selama beberapa dekade terakhir, arus wisatawan internasional dan pentingnya industri pariwisata bagi perekonomian banyak negara terus meningkat Comerio & Strozzi, 2018. Pulau Karimunjawa merupakan bagian dari Kabupaten Jepara, Jawa Tengah yang terdiri dari beberapa pulau kecil dengan potensi wisata bahari, religi dan budaya dan dijuluki sebagai Paradise of Java. Kepulauan Karimunjawa berada di Laut Jawa dengan luas daratan ± 1500 ha dan perairan ± ha . Di Karimunjawa, pariwisata merupakan salah satu potensi unggulan yang mampu menyokong Pendapatan Asli Daerah PAD. Kondisi alam Karimunjawa memiliki potensi pendukung yang memberi peluang bagi pengembangan pariwisata. Saat ini, potensi wisata bahari khususnya wisata taman laut banyak digemari oleh wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Pasalnya, daya tarik wilayah pesisir, terutama wilayah kepulauan, juga telah mendorong pertumbuhan eksponensial perusahaan yang didedikasikan untuk kegiatan wisata bahari Gonzalez-Morales, Talavera, & Gonzalez, 2021. Dampak positif wisata bahari adalah meningkatnya aksesibilitas dan kegiatan ekonomi, meningkatnya amenitas, dan terciptanya daya tarik tersendiri Wibawa, Prijambodo, Fauzi, & Shabrina, 2019. Oleh karena itu, pengembangan kepariwisataan yang ada di Karimunjawa saat ini semakin penting mengingat hal tersebut tidak hanya menopang Pendapatan Asli Daerah PAD, tetapi juga bisa memperluas lapangan pekerjaan, serta dapat berfungsi sebagai penguatan citra daerah. Sesuai dengan Keputusan Menteri Kehutanan No. 123/Kpts-II/1986 tanggal 9 April 1986, maka berdasarkan Surat Menteri Kehutanan Nomor 161/Menhut-II/1988 tanggal 23 Februari 1988, kawasan Karimunjawa ditetapkan sebagai taman nasional rumpun. Kawasan Karimunjawa pada awalnya merupakan cagar alam laut, kemudian dengan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 78/Kpts-II/1999 tanggal 22 Februari 1999 ditetapkan sebagai taman nasional dengan nama Taman Nasional Karimunjawa. Taman Nasional Karimunjawa meliputi area seluas Ha termasuk 27 pulau, dan sejak 15 Maret 2001 Karimunjawa ditetapkan sebagai taman nasional oleh pemerintah Jepara. Keindahan ini menjadikan Karimunjawa sebagai salah satu destinasi pariwisata bagi wisatawan domestik dan mancanegara. Aksesibilitas ini merupakan faktor yang mempengaruhi kunjungan Taman Nasional Shen, Huang, & Zhang, 2019. Namun, pengembangan potensi wisata yang ada di Kepulauan Karimunjawa terkendala oleh keterbatasan akses transportasi, infrastruktur dan cuaca ekstrim yang terjadi pada musim tertentu. Pada saat cuaca ekstrim, kapal-kapal cepat speedboot tidak bisa berlayar untuk menuju Karimunjawa. Peristiwa atau cuaca ekstrim ini bisa seperti angin topan, gelombang panas, dan kekeringan yang selalu memberikan dampak yang tidak proporsional dibandingkan dengan cuaca sehari-hari Tippett, 2018. Hanya kapal berukuran besar di atas 1000 GT seperti kapal milik PELNI yang masih bisa berlayar pada saat cuaca ekstrim, tetapi tidak dapat bersandar di dermaga pelabuhan dan hanya lego jangkar di sekitar pulau Karimunjawa. Adanya cuaca ekstrim menyebabkan wisatawan yang ingin berwisata dan pasokan sembako ke Karimunjawa terhambat karena tidak ada kapal yang diizinkan berlayar ke Karimunjawa. Untuk mengantisipasi hal tersebut, maka Pemerintah membangun Pelabuhan Legon Bajak agar kapal-kapal berukuran besar bisa sandar di Karimunjawa meskipun dalam keadaan cuaca buruk. Selain memberi kemudahan, dengan adanya Legon Bajak diharapkan dapat menjadi alternatif pula untuk melindungi kapal kecil pada musim baratan. Kapal muatan barang dan kapal kecil dapat terlindung dari gelombang tinggi di Pelabuhan Legon Bajak, karena posisi Legon Bajak sendiri strategis dilindungi pulau-pulau kecil di sekitarnya 5 September 2018. Pencapaian Kementerian Perhubungan merupakan langkah maju yang penting bagi kemajuan perekonomian masyarakat yang jauh dari tercapai. Selain itu, Karimunjawa bergantung pada pemasok pangan utama Jepara. Apabila terjadi cuaca buruk dan tidak akan ada kapal yang lebih besar untuk mengirim logistik. Keberadaan feri juga membantu pengusaha lokal di Karimunjawa untuk meningkatkan perekonomian. Pengembangan Pelabuhan Legon Bajak di Karimunjawa bertujuan untuk memajukan sektor perekonomian dan sektor pariwisata di destinasi kepulauan Karimunjawa. Pelabuhan ini merupakan bagian kegiatan ekonomi yang penting di wilayah pesisir atau pantai Dwarakish 13 Wahyu. A., / Jurnal Penelitian Transportasi Laut Vol. 24 2022 11-20 & Salim, 2015. Kapal-kapal berukuran besar hingga 6000 GT dapat dilayani di Pelabuhan Legon Bajak, karena Pelabuhan Karimunjawa tidak bisa digunakan untuk sandar kapal-kapal berukuran besar. Kondisi perairan Pelabuhan Karimunjawa yang dangkal dan penuh terumbu karang menyebabkan kapal besar tidak dapat merapat ke pelabuhan. Spesifikasi pembangunan Pelabuhan Legon Bajak yang dibangun tahun 2017 dengan panjang x lebar trestle 66,5 x 6 meter, panjang x lebar dermaga 77 x 10 meter, dolphin 30 meter, selanjutnya fasilitas penunjang terdapat gedung terminal penumpang, kantor, musholla, dan sarana umum. Namun, sejak pengembangan pelabuhan selesai, Pelabuhan Legon Bajak ini belum dimanfaatkan optimal oleh penyedia jasa maupun masyarakat. Belum ada kegiatan nyata kunjungan kapal dan bongkar/muat barang maupun naik turun penumpang. Fasilitas penunjang aktivitas transportasi laut di Karimunjawa belum dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat dan penyedia jasa angkutan laut, sehingga perlu dicari solusi bagaimana strategi transportasi laut untuk mendukung pengembangan pariwisata di Karimunjawa. Penelitian-penelitian terdahulu yang telah dilakukan dan berhubungan dengan transportasi laut diantaranya dikembangkan oleh Teguh Himawan dan Erna Mei Lestari 2016 yang menganalisis mengenai pengembangan dermaga yang dalam rangka upaya peningkatan pelayanan dan kegiatan pariwisata di Pelabuhan Karimunjawa. Selanjutnya Sri Nurhayati Qodriyatun 2018 dimana hasilnya adalah mengetahui bagaimana implementasi kebijakan pengembangan pariwisata di pulau-pulau kecil dari sudut pandang pembuat kebijakan, pelaksana kebijakan, dan masyarakat target di mana pariwisata tersebut dikembangkan. 2. Metode Dalam melakukan analisis peneliti menggunakan penggabungan dua metode atau mixed method. Metode penggabungan berkaitan dengan penggunaan metode yang lebih dari satu kegiatan riset atau lebih dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Peneliti beranjak dari studi kasus yang menghasilkan input data kualitatif persepsi manusia dengan bantuan kuesioner. Namun dalam analisisnya, data kualitatif tersebut akan diolah menjadi data kuantitatif, dimana hasil analisisnya kemudian disimpulkan kembali melalui penjabaran hasil analisis yang berbentuk kualitatif. Metode pengumpulan data terdiri dari 1 Kuisioner angket; 2 Observasi; dan 3 Wawancara. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari penduduk Karimunjawa dan wisatawan yang pernah berkunjung ke Karimunjawa dan kriteria sampel yang digunakan adalah pengguna jasa dan operator angkutan laut di Karimunjawa yang benar-benar mengetahui kondisi eksisting transportasi laut Kerimunjawa dengan menggunakan purposive sampling. Instrumen yang digunakan ialah angket atau kuisioner dengan skala Linkert. “Skala Linkert digunakan dalam mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau kelompok orang tentang fenomena sosial Sugiyono 2013 93. Tahapan penelitian pada gambar 1. Gambar 1. Tahapan Penelitian Penelitian diawali dengan pengumpulan data dari kurang representatifnya fasilitas transportasi laut yang mempengaruhi pengembangan pariwisata di Karimunjawa dengan menganalisis faktor internal dan eksternal. Dalam menentukan analisis faktor strategis internal dan eksternal, khususnya, perlakuan terhadap faktor strategis ditinjau dari kondisi lingkungan internal dan eksternal dengan memberikan bobot dan peringkat pada faktor elemen strategis. Faktor Pemilihan Faktor Strategis Kurang representatifnya fasilitas transportasi laut mempengaruhi pengembangan pariwisata di Karimunjawa Alternatif kebijakan strategi transportasi laut untuk mendukung pengembangan pariswisata di Karimunjawa Pemilihan Faktor Strategis 14 Wahyu. A., / Jurnal Penelitian Transportasi Laut Vol. 24 2022 11-20 strategis yang digunakan meliputi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman. Faktor internal tersebut dimasukkan ke dalam matriks yang disebut matriks faktor Internal Factor Analysis Summary IFAS. Faktor eksternal tersebut dimasukkan ke dalam matriks yang disebut matriks faktor EFAS External Factor Analysis Summary. Dalam lingkungan internal IFAS, ditentukan faktor mana yang mendukung adanya kekuatan dan menghambat adanya kelemahan. Lingkungan eksternal EFAS dengan peluang dan ancaman yang teridentifikasi. Tabel 1. Matriks SWOT Kekuatan S Menentukan faktor-faktor yang merupakan kekuatan internal KelemahanW Menentukan faktor-faktor yang merupakan kelemahan internal Peluang O Menentukan faktor-faktor yang merupakan peluangeksternal STRATEGI SO Menghasilkan strategi yang menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang STRATEGI WO Menghasilkan strategi yang meminimalkan kelemahan untuk memanfaatkan peluang Ancaman T Menentukan faktor-faktor yang merupakan ancaman eksternal STRATEGI ST Menghasilkan strategi yang menggunakan kekuatan untuk mengatasi ancaman STRATEGI WT Menghasilkan strategi yang meminimalkan kelemahan dan menghindari ancaman sumber Rangkuti, 2008 Matriks ini menggambarkan peluang dan ancaman eksternal dapat disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya Rangkuti, 2008 31. Berdasarkan matriks SWOT tersebut di atas, dapat diidentifikasi dan ditetapkan beberapa isu strategis. Gambar 2. Diagram Analisis SWOT Rangkuti, 2008 Diagram analisis SWOT merupakan dasar mengetahui posisi transportasi laut di Karimunjawa yang didapat dari nilai rating faktor strategisnya. Diagram ini didapatkan garis vektor positif dan negatif untuk internal dan eksternal. Diagram ini menggambarkan transportasi laut berdasarkan kuadran yang dihasilkan, setiap kuadran memiliki rumusan strategis sebagai strategi utamanya. Diagram analisis SWOT menggambarkan kedudukan strategis dari organisasi atau perusahaan dalam bentuk kerangka 4 kuadran. Kedudukan tersebut menunjukkan apakah organisasi atau perusahaan akan menerapkan strategi. 15 Wahyu. A., / Jurnal Penelitian Transportasi Laut Vol. 24 2022 11-20 3. Hasil dan Pembahasan Analisis Faktor Strategis Internal dan Faktor Strategis Eksternal Dalam menganalisis data–data yang terkumpul, menggunakan analisis SWOT Strength, Weakness, Opportunities, Threatment. Konsep dasar pendekatan SWOT ini yaitu terlebih dahulu mengenal kekuatan dan kelemahan serta peluang dan ancaman dalam transportasi laut untuk mendukung pengembangan pariwisata di Karimunjawa sehingga dapat diketahui masalah yang dihadapi, bagaimana mencapainya serta tindakan yang perlu dilakukan untuk memaksimalkan kekuatan dan merebut peluang yang ada serta mengatasi kelemahan dan ancaman yang dihadapi Kekuatan dan Kelemahan Faktor kekuatan strengths dan kelemahan weaknesses merupakan faktor-faktor yang berasal dari transportasi laut dalam perkembangan pariwisata di Karimunjawa. Beberapa faktor tersebut dipergunakan untuk mengawasi tingkat berhasil atau tidaknya efisiensi transportasi laut di Karimunjawa. 1 Faktor kekuatan strengths a Alat bantu navigasi yang sudah memadai di pelabuhan keberangkatan & kedatangan. b Tersedianya penyedia jasa penyeberangan baik swasta maupun yang dikelola oleh BUMN, c Fasilitas/ sarana dan prasarana di pelabuhan keberangkatan & kedatangan yang memadai, d Kapal-kapal yang beroperasi dari/ ke Karimun Jawa dalam kondisi laik laut, e Penjualan tiket untuk kapal yang melayani rute ke Karimun Jawa sudah online/ e-tiketing, dan f Sudah dilakukannya uji coba sandar kapal milik PT. PELNI & kapal cepat di Pelabuhan Legon Bajak tidak mengalami kendala. Selanjutnya 2 Faktor kelemahan weakness a Tidak adanya jasa pemanduan kapal masuk maupun keluar di pelabuhan Karimun maupun pelabuhan Legon Bajak, b Hanya 2 kapal milik PT. PELNI KM. Kelimutu & KM. Lawit yang mampu untuk beroperasi pada saat cuaca buruk Ombak ≥ 2 meter , c Fasilitas jaringan komunikasi, akses sinyal dan internet di Pelabuhan Legon Bajak kurang memadai, d Tidak adanya tim penanggulangan keadaan darurat di Pelabuhan Karimun maupun Pelabuhan Legon Bajak, e Desain dermaga Pelabuhan Karimun yang diperuntukan untuk kapal-kapal tipe tertentu Kapal RO-RO & Kapal Cepat, f Akses moda tranportasi darat dari Pelabuhan Legon Bajak menuju pusat wisata Karimun Jawa belum tersedia angkutan umum masih menggunakan charter/ sewa kendaraan yang mahal Additional Cost, g Kapal milik PT. PELNI KM. Kelimutu & KM. Lawit tidak dapat sandar di Pelabuhan Karimun sehingga penumpang dari kapal berlabuh melanjutkan ke dermaga menggunakan Kapal Rede, h Pelabuhan Legon Bajak tidak dapat digunakan untuk sandar Kapal RO-RO Tidak terdapat dermaga khusus untuk Kapal RO-RO, dan i Jadwal operasi Kapal milik PT. PELNI masih terbatas untuk rute ke Karimun Jawa 1x trip dalam 1 minggu Peluang dan ancaman Peluang dan ancaman merupakan faktor-faktor dari luar eksternal transportasi laut yang dapat mempengaruhi perkembangan pariwisata di Karimunjawa. 1 Faktor Peluang opportunities a Biaya perjalanan melalui Transportasi Laut lebih ekonomis, bAnimo masyarakat yang ingin berwisata ke Karimun Jawa tinggi, c Pembangunan pengembangan sarana dan prasarana Transportasi Laut di Karimun Jawa mendapat dukungan penuh dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah, d Transportasi laut di Karimun Jawa berpotensi untuk terus dikembangkan, e Pelabuhan Legon Bajak berpotensi untuk sandar kapal-kapal besar draft tinggi, f Pada cuaca buruk untuk kapal-kapal PT. PELNI tetap dapat beroperasi apabila sandar di Pelabuhan Legon Bajak, g Pada musim-musim liburan jumlah wisatawan mengalami peningkatan yang signifikan, h Kepala PT. PELNI Cabang Semarang menyatakan sanggup untuk kapal milik PT. PELNI sandar di Pelabuhan Legon Bajak Menunggu SP. Ditjen Perhubungan Laut. Selanjutnya untuk Faktor Ancaman threat terdiri dari a Transfer penumpang dari area berlabuh kapal ke Pelabuhan dengan Kapal LCT dapat membahayakan penumpang, b Hambatan faktor cuaca Kapal RO-RO & Kapal cepat tidak dapat beroperasi, c Kurangnya peminat wisatawan apabila kapal bersandar di Pelabuhan Legon Bajak Belum ada transportasi darat/ angkutan umum & menambah biaya, d Tidak maksimalnya pemanfaatan operasional di Pelabuhan Legon Bajak dan eMerusak terumbu karang disekitar Karimun Jawa. Analisis Kebijakan Strategi Transportasi Laut dengan Matriks SWOT IFAS Internal Strategic Factors Analysis Summary digunakan dalam merumuskan faktor strategis internal yang menentukan kerangka kekuatan dan kelemahan perusahaan. EFAS merupakan faktor strategi eksternal suatu perusahaan, strategis eksternal tersebut sebagai kerangka peluang dan ancaman produk. Keduanya dibandingkan untuk menghasilkan alternatif startegi SO, ST, WO, dan WT. Kemudian peneliti menentukan kebijakan strategi transportasi laut yang dapat digunakan untuk mendukung perkembangan pariwisata di Karimunjawa. 16 Wahyu. A., / Jurnal Penelitian Transportasi Laut Vol. 24 2022 11-20 Tabel 2 Matriks SWOT S – O STRATEGY a.Mengembangkan fasilitas sarana dan prasarana transportasi laut b.Mengoperasionalkan Pelabuhan Legon Bajak c.Melaksanakan program-program strategis sehubungan dengan masyarakat sekitar sebagai wujud pengabdian kepada masyarakat. W – O STRATEGY a.Menambah dan memperkuat jaringan komunikasi/ internet terutama pada sinyal provider pada Pelabuhan Legon Bajak b.Mengembangkan fasilitas sarana dan prasarana Pelabuhan Legon Bajak c.Menambah jadwal operasi Kapal milik PT. PELNI yang melayani pelayaran ke Karimun Jawa S – T STRATEGY a.Memaksimalkan pemanfaatan operasional Pelabuhan Legon Bajak b.Meningkatkan prosedur keselamatan penumpang di atas kapal c.Menambah moda transportasi umum di Pelabuhan Legon Bajak untuk wisatawan yang ingin menggunakan tranportasi umum W – T STRATEGY a.Kerja sama dengan penyedia jasa transportasi umum untuk sarana transportasi lanjutan wisatawan b.Kerja sama dengan pihak provider untuk memperkuat jaringan sinyal di Pelabuhan Legon Bajak Diskusi tentang kelemahan dan ancaman memberikan informasi yang berguna untuk memperkuat proyek atau rencana jika memungkinkan, atau mengantisipasi dampak dari ancaman lingkungan. Memanfaatkan analisis SWOT dapat digunakan sebagai sarana untuk mengawali rencana strategis, menjadikannya instrumen yang fleksibel Orr, 2012. Hasil analisis SWOT Karimun Jawa dipaparkan dalam Tabel 2. Analisis strategi SWOT menggunakan IFAS dan EFAS, yaitu setelah tahapan pengumpulan dan pengolahan analisis kuesioner sesuai bobot dan rating didapatkan nilai akhir kekuatan-kelemahan dan peluang-ancaman dari transportasi laut di Karimunjawa. Adapun analisis SWOT dengan Matrik Faktor Strategi Internal IFAS dan Matrik Faktor Strategi Eksternal EFAS sebagai berikut. Tabel 3. Variabel Kekuatan a. Alat bantu navigasi yang sudah memadai di pelabuhan keberangkatan & kedatangan b. Tersedianya penyedia jasa penyeberangan baik swasta maupun yang dikelola oleh BUMN c. Fasilitas/ sarana dan prasarana di pelabuhan keberangkatan & kedatangan yang memadai d. Kapal-kapal yang beroperasi dari/ ke Karimun Jawa dalam kondisi laik laut e. Penjualan tiket untuk kapal yang melayani rute ke Karimun Jawa sudah online/ e-tiketing f. Sudah dilakukannya uji coba sandar kapal milik PT. PELNI & kapal cepat di Pelabuhan Legon Bajak tidak mengalami kendala 17 Wahyu. A., / Jurnal Penelitian Transportasi Laut Vol. 24 2022 11-20 Tabel 4. Variabel Kelemahan a. Tidak adanya jasa pemanduan kapal masuk maupun keluar di pelabuhan Karimun maupun pelabuhan Legon Bajak b. Hanya 2 kapal milik PT. PELNI KM. Kelimutu & KM. Lawit yang mampu untuk beroperasi pada saat cuaca buruk Ombak ≥ 2 meter c. Fasilitas jaringan komunikasi, akses sinyal dan internet di Pelabuhan Legon Bajak kurang memadai d. Tidak adanya tim penanggulangan keadaan darurat di Pelabuhan Karimun maupun Pelabuhan Legon Bajak e. Desain dermaga Pelabuhan Karimun yang diperuntukan untuk kapal-kapal tipe tertentu Kapal RO-RO & Kapal Cepat f. Akses moda tranportasi darat dari Pelabuhan Legon Bajak menuju pusat wisata Karimun Jawa belum tersedia angkutan umum masih menggunakan charter/ sewa kendaraan yang mahal Additional Cost g. Kapal milik PT. PELNI KM. Kelimutu & KM. Lawit tidak dapat sandar di Pelabuhan Karimun sehingga penumpang dari kapal berlabuh melanjutkan ke dermaga menggunakan Kapal Rede h. Pelabuhan Legon Bajak tidak dapat digunakan untuk sandar Kapal RO-RO Tidak terdapat dermaga khusus untuk Kapal RO-RO i. Jadwal operasi Kapal milik PT. PELNI masih terbatas untuk rute ke Karimun Jawa 1x trip dalam 1 minggu Jika kita lihat pada matriks tabel 2 dan tabel 3, diketahui skor internal 2,74 >2,50. Maka berdasarkan persepsi responden terhadap faktor internal Karimun Jawa, dapat disimpulkan bahwa posisi internal Karimun Jawa, kuat. Hal ini menunjukan bahwa transportasi laut Karimun Jawa sudah relatif kuat dalam memanfaatkan kekuatan untuk mengatasi kelemahan. Selanjutnya dibuat juga EFE Matrix Seperti ditunjukkan pada Tabel 5 dan 6. Tabel 5. Variabel Peluang a. Biaya perjalanan melalui Transportasi Laut lebih ekonomis b. Animo masyarakat yang ingin berwisata ke Karimun Jawa tinggi c. Pembangunan pengembangan sarana dan prasarana Transportasi Laut di Karimun Jawa mendapat dukungan penuh dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah d. Transportasi laut di Karimun Jawa berpotensi untuk terus dikembangkan e. Pelabuhan Legon Bajak berpotensi untuk sandar kapal-kapal besar draft tinggi f. Pada cuaca buruk untuk kapal-kapal PT. PELNI tetap dapat beroperasi apabila sandar di Pelabuhan Legon Bajak g. Pada musim-musim liburan jumlah wisatawan mengalami peningkatan yang signifikan h. Kepala PT. PELNI Cabang Semarang menyatakan sanggup untuk kapal milik PT. PELNI sandar di Pelabuhan Legon Bajak Menunggu SP. Ditjen Perhubungan Laut 18 Wahyu. A., / Jurnal Penelitian Transportasi Laut Vol. 24 2022 11-20 Tabel 6. Variabel Ancaman a. Transfer penumpang dari area berlabuh kapal ke Pelabuhan dengan Kapal LCT dapat membahayakan penumpang b. Hambatan faktor cuaca Kapal RO-RO & Kapal cepat tidak dapat beroperasi c. Kurangnya peminat wisatawan apabila kapal bersandar di Pelabuhan Legon Bajak Belum ada transportasi darat/ angkutan umum & menambah biaya d. Tidak maksimalnya pemanfaatan operasional di Pelabuhan Legon Bajak e. Merusak terumbu karang disekitar Karimun Jawa Jika kita lihat pada matriks Tabel 5, diketahui skor eksternal 2,72 >2,50. Maka berdasarkan persepsi responden terhadap faktor eksternal Karimun Jawa, dapat disimpulkan bahwa posisi Karimun Jawa sudah relatif kuat dalam memanfaatkan peluang untuk mengatasi ancaman. Berdasarkan hasil analisis matriks evaluasi internal dan eksternal besaran nilai dari matriks tersebut, selanjutnya menjadi masukan untuk analisis kuadran. Nilai Matriks Evaluasi Internal = Total Kekuatan + Total Kelemahan = 2,74 Nilai Matriks Evaluasi Eksternal = Total Peluang + Total Ancaman = 2,72 Posisi koordinat kuadran optimalisasi transportasi laut di Karimunjawa disajikan dalam diagram berikut Gambar 3. Diagram Penentuan Matrik SWOT Berdasarkan gambar 3, menunjukan bahwa transportasi laut di Karimunjawa dalam wilayah kuadran I merupakan situasi yang menguntungkan karena adanya kekuatan dan peluang, jika dapat memanfaatkan dengan baik. Strategi ini untuk mendukung kebijakan pertumbuhan yang agresif. Strategi yang harus diterapkan adalah menggunakan kekuatan dalam mengoptimalkan peluang jangka panjang dengan strategi agresif pengembangan. Dengan pendekatan SWOT, dihasilkan analisis transportasi laut di Karimunjawa di kuadran I yaitu menggunakan strategi agresif pengembangan. Meskipun menghadapi banyak ancaman, masih terdapat kekuatan dari segi internal. Strategi yang harus diterapkan adalah menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang jangka panjang dengan cara strategi agresif pengembangan. 1. Mendukung strategi agresif 4. Mendukung strategi defensif 2. Mendukung strategi diversifikasi 5. Mendukung strategi turn-around 19 Wahyu. A., / Jurnal Penelitian Transportasi Laut Vol. 24 2022 11-20 4. Kesimpulan Dari hasil analisis di atas, peneliti merekomendasikan 3 alternatif kebijakan strategi yang dihasilkan dalam analisis SWOT transportasi laut yang diprioritaskan untuk dilaksanakan guna mendukung pengembangan pariwisata di Karimunjawa yaitu dari Strategi SO Strengths – Opportunities atau Growth Oriental Strategy, yaitu mengembangkan fasilitas sarana dan prasarana transportasi laut, mengoperasionalkan Pelabuhan Legon Bajak dan melaksanakan program strategis sebagai wujud pengabdian kepada masyarakat. Kebijakan strategi tersebut mendukung pertumbuhan agresif dalam memanfaatkan kekuatan dan peluang untuk menjadikan transportasi laut dapat bertahan dan berkembang. Ucapan Terima Kasih Ucapan terima kasih disampaikan hanya kepada pihak-pihak yang membantu pelaksanaan penelitian, misalnya lembaga pemberi pendanaan, penggunaan alat, pemberi data sekunder. Pernyataan Kontribusi penulis Semua penulis memberikan kontribusi yang setara sebagai kontributor utama makalah ini. Semua penulis membaca dan menyetujui makalah akhir. Pernyataan pendanaan Penelitian ini tidak menerima hibah khusus dari lembaga pendanaan di sektor publik, komersial, atau nirlaba. Konflik kepentingan Penulis menyatakan tidak ada konflik kepentingan. Informasi tambahan Tidak ada informasi tambahan yang tersedia untuk makalah ini Daftar Pustaka Cheba, K., & Saniuk, S. 2016. Sustainable Urban Transport – The Concept of Measurement in the Field of City Logistics. Transportation Research Procedia, Vol. 16, 35-45. Comerio, N., & Strozzi, F. 2018. Tourism and its economic impact A literature review using bibliometric tools. Tourism Economics, Vol. 251, 109-131. Dwarakish, G., & Salim, A. M. 2015. Review on the Role of Ports in the Development of a Nation. Aquatic Procedia, Vol. 4, 295-301. Gao, T., & Lu, J. 2019. The impacts of strait and canal blockages on the transportation costs of the Chinese fleet in the shipping network. Maritime Policy & Management, Vol. 466, 669-686. Gonzalez-Morales, O., Talavera, A. S., & Gonzalez, D. D. 2021. The involvement of marine tourism companies in CSR the case of the island of Tenerife. Environment, Development and Sustainability volume 23, 11427-11450. Himawan, T., & Lestari, E. M. 2016. Pengembangan Dermaga Pelabuhan Karimun Jawa Untuk Mendukung Kegiatan Pariwisata. Jurnal Penelitian Transportasi Laut, 182. Lespier, L. P., Long, S., Shoberg, T., & Corns, S. 2019. A model for the evaluation of environmental impact indicators for a sustainable maritime transportation systems. Frontiers of Engineering Management volume 6, 368-383. Orr, B. 2012. Conducting a Analysis for Program Improvement. 36, 381–384. Qodriyatun, S. N. 2019. Implementasi Kebijakan Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan Di Karimunjawa. Jurnal Aspirasi, 92, 240-259. Rangkuti, F. 2008. Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis. Gramedia Pustaka, Jakarta Rosyidah, D. L. Pelabuhan Legon Bajak Karimunjawa Jadi Alternatif Bersandar Kapal Besar. Tribun Jateng. 5 September 2018, Shen, Huang, & Zhang, 2019. national parks accessibility and visitation. Journal of Mountain Science volume 16, 2894-2906. Sugiyono, 2013. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Alfabeta, Bandung Tippett, M. K. 2018. Extreme weather and climate. npj Climate and Atmospheric Science, Vol. 145. Yuliani, A., & Lestari, E. M. 2019. Evaluasi Pelayanan Transportasi Laut Dalam Rangka Mendukung Pariwisata Di Wilayah Nusa Tenggara Barat. Warta Penelitian Perhubungan, 264, 241. Wibawa, B., Prijambodo, T., Fauzi, I., & Shabrina, N. 2019. Marine Tourism Infrastructure and Human Resources Development. Journal of Physics Conference Series, Volume 1625. Yogyakarta IOP Publishing Ltd. Zhang, J., Santos, T. A., Soares, G., & Yan, X. 2015. Sequential ship traffic scheduling model for restricted two-way waterway transportation. Journal of Engineering for the Maritime Environment, Vol. 2311, 86-97. 20 Wahyu. A., / Jurnal Penelitian Transportasi Laut Vol. 24 2022 11-20 ResearchGate has not been able to resolve any citations for this Social Responsibility is a voluntary strategy by companies, which integrates a set of actions that contribute to sustainable development. This study analyzes the degree of involvement of marine tourism companies in human resource management, adaptation to change, environmental management, local community development and collaboration with public and private agents. These areas configure companies’ Corporate Social Responsibility strategies. Information was collected from marine tourism companies on the island of Tenerife using quantitative and qualitative methodologies. A binary logistic regression analysis was applied. The results indicate that, in general, marine tourism companies are socio-environmentally responsible. Environmental aspects and adaptation to change through innovation have the greatest weight in these companies’ Corporate Social Responsibility strategies. Actions for local community development and collaboration with private agents are also important. However, human resource management influences negatively since marine tourism is a highly regulated sector in this regard. Thus, actions are mandatory and not voluntary, affecting all companies equally whether they have high levels of Corporate Social Responsibility implementation or not. Regarding relations with public authorities, the results indicate that improvement is urgently required, given the low participation of marine tourism companies in policy the development of marine tourism, two kinds of impacts on the environment will emerge, positive and negative. The positive impacts include 1 increasing accessibility and economic activities 2 increasing amenities, and 3 creating attractions. The negative impacts include 1 pollution of the environment, change the quality of the environment. 2 change the original shape of the Marine tourism area, and 3 social impacts. When the development concepts have been realized and managed optimally, it will automatically have a major impact on improving the community’s economy in a sustainable manner in the future, which will open up large enough jobs. On the outside the region, the community can feel the positive impact of the development of tourism and economic improvement, because the community can also take the opportunity to try in the fields related to the development of marine tourism around the area. Conversely, it could only receive bad consequences from the development of marine tourism. It can be concluded, that there will be sustainable development if there is a balance between infrastructure development and human resource development. This research is part of a case study on the initial concept of structuring the Gampong Krueng Raya coastal area, Sabang City, NAD, from the socio-economic aspect. This research uses descriptive qualitative and interpretative methods. Data and information obtained by literature study and field Nurhayati QodriyatunTourism has been the backbone of Indonesia’s economy in the last three of tourism to national GDP is expected to increase to 15% by 2019. Those target is encouraging the development of tourism in many tourist potential areas, such as Karimunjawa. Karimunjawa is an area of 27 small islands including 22 protected islands within the area Karimunjawa National Park. The Government has made policies in the development of tourism on small islands. The problem is on the implementation of those policy in Karimunjawa from the point of view of policy maker, policy implementer, and target group Karimunjawa community. The result of a qualitative research conducted in 2018 on tourism development in Karimunjawa showed that tourism development in Karimunjawa has not been sustainable. Even though it has opened up new jobs and added income to the community, there has been changes of community’s values and environmental damage on some spot areas. There is a need for an integrated plan that involves many sectors and stakeholders. The plan includes spatial planning, calculation of its carrying capacity ecological, physical, and social, analysis or study on environmental impact, utilization of natural resources in an environmentally friendly manner, and roles and responsibilities of each stakeholder involved in tourism development. There is also a need for visitor quota based on the calculation of carrying capacity as well as additional attractions to increase the length of tourist visits. AbstrakPariwisata telah menjadi backbone perekonomian Indonesia dalam tiga tahun terakhir. Pemerintah menargetkan kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB nasional meningkat menjadi 15% pada tahun 2019. Target tersebut mendorong dikembangkannya pariwisata di daerah-daerah yang memiliki potensi pariwisata, seperti Karimunjawa. Karimunjawa merupakan daerah kepulauan dengan 27 pulau kecil di dalamnya dengan 22 pulau di antaranya berada dalam kawasan konservasi Taman Nasional Karimunjawa. Pemerintah telah menyusun kebijakan untuk pengembangan pariwisata di pulau-pulau kecil agar berkelanjutan. Permasalahannya adalah bagaimana implementasi kebijakan tersebut dalam pengembangan pariwisata di Karimunjawa dilihat dari sudut pandang penyusun kebijakan, pelaksana kebijakan, dan target group masyarakat Karimunjawa. Penelitian kualitatif yang dilakukan pada tahun 2018 terhadap pengembangan pariwisata di Karimunjawa memperlihatkan bahwa pengembangan pariwisata di Karimunjawa belum berkelanjutan. Karena meskipun secara ekonomi telah membuka lapangan kerja baru dan menambah penghasilan di masyarakat, namun secara sosial telah terjadi perubahan nilai dalam masyarakat dan secara ekologis telah terjadi kerusakan lingkungan. Perlu ada satu perencanaan yang terintegrasi yang melibatkan berbagai sektor dan stakeholders. Perencanaan tersebut memuat penataan ruangnya, perhitungan daya dukungnya daya dukung ekologis, daya dukung fisik, dan daya dukung sosial, studi AMDAL atau UKL/UPL nya, pemanfaatan sumber daya alam secara ramah lingkungan, serta peran dan tanggung jawab dari setiap stakeholders yang terlibat dalam pengembangan pariwisata. Selain itu, perlu ada penetapan kuota pengunjung didasarkan perhitungan daya dukung dan menambah atraksi untuk meningkatkan lama kunjungan HimawanErna Mei LestariKarimun Jawa memiliki luas Ha meliputi 27 pulau, sejak tanggal 15 Maret 2001, Karimun Jawa ditetapkan oleh Pemerintah Jepara sebagai Taman Nasional. Berlayar menuju Karimun Jawa terkadang tertahan karena cuaca yang kadang tidak bersahabat, cuaca buruk, dan infrastruktur yang belum memadai menjadi kendala bagi wisatawan yang akan berkunjung. Sulitnya akses dan mahalnya ongkos ke Karimun Jawa juga menyebabkan tingkat kunjungan wisatawan belum optimal hingga saat ini, sehingga dibutuhkan penelitianpengembangan dermaga yang ideal dalam rangka upaya peningkatan pelayanan dan kegiatan pariwisata di Pelabuhan Karimun Jawa, data eksisting meliputi data dermaga Pelabuhan Karimun Jawa yang dianalisis dengan metode Berth Occupancy Ratio BOR. Berdasarkan hasil perhitungan analisis Berth Occupancy Ratio BOR di Dermaga Legon Bajak sebesar 85,63%, artinya BOR diatas 70%, hal ini disebabkan berthing time-nya tinggi karena kapal harus menginap di dermaga untuk penyesuaian cuaca yang terkadang ombak mencapai 3 meter, dan pelabuhan pangkalan untuk juga berada di Karimun Jawa. Pengembangan Dermaga Legon Bajak dalam rencana jangka pendek belum diperlukan perluasan dermaga, namun diperlukan pengaturan sandar kapal. Berth Occupancy Ratio BOR di Dermaga Perintis sebesar 23,98%, artinya BOR dibawah 70%, sehingga tidak perlu perluasan dermaga, karena masih dibawah standar normal. Hal ini disebabkan masih sedikitnya volume kapal yang sandar di Dermaga YulianiErna Mei LestariBesarnya dampak positif parwisata terhadap perekonomian nasional dan besarnya potensi alam yang dimiliki Provinsi Nusa Tenggara Barat layak menjadi pertimbangan pemerintah untuk mengembangkan sektor pariwisata di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Pengembangan pariwisata perlu didukung oleh ketersediaan transportasi yang nyaman sebagai untung penunjang. Peningkatan pelayanan transportasi laut di Provinsi NTB mampu menjadikan nilai tambah bagi Provinsi Nusa Tenggara Barat sebagai pilihan objek wisata para wisatawan mancanegara. Pentingnya peranan transportasi dalam keberhasilan sektor pariwisata tersebut melatarbelakangi disusunnya kajian ini. Tujuan dari kajian ini adalah menganalisis dan mengevaluasi pelayanan transportasi laut yang ada saat ini untuk menyusun rekomendasi peningkatan pelayanan transportasi laut dalam mendukung pengembangan pariwisata di wilayah Nusa Tenggara Barat. Berdasarkan hasil pengolahan data dengan menggunakan metode SWOT, terdapat beberapa aspek pelayanan yang menjadi perhatian pihak penyelenggara angkutan laut dalam rangka meningkatkan peran pelayanan transportasi laut di wilayah Nusa Tenggara Barat, yaitu ketepatan waktu keberangkatan/ kedatangan kapal, ketersediaan informasi trayek dan jadwal angkutan laut. Melalui diagram formulasi strategi SWOT, diperoleh pilihan Strategi Strength Opportunity SO. Strategi tersebut mencakup 1 Peningkatan keselamatan penumpang dengan memperhatikan kelayakan sarana dan prasarana angkutan laut; 2 Peningkatan pelayanan angkutan laut dengan menambah jumlah rute/trayek angkutan laut di NTB; dan 3 Memperhatikan tingkat availability dan utility dari fasilitas pelabuhan berupa kolam pelabuhan, alur pelayaran, dermaga, fasilitas parkir, dan of the most important areas of sustainable development is the transport sector. There are a lot of different examples of sustainable transport in many papers. The most commonly used definitions of sustainable transport include environmentally sustainable transport, sustainable transport system and process sustainability of the transport system. The differences between the cited concepts are generally minor, substantially greater difficulties arise, however, in measuring the characteristics of the sustainability of transport, not only in the base - by analyzing the indicators, but especially in a multidimensional system aimed at exploring the relationship between the characteristics chosen to describe sustainable transport. The aim of this paper is to identify and select indicators repeated in different strategic documents describing sustainable transport, then study the spatial coherence selected for the study of these indicators and conduct an analysis of relations between the identified areas of sustainable transport. In the available literature, the results of such analyses to date are based mainly on the analysis of sustainability of individual indicators. Much less attention has been devoted to the study of interactions between the indicated areas. In this paper, the vector calculus method is ShenRui-hong HuangJin-shan ZhangAccessibility is a factor affecting national park visitation. However, the effect of accessibility on national park visitation is not fully understood. This paper examines the relationship between national park visitation and accessibility. First, the global and local accessibility indexes of each park unit are computed based on an accessibility model that takes into account the surrounding population and its proximity to the park unit. Integrated in the model is a distance decay coefficient that is derived from national park visitor surveys and therefore pertinent to the case of study. Then correlation analysis is performed between park visitation and accessibility based on park types, regions, and visitation types. Results show that total visitation is positively related to accessibility in National Memorials, Military Parks and Battlefield Parks/Sites but negatively related to accessibility in national parks and national monuments. However, recreational overnight stay visits are commonly negatively correlated to accessibility for almost all park types. Moreover, local accessibility index displays enhanced correlation coefficients with improved significance levels in many categories of analysis. Results suggest that historical/cultural national parks which often show positive correlations tend to attract more local visitors, but nature-based parks which mainly show negative correlations tend to attract more distant shipping is considered the most efficient, low-cost means for transporting large quantities of freight over significant distances. However, this process also causes negative environmental and societal impacts. Therefore, environmental sustainability is a pressing issue for maritime shipping management, given the interest in addressing important issues that affect the safety, security, and air and water quality as part of the efficient movement of freight throughout the coasts and waterways and associated port facilities worldwide. In-depth studies of maritime transportation systems MTS can be used to identify key environmental impact indicators within the transportation system. This paper develops a tool for decision making in complex environments; this tool will quantify and rank preferred environmental impact indicators within a MTS. Such a model will help decision-makers to achieve the goals of improved environmental sustainability. The model will also provide environmental policymakers in the shipping industry with an analytical tool that can evaluate tradeoffs within the system and identify possible alternatives to mitigate detrimental effects on the GaoJing LuStraits and canals have always served as key nodes in shipping networks. The blockage of a strait or canal will lead to ship deviations and increased transportation costs. To measure this impact on the Chinese fleet, our study develops a mathematical model that is based on a programming formulation. Each strait or canal is assumed to be blocked in turn, and the increased transportation costs for the Chinese fleet in different scenarios are calculated and compared using the proposed programming formulation in order to measure the impact of the blocked strait or canal on the Chinese fleet. Larger increases in transportation costs have greater impacts on the fleet. The results show that a blockage of the Strait of Hormuz would have the greatest impact of all straits and canals; it would cause the Chinese fleet to lose a portion of its import and export market, and such a blockage cannot be addressed through ship deviations. Based upon increased transportation costs, the four straits or canals that would have the greatest impact if blocked are the Mandeb Strait, the Suez Canal, the Sunda Strait and the English such as the relationship between tourism and economic impact, its potential benefits and negative externalities are characterized by both vastness and heterogeneity of contents. Therefore, it can be complex to pinpoint the seminal works of each area of study. To extract the backbones of the research tradition, we applied the dynamic literature review method called Systematic Literature Network Analysis’, which combines systematic literature review and bibliographic network analysis. Additionally, this methodology can help to provide a panorama of the most developed areas of study concerning tourism, supporting newcomers to target specific topics and therefore to link to them. Tollaut diusung sebagai program kerja Presiden untuk mengedepankan penggunaan transportasi laut dengan kapal, dalam rangka mendistribusikan logistik. tentu kapal harus memiliki sarana dan prasarana yang mendukung operasionalnya. Pembangunan sarana dan prasarana transportasi bukan hanya untuk keberlangsungan transportasi tersebut raihafalah020 raihafalah020 Geografi Sekolah Menengah Pertama terjawab Iklan Iklan devywidayanti43 devywidayanti43 Jawabnnya Kapal baik itu kapal tradisional seperti kapal layar maupun kapal modern seperti kapal pesiar dll. makasih atas jawabannya Iklan Iklan Dhimas26Wnz Dhimas26Wnz jawaban Kapal Laut untuk mendukung transportasi laut makasih atas jawabannya Iklan Iklan Pertanyaan baru di Geografi Ciri-ciri yang menunjukkan sifat kimia tanah ditunjukkan oleh angka Orang bajo adalah suku pengembara lautan .tak hanya dapat ditemukan bermukim di perairan sabah,malaysia , dan tawi tawi serta mindanao,filipina. perse … baran orang orang bajo tersebut merupakan contoh dari perwujudan dari tumbukan lempeng seperti gambar di atas menghasilkan​ pertanyaan di gambar jawaban yang benar? Perhatikan gambar balok besi berikut! Apabila berat balok 30 newton dan ukuran panjang, lebar dan tingginya 60 cm, 20 cm dan 25 cm, maka besar tekanan … yang diberikan oleh balok pada lantai adalah .… a 150 N/m² b 250 N/m² c 30 N/m² d 50 N/m² jawaban yang benar? Sebelumnya Berikutnya Iklan Disini, terdapat berbagai sarana transportasi publik baik itu darat, laut, atau udara sehingga akan memudahkan mobilitas Anda. Selain itu, Anda juga bisa menggunakan moda transportasi pribadi seperti motor atau mobil. Sarana dan prasarana lengkap Sebagai sebuah daerah pariwisata, Bali tentu memiliki sarana dan prasarana yang memadai. Oleh Rina Kastori, Guru SMPN 7 Muaro Jambi, Provinsi Jambi - Dalam kegiatan transportasi, keberadaan pusat keunggulan ekonomi membawa pengaruh besar. Mobilitas penduduk dalam suatu negara atau antarnegara tidak dapat dilakukan tanpa sarana dan prasarana transportasi yang memadai. Untuk mendukung mobilitas penduduk antarnegara, pemerintah membangun jalan, bandara, pelabuhan, dan terminal. Dengan tersedianya sarana tersebut, interaksi sosial, budaya, dan ekonomi antarpenduduk dapat berjalan dengan transportasi terhadap ekonomi Jaringan jalan sangat penting dalam mendukung aktivitas sosial ekonomi penduduk. Sarana perhubungan lainnya yang dikembangkan oleh tiap negara adalah transportasi laut. Agar interaksi antarnegara berjalan baik, Pemerintah Indonesia terus meningkatkan prasarana transportasi lautnya. Baca juga 5 Upaya Negara dalam Menciptakan Keunggulan Ekonomi Kapal laut lebih unggul dibandingkan pesawat, baik dari segi jumlah penumpang maupun barang yang diangkutnya. Misal kapal laut mampu mengangkut bahan tambang dan mobil. Sementara pesawat hanya bisa mengangkut penumpang atau barang tertentu saja. Meski begitu, transportasi udara masih menjadi pilihan masyarakat Indonesia, terutama golongan menengah ke atas. Politalamenjamin kelayakan dan kualitas terhadap sarana prasarana yang digunakan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Transportasi laut sebagai bagian dari sistem transportasi nasional perlu dikembangkan dalam rangka mewujudkan wawasan nusantara yang mempersatukan seluruh wilayah indonesia, termasuk lautan nusantaa sebagai kesatuan wilayah nasional. Pengembangan transportasi laut harus mampu menggerakkan pembangunan republic of indonesia. Transportasi laut memberikan kontribusi yang sangat besar bagi perekonomian dunia dimana pengangkutan barang merupakan bagian terpenting dalam bisnis transportasi laut dimana lebih dari tujuh miliar ton barang dikirim lewat jalur laut setiap tahunnya. Keefektifan terhadap operasional pelayaran akan menurunkan biaya operasional yang memberikan dampak yang besar baik bagi konsumen maupun penyedia layanan transportasi itu sendiri. Perlu diketahui bahwa kontribusi transportasi laut menjadi semakin penting karena nilai biaya yang dikeluarkan adalah paling kecil bila dibandingkan dengan biaya transportasi darat ataupun udara. Selain itu efisiensi dalam proses transportasi dan distribusi menjadi salah satu hal yang penting karena proporsi biaya transportasi bisa mencapai 66 % dari keseluruhan biaya logistik. Mengingat keadaan geografis Indonesia sebagai Negara kepulauan terbesar di dunia dan dua pertiga wilayahnya merupakan perairan, Indonesia membutuhkan angkutan laut masal dalam jumlah yang cukup besar untuk mendukung distribusi barang serta untuk mobilisasi penumpang. Sistem transportasi yang efektif dan efisien serta terpadu antar moda transportasi, merupakan hal yang penting untuk menciptakan pola distribusi nasional yang handal dan dinamis. Tidak dapat dipungkiri bahwa sarana transportasi laut di Negara kepulauan seperti Indonesia telah menjadi tulang punggung utama pergerakan distribusi barang dalam skala besar dengan menggunakan kapal laut. Data Badan Pusat Statistik dalam laporan bulan September 2015, jumlah barang yang diangkut melalui transportasi laut sepanjang bulan Januari- Juli 2015 Folio 1 mencapai 130,four juta ton mengalami penurunan hingga 1,73% dari periode yang sama tahun sebelumnya mencapai 132,7 juta ton. Dari segi ekonomi dan bisnis penggunaan sarana transportasi dengan kapal laut lebih efektif dan besar manfaatnya. Sehingga dengan adanya sarana prasarana transportasi laut untuk pemindahan barang dari suatu tempat ke tempat lainnya, diharapkan akan dapat diikuti oleh aktifitas ekonomi masyarakat yang berdampak positif dalam peningkatan ekonomi suatu wilayah. Rumusan Masalah Pada makalah ini, rumusan masalah yang akan dibahas adalah sebagai berikut 1. Apa pengertian dari transportasi laut ? 2. Apa sajakah fungsi dan manfaat dari transportasi laut ? iii. Apa sajakah sarana dan prasarana yang menunjang dalam transportasi laut ? 4. Apa keunggulan dan kelemahan dari transportasi laut ? five. Apa sajakah macam-macam transportasi laut ? dan permasalahan apa saja yang pernah terjadi di Indonesia mengenai transportasi laut ? Tujuan dan Sasaran Tujuan Berdasarkan latar belakang yang telah diyraikan sebelumnya, maka penulisan makalah ini bertujuan untuk “ Mengetahui penunjang transportasi laut dari segi infrastruktur “. Guna mencapai tujuan tersebut, maka diperlukan beberapa sasaran antara lain. Sasaran Berdasarkan tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya maka sasaran yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut adalah sebagai berikut 1. Mengetahui apa itu transportasi laut. two. Mengetahui fungsi dan manfaat serta kelemahan dan keunggulan dari transportasi laut. Page 2 iii. Mengetahui sarana dan prasarana penunjang transportasi laut. 4. Mengatahui jenis-jenis dan permasalahan transportasi laut. Sistematika Penulisan Sistematika penulisan ini adalah sebagai berikut BAB I PENDAHULUAN Merupakan bab pendahuluan yang berisikan latar belakang yang menggambarkan transportasi laut. Pada bab ini selain dijelaskan latar belakang juga terdapat rumusan masalah pembahasan makalah ini serta tujuan, sasaran dan sistematika penulisan yang membuat penyususnan makalah ini lebih terstruktur dan terperinci. BAB Ii PEMBAHASAN Merupakan bab tinjauan pustaka yang menjelaskan definisi, fungsi dan manfaat, sarana prasarana, serta jenis-jenis transportasi laut. BAB Iii PENUTUP Merupakan bagian yang berisi kesimpulan dari semua pembahasan yang telah dijelaskan. Page 3 BAB Two PEMBAHASAN Pengertian Transportasi Laut Secara harfiah transportasi adalah pemindahan manusia atau barang dari satu tempat ke tempat lainnya dengan menggunakan sebuah kendaraan yang digerakkan oleh manusia atau mesin. Transportasi digunakan untuk memudahkan manusia dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Secara umum transportasi dibedakan menjadi 3, diantara yaitu transportasi darat, transportasi laut dan transportasi udara. Akan tetapi, dalam makalah ini membahas mengenai transportasi laut. Menurut Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran, definisi transportasi laut kapal adalah suatu kendaraan air dengan bentuk dan jenis tertentu yang digerakkan dengan tenaga angin, mekanik, atau energi lainnya yang ditarik atau ditunda berdaya dukung dinamis maupun bangunan terapung yang tidak berpindah-pindah. Secara umum, definisi transportasi laut adalah suatu kendaraan air yang digerakkan dengan angin maupun mesin dengan fungsi memindahkan barang ataupun manusia dari satu tempat ke tempat lain dengan jangkauan pulau bahkan benua. Di dalam transportasi, terdapat unsur-unsur yang terkait erat dalam berjalannya konsep transportasi itu sendiri. Unsur-unsur tersebut adalah sebagai berikut  Manusia yang membutuhkan  Barang yang dibutuhkan  Kendaraan sebagai alat/sarana  Jalan dan terminal sebagai prasarana transportasi  Organisasi pengelola transportasi Fungsi dan Manfaat Transportasi Laut Menurut Utomo, transportasi memiliki dua fungsi dan manfaat yang terklasifikasi menjadi beberapa bagian penting. Transportasi memiliki fungsi yang terbagi menjadi dua yaitu melancarkan arus barang dan manusia dan Page 4 menunjang perkembangan pembangunan the promoting sector. Sedangkan manfaat transportasi menjadi tiga klasifikasi yaitu  Manfaat Ekonomi Kegiatan ekonomi bertujuan memenuhi kebutuhan manusia dengan menciptakan manfaat. Transportasi adalah salah satu jenis kegiatan yang menyangkut peningkatan kebutuhan manusia dengan mengubah letak geografis barang dan orang sehingga akan menimbulkan adanya transaksi.  Manfaat Sosial Transportasi menyediakan berbagai kemudahan, diantaranya a pelayanan untuk perorangan atau kelompok, b pertukaran atau penyampaian informasi, c Perjalanan untuk bersantai, d Memendekkan jarak, e Memencarkan penduduk.  Manfaat Politis Transportasi meningkatkan keamanan negara, menciptakan persatuan, pelayanan lebih luas, mempermudah mengatasi suatu permasalahan bencana, dan lain sebagainya.  Manfaat Kewilayahan Memenuhi kebutuhan penduduk di kota, desa, atau pedalaman dengan mempermudah akses khususnya bagi yang sedang mengalami pembangunan. Sarana dan Prasarana Transportasi Laut Sarana Transportasi Laut Sarana transportasi laut memegang peranan vital dalam berbagai aspek termasuk sosial dan ekonomi melalui fungsi distribusi antara daerah satu dengan daerah yang lain. Distribusi barang, manusia, dan lain-lain akan menjadi lebih mudah dan cepat bila sarana transportasi yang ada berfungsi sebagaimana mestinya sehingga transportasi dapat menjadi salah satu sarana untuk mengintegrasikan berbagai wilayah di Republic of indonesia. Melalui transportasi penduduk antara wilayah satu dengan wilayah lainya dapat ikut merasakan hasil produksi Page v yang rata maupun hasil pembangunan yang ada. Adapun sarana yang menunjang berkembangnya transportasi laut sebagai berikut  Kapal adalah kendaraan pengangkut penumpang dan barang di laut sungai dsb seperti halnya sampan atau perahu yang lebih kecil. Kapal biasanya cukup besar untuk membawa perahu kecil seperti sekoci. Sedangkan dalam istilah inggris, dipisahkan antara transport yang lebih besar dan boat yang lebih kecil. Berabad-abad lamanya kapal digunakan oleh manusia untuk mengarungi sungai atau lautan.  Feri adalah sebuah sebuah kapal transportasi jarak mempunyai peranan penting dalam sistem pengangkutan bagi banyak kota pesisir pantai, membuat transit langsung antar kedua tujuan dengan biaya lebih kecil dibandingkan jembatan atau terowong.  Sampan Sampan bahasa Tionghoa adalah sebuah perahu kayu tiongkok yang memiliki dasar yang relatif datar, dengan ukuran sekitar iii,5 hingga 4,v meter yang digunakan sebagai alat transportasi sungai dan danau atau menangkap ikan. Sampan dapat mengangkut penumpang two – 8 orang, tergantung ukuran sampan. Sampan ada kalanya memiliki atap kecil dan dapat digunakan sebagai tempat tinggal permanen di perairan dekat darat. Sampan biasanya tidak digunakan untuk berlayar jauh dari daratan karena jenis perahu ini tidak memiliki perlengkapan untuk menghadapi cuaca yang buruk. Kata “sampan” secara harafiah berarti “tiga lembar papan” dalam bahasa Kanton, dari kata Sam tiga dan pan papan. Kata ini digunakan untuk merujuk pada rancangan perahu ini, yang terdiri dari sebuah dasar yang datar dibuat dari selembar papan; dua lembar papan lainnya dipasang di kedua belah sisinya. Sampan digerakkan dengan sepotong galah, dayung atau dapat pula dipasangi motor di bagian belakangnya. Page 6 Prasarana Transportasi Laut Prasarana transportasi memiliki beberapa dampak yang secara langsung maupun tidak langsung dalam masyarakat. Ketersediaan dan lancarnya sarana dan prasarana transportasi menghapuskan perisolasian suatu daerah serta aksesibilitas pun semakin meningkat. Peningkatan ini membuka suatu peradaban baru bagi daerah pedesaan tersebut. Sehingga kemajuan dan modernisasi yang berasal dari daerah pusat pemerintahan dapat dengan mudah masuk. Adapun prasarana transportasi laut adalah sebagai berikut  Pelabuhan adalah sebuah fasilitas di ujung samudera, sungai atau danau untuk menerima kapal dan memindahkan barang kargo maupun penumpang ke dalamnya. Pelabuhan biasanya memiliki alat-alat yang dirancang khusus untuk memuat dan membongkar muatan kapal-kapal yang berlabuh. Crane dan gudang berpendingin juga disediakan oleh pihak pengelola maupun pihak swasta yang berkepentingan. Sering pula disekitarnya dibangun fasilitas penunjang seperti pengalengan dan pemrosesan barang. Kata pelabuhan laut digunakan untuk pelabuhan yang menangani kapal-kapal laut. Pelabuhan perikanan adalah pelabuhan yang digunakan untuk berlabuhnya kapal-kapal penangkap ikan serta menjadi tempat distribusi maupun pasar ikan. Berikut hal-hal yang penting agar pelabuhan dapat berfungsi, antara lain o Adanya kanal-kanal laut yang cukup dalam minimum 12 meter. o Perlindungan dari angin, ombak, dan petir. o Akses ke transportasi penghubung seperti kereta apai dan truk. o Galangan kapal, adalah sebuah tempat yang dirancang untuk memperbaiki dan membuat kapal. Kapal-kapal ini dapat berupa yacht, armada militer, cruisine line, pesawat barang atau penumpang. Peran dan fungsi pelabuhan laut terdiri dari one. Pelabuhan Internasional hub utama primer adalah pelabuhan utama yang memiliki peran dan fungsi melayani kegiatan bongkar muat penumpang dan barang internasional dalam volume besar karena Page 7 kedekatan dengan pasar dan jalur pelayaran internasional serta berdekatan dengan jalur laut kepulauan Indonesia. 2. Pelabuhan Internasional utama sekunder adalah pelabuhan utama yang memiliki peran dan fungsi melayani kegiatan bongkar muat penumpang dan barang nasional dalam volume yang relatif besar karena kedekatan dengan jalur pelayaran nasional dan internasional serta mempunyai jarak tertentu dengan pelabuhan internasional lainnya. 3. Pelabuhan nasional utama tersier adalah pelabuhan utama memiliki peran dan fungsi melayani kegiatan bongkar muat penumpang dan barang nasional dengan volume sedang dengan memperhatikan kebijakan pemerintah dalam pemerataan pembangunan nasional dan meningkatkan pertumbuhan wilayah, mempunyai jarak tertentu dengan jalur/rute lintas pelayaran nasional dan antar pulau serta berada dekat dengan pusat pertumbuhan wilayah ibukota kabupaten/kota dan kawasan pertumbuhan nasional. 4. Pelabuhan regional adalah pelabuhan pengumpan yang berfungsi untuk melayani kegiatan bongkar muat penumpang dan barang dalam jumlah kecil dan jangkauan pelayanan antar kabupaten/kota serta merupakan pengumpan kepada pelabuhan utama. 5. Pelabuhan lokal adalah pelabuhan pengumpan yang berfungsi khususnya untuk melayani kegiatan bongkar muat penumpang dan barang dalam jumlah kecil dan jangkau pelayanannya antar kecamatan dalam kabupaten/kota serta merupakan pengumpan kepada pelabuhan utama dan pelabuhan regional. Berdasarkan jenisnya pelabuhan dibedakan atas  Pelabuhan umum digunakan untuk melayani kepentingan umum sesuai ketetapan pemerintah dan mempunyai fasilitas karantina, imigrasi dan bea cukai.  Pelabuhan khusus yang digunakan untuk melayani kepentingan sendiri guna menunjang kegiatan tertentu. Jaringan pelayanan transportasi laut dibedakan menurut kegiatan dan sifat kegiatannya,jaringan transportasi laut terdiri dari Folio 8 Jaringan Transportasi Laut Dalam Negeri, terdiri dari – Jaringan transportasi laut utama yang menghubungkan antar pelabuhan yang berfungsi sebagai pusat akumulasi dan distribusi; – Jaringan transportasi menghubungkan laut pelabuhan pengumpan yang berfungsi yaitu yang sebagai pusat akumulasi dan distribusi dengan pelabuhan yang bukan berfungsi sebagai pusat akumulasi dan distribusi. Disamping itu, jaringan ini juga menghubungkan pelabuhan-pelabuhan yang berfungsi sebagai pusat akumulasi dan distribusi; – Jaringan transportasi laut perintis yaitu menghubungkan daerah terpencil atau daerah yang belum berkembang dengan pelabuhan yang berfungsi sebagai pusat akumulasi dan distribusi atau pelabuhan yang bukan berfungsi sebagai pusat akumulasi dan distribusi. Jaringan Transportasi Laut Luar Negeri Jaringan pelayanan ini ditetapkan dengan memperhatikan perkembangan pusat industri, perdagangan dan pariwisata pengembangan daerah, keterpaduan intra dan antar moda transportasi dan perwujudan kesatuan wawasan nusantara. Berdasarkan sifat pelayanannya jaringan pelayanan transportasi laut terdiri dari – Jaringan pelayanan transportasi laut tetap dan teratur yaitu jaringan pelayanan dengan rute dan jadwal yang telah ditetapkan. – Jaringan pelayanan transportasi laut tidak tetap dan tidak teratur yaitu jaringan pelayanan dengan rute dan jadwal yang tidak ditetapkan. Keunggulan dan Kelemahan Transportasi Laut Dalam sebuah infrastruktur terdapat sarana dan prasarana yang dapat diunggulkan sehingga memicu berkembangnya infrastruktur tersebut. Akan tetapi selain itu ada juga sarana dan prasarana infrastruktur yang bisa menghambat berkembangnya infrastruktur transportasi, infrastruktur lebih khususnya Page 9 tersebut. Tidak transportasi terkecuali laut dalam perkembangan yang semakin canggih ini bidang transportasi laut dituntut untuk mengembangkan sarana dan prasarana yang ada sehingga transportasi laut semakin berkembang dan memenuhi fungsi utamanya yaitu membantu aktivitas manusia dalam kehidupan sehari-hari. Adapun keunggulan dari transportasi laut dibandingkan dengan transportasi yang lain adalah sebagai berikut  Murah dibandingkan dengan pesawat.  Mampu mengangkut dalam jumlah yang besar.  Jaringan alamiah.  Dapat menggunakan jalur mana saja jalur lintas luas.  Servis yang fleksibel.  Polusi rendah.  Kanal memacu pertumbuhan industri.  Menjadi sarana penghubung transportasi darat. Selain keunggulan, hal-hal berikut merupakan kelemahan yang menghambat perkembangan transportasi laut. Adapun kelemahan transportasi laut adalah sebagai berikut  Tidak cocok untuk barang-barang yang mudah rusak atau membususk.  Lebih lambat dibandingkan pesawat.  Kanal perlu biaya mahal untuk pembangunannya.  Kendala cuaca yang signifikan.  Tidak cocok untuk jarak dekat.  Jalur yang memutar sebab terhalang daratan route tidak fleksibel.  Sulit melakukan transit di segala tempat kendala kedalaman laut. Jenis-Jenis dan Permasalahan Transportasi Laut Kapal laut adalah alat transortasi yang bergerak di perairan. Kapal laut memiliki banyak fungsi selain mengangkut penumpang. pembahasan jenis-jenis kapal beserta fungsinya, sebagai berikut Page x one Kapal Penumpang Jenis kapal laut ini sangat akrab dengan kehidupan kita. Fungsinya diperuntukkan bagi penumoang yang hendak bepergian lintas benua, kapasitasnya bisa mencapai ribuan orang dengan fasilitas lengkapdan arsitektur mewah yang terkenal adalah Titanic, Queen Marry, dan Queen Elizabeth II. Gambar Kapal Penumpang Sumber 2 Kapal Barang Kapal jenis ini juga merupakan kapal yang sibuk melintasi lautan membawa muatan barang dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain. Kapal barang menjadi urat nadi aktivitas perdagangan dunia, karena berperan penting dalam aktivitas ekspor dan impor. Selain ukurannya yang besar dan mampu membawa banyak muatan, kapal ini juga mampu berlayar sangat jauh. Page 11 Gambar Kapal Barang Sumber 3 Kapal Tanker Kapal ini memiliki ukuran yang sangat besar, dengan fungsi untuk mengangkut minyak yang dikendalikan oleh komputer dan sistem navigasi yang canggih melalui satelit. Tanker yang berukuran raksasa disebut supertanker. Supertanker ini memiliki panjang mencapai 378 meter dengan lebar 50 meter dan berat kosong ton. Ukuran yang jumbo tersebut mampu mengangkat minyak mentah hampir mencapai satu juta butt. Gambar Kapal Tanker Sumber Page 12 iv Kapal Feri Kapal ini memiliki fungsi sebagai alat penyebrangan untuk melintasi selat atau laut diantara dua pulau. Meski ukurannya tidak sebesar kapal penumpng, kapal feri mampu mengangkut banyak penumpang sekaligus kendaraan-kendaraan sepert mobil, bus dan truk. Ukuran transportasi laut antar pulau inilah yang diandalkan. Di Indonesia, kapal feri memiliki waktu yang sibuk ketika setiap libur lebaran, yang melayani ribuan pemudik yang ingin pulang kampung keluar dari pulau. Gambar Kapal Feri Sumber 5 Kapal Selam submarine Kapal ini memiliki keunikan karena bergerak dengan tidak terapung di permukaan laut, melainkan menyelam ke dalam laut. Kini hampir semua kapal selam digunakan untuk tujuan militer dengan penelitian bawah laut, namun ada juga yang dibuat khusus untuk perjalanan wisata. Cara kerja kapal selam ini menggunkan prinsip archimedes, dimana terdapat ruang-ruang yang berfungsi sebagai pemberat. Jka ingin menyelam, maka ruang pemberat akan diisi air sehingga kapal akan tenggelam. Sebaliknya jika ingin naik ke permukaan, maka ruang pemberat diisi udara dan air dikeluarkan. Page 13 Gambar Kapal Selam Sumber 6 Kapal Perang Kapal ini sesuai dengan namanya, dengan fungsi untuk membantu kegiatan perang. Kapal perang memiliki beberapa jenis diantaranya yaitu kapal induk yang digunakan untuk membawa armada tempur udara, kapal perusak destroyer yang digunakan untuk kapal lawan perang, kapal penjelajah cruiser yang digunakan untuk berlayar dalam waktu yang lama dan berperrang ditempat yang jauh, serta kapal penyapu ranjau yang berfungsi untuk mencari dan menghancurkan ranjau berat. Gambar Kapal Perang Sumber world wide Page fourteen seven Kapal Tunda Kapal ini berfungsi untuk menarik kapal lain yang lebih besar ketika akan merapat atau meninggalkan pelabuhan yang sempit. Meski ukurannya kecil, tenaganya cukup besar untuk menarik kapal-kapal besar. Kadangkadang, untuk menarik kapal yang berukuran super seperti kapal induk diperlukan beberapa kapal tunda untuk menariknya. Gambar Kapal Tunda Sumber 8 Kapal Penangkap Ikan kapal ini digunakan para nelayan untuk menangjap ikan. Dengan dilengkapi jala yang berukuran besar, banyak ikan yang ditangkap dengan cepat. Kapal ini juga memiliki ruang pendingin untuk menyimpan ikan hasil tangkapan supaya ikan tetap segar setelah tiba dipelabuhan. Gambar Kapal Penangkap Ikan Sumber world wide Folio 15 9 Kapal Layar Kapal ini sudah ada sejak zaman dahulu sebelum ditemukannya motor penggerak modern. Kapal ini bergerak menggunakan tenaga angin dengan memanfaatkan layar yang terbentang lebar. Kapal ini kini digunakan sebagai kegiatan olahraga. Gambar Kapal Layar Sumber x Kapal Penyelamat lifeboat Lifeboat digunakan oleh tim penyelamat apanila terjadi musibah dilaut, misalnya terjadi musibah kapal tenggelam. Lifeboat dapat melakukan pencarian dan penyelamatan korban musibah laut meski dalam kondisi cuaca buruk misalnya badai. Gambar Kapal Penyelamat lifeboat Sumber Folio xvi Tarif Transportasi laut berlaku untuk pengiriman barang di Indonesia, meliputi tarif yang terdiri dari a. Tarif Pelayanan Nusantara Tarif uang tambang yang dibayar oleh pemilik barang kepada perusahaan pelayaran atas jasa yang diberikan untuk melakukan pengangkutan barang melalui laut dikenal dengan nama tarif uang tambang nusantara. Tarif angkutan laut ini ditetapkan berdasarkan komponen biaya, yaitu  Biaya pelayaran yang dinyatakan dalam biaya rupiah per ton mil pelayaran kapal,  Biaya kapal di pelabuahan yang dihitung menurut besarnya biaya pengeluaran kapal di pelabuhan muat dan di pelabuhan bongkar dan  Golongan barang. b. Tarif OPT/OPP Tarif OPP/OPT onkos pelabuhan pemuatan/ ongkos pelabuhan tujuan yang merupakan balas jasa untuk pekerjaan board stevedoring, cargodoring, dan receiving/delivery di pelabuhan pemuatan dan di pelabuhan tujuan.  Tarif “board stevedoring” dikenakan atas jasa pekerjaan membongkar muatan dari dek kapal ke dermaga dan sebaliknya  Tarif “cargodoring” dikenakan atas jasa mengeluarkan muatan dari jaringan di atas dermaga, mengangkat ke gudang, menyusun di dalam gudang dan sebaliknya.  Traif “receiving/delivery” dikenakan atas pekerjaan mengambil muatan dari gudang tempat penumpukan dan penyerahan sampai ke atas kendaraan yang merapat ke gudang darat dan sebaliknya. Tinggi tarif tergantung pada golongan dan jenis barang. Page 17 c. Tarif Pemakaian Fasilitas Pelabuhan Tarif Pemakaian Fasilitas Pelabuhan, terdiri dari sewa gudang dan sewa tempat penumpukan dan fasilitas pelabuhan. d. Tarif Ekspedisi Muatan Kapal Laut EMKL, Tarif Ekspedisi Muatan Kapal Laut EMKL meliputi balasan jasa atas pekerjaan inklaring dan uitklaring. tarif EMKL ini dihitung berdasarkan berat/ton barang, dimana pengurusan dokumenya dilakukan oleh perusahaan EMKL. Penggunaan transportasi laut tidak terlepas dari adanya resiko kecelakaan yang dapat menimpa kapal maupun penumpang didalamnya. Tingginya kasus kecelakaan laut di Indonesia harus menjadi perhatian seluruh pihak, bukan hanya pemilik kapal, melainkan juga pemerintah, instansi terkait dan masyarakat. Penyebab utama kecelakaan laut pada umumnya karena faktor kelebihan angkutan dari daya angkut yang telah ditetapkan, baik angkutan barang maupun angkutan orang. Bahkan tidak jarang pemakai jasa pelayaran memaksakan diri naik kapal meskipun kapal sudah penuh dengan tekad asal dapat tempat di atas kapal. Republic of indonesia mempunyai catatan buruk dalam hal kecelakaan transportasi kapal laut karena menewaskan ratusan korban jiwa. Adapun kecelakaan yang yang pernah terjadi di Republic of indonesia beserta penyebabnya yaitu ane. Jumlah Penumpang yang tidak sesuai dengan kapasitas Dalam kasus kecelakaan transportasi laut sebagian besar kecelakaan yang terjadi adalah akibat dari jumlah penumpang yang tidak sesuai dengan kapasitas dari kapal yang berlayar. Hal ini selain disebabkan kelalaian dari nahkoda kapal kadangkala juga disebabkan kelalaian dari pengawasan pelabuhan ketika kapal akan diberangkatkan. Hal ini juga disebabkan para pegawai yang dipelabuhan masih menganggap remeh akan standarisasi yang telah ditetapkan. Seperti yang terjadi pada perairan Indonesia beberapa saat yang lalu. Sebanyak 33 imigran yang menumpang kapal Indonesia menuju Australia tenggelam akibat dari jumlah muatan yang sangat berlebih. Kapal yang seharusnya hanya diisi oleh 150 orang, diisi Page 18 dengan jumlah penumpang sebanya 300 orang. Dalam kasus inihuman fault yang terjadi adalah akibat kesalahan dari nahkoda yang menyetir kapal. Karena imigran-imigran ini adalah imigran yang ilegal sehingga tidak berada dalam pengawasan pelabuhan. 2. Faktor Teknis Faktor lain yang terjadi biasanya sebagai penyebab dari kecelakaan tranportasi lau adalah faktor teknis. Faktor teknis ini banyak hal yang bisa menjadi penyebabnya. Seperti desain kapal yang tidak sesuai dengan standarisasi yang telah ditetapkan. Ada pula maintenance yang dilakukan oleh para awak kapal yang masih tidak terjadwal dilakukan. Sehingga ketika kapal berlayar terjadi panas mesin yang menyebabkan mesin panas. Ataupun faktor teknis ketika membawa barang-barang yang berbahaya. Karena tidak adanya kesadaran untuk menjaga kapal dari awak kapal menyebabkan kapal meledak dan terbakar. Kejadian-kejadian yang terjadi akibat faktor teknis ini seperti yang terjadi pada Kapal Marina. Seperti yang terjadi pada tahun 2009 yaitu kecelakaan KMP Teratai Prima di Tanjung Baturoro, Sendana, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat yang menewaskan 334 korban jiwa dan 36 orang lain berhasil diselamatkan. kecelakaan ini juga diduga karena spesifikasi mesin yang tidak memadai untuk kapal tersebut. Kapal ini hanya menggunakan mesin two×520 pk, ukuran mesin ini biasa digunakan sebuah mobil dan kapasitas daya tampung bahan bakarnya hanya 6 ton. 3. Pengelolaan Lalu Lintas Pengelolaan lalu lintas di bidang transportasi laut baik kapal yang akan memasuki ataupun yang meninggalkan pelabuhan, berfungsi untuk kelancaran arus lalu lintas di pelabuhan. Kurangnya sistem informasi dan koordinasi akan menyebabkan beberapa kerugian, diantaranya keterlambatan waktu kedatangan dan keberangkatan kapal, peningkatan jumlah antrian, hingga memungkinkan terjadinya kecelakaan. Contoh kecelakaan dari penyebab tersebut Page nineteen yaitu kapal tanker pembawa BBM mengalami tabrakan di Sungai Kapuas 7 April 2017. Kapal tanker ini membawa 22 orang anak buah kapal dan dinakhodai oleh Ishak. Sementara KM Rokan Permai membawa 16 orang ABK dan dinakhodai oleh Johanis Viani Rambing dengan tujuan Pontianak-Dumai. apal KM Rokan Permai sedang mengarah ke alur Pontianak-Dumai. Namun di arah berlawanan ada kapal tanker pembawa BBM. 4. Faktor Cuaca Faktor cuaca buruk merupakan permasalahan yang sering dianggap sebagai penyebab utama dalam kecelakaan laut. Permasalahan yang biasanya dialami adalah badai, gelombang yang tinggi, arus yang besar, kabut yang mengakibatkan jarak pandang yang terbatas, ini semua yang dipengaruhi oleh musim. Pada 5 Desember 2016, terjadi kecelakaan di perairan Madura dan Batam. Kapal Sinar Laut Mutiara dilaporkan tenggelam. Kapal berbobot 50 GT dinakhodai Ali Imron sesuai manifest mengangkut 9 orang anak buah kapal ABK, pegawai ternak 6 orang, dan ditambah 11 orang pegawai tambahan. Namun semua ternak yang dibawa ikut tenggelam bersama kapal. Kecelakaan laut terjadi lagi karena faktor cuaca. five. Human Error Para awak kapal harus memiliki pengetahuan knowledge, pemahaman understanding, kecakapan proficiency serta keterampilan skill yang diperlukan untuk mengantisipasi resiko kecelakaan, dan meminimalisir kesalahan manusia human error, sebagai salah satu faktor kecelakaan laut yang terjadi. Kecelakaan yang terjadi di sungai, danau dan penyebrangan yang sampai ke Mahkamah Pelayaran pada tahun 2006 lebih disebabkan karena faktor kesalahan manusia 88% dan hanya sedikit kejadian kecelakan di perairan yang disebabkan oleh faktor alam. Page 20 BAB 3 PENUTUP Kesimpulan Dari pembahasan mengenai transportasi laut diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pengaruh dari sarana dan prasarana itu adalah Sarana dan prasarana transportasi memiliki beberapa dampak yang secara langsung maupun tidak langsung dalam masyarakat. Ketersediaan dan lancarnya sarana dan prasarana transportasi menghapuskan perisolasian suatu daerah serta aksesibilitas pun semakin meningkat. Peningkatan ini membuka suatu peradaban baru bagi daerah pedesaan tersebut. Sehingga kemajuan dan modernisasi yang berasal dari daerah pusat pemerintahan dapat dengan mudah masuk. Kebutuhan transportasi merupakan kebutuhan turunan derived need akibat aktivitas ekonomi, sosial, dan sebagainya. Sarana transportasi yang ada di laut memegang peranan vital dalam aspek sosial ekonomi melalui fungsi di stribusi antara daerah satu dengan daerah yang lain. Pelabuhan adalah sebuah fasilitas di ujung samudera, sungai atau danau untuk menerima kapal dan memindahkan barang kargo maupun penumpang ke dalamnya. Rekomendasi Untuk meminimalisir kecelakaan di laut, terutama yang disebabkan oleh faktor human error yang menjadi topik pembahasan makalah ini maka diperlukan peran semua pihak baik pemerintah, masyarakat maupun swasta. Berikut beberapa saran yang dapat disampaikan sebagai upaya untuk mengantisipasi terjadi kecelakaan transportasi laut. 1. Sistem navigasi kapal dan semua peralatan yang dipergunakan di kapal angkutan transportasi laut harus segera dilengkapi dan dilakukan perawatan secara berkala. 2. Pengadaan sistem patroli perlu dilakukan, berkaitan dengan ketidaknyamanan jalur-jalur pelayaran saat ini, terutama untuk menjaga keamanan penumpang dan barang, penertiban terhadap Page 21 kapal yang mengangkut penumpang dan barang yang berlebih, serta kapal-kapal yang tidak memiliki fasilitas keamanan yang memadai. iv. Perlu diadakannya gerakan sadar keselamatan pelayaran nasional serta menanamkan budaya keselamatan rubber culture di lingkungan masyarakat Indonesia khususnya di bidang maritim. 5. Meningkatkan kompentensi Nakhoda dan Awak Kapal dengan sertifikasi Pelaut. Page 22 DAFAR PUSATAKA diakses oleh Nurhidayati pada 5 Mei 2017 pukul 2100 WIB Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2008 tentang Pelayaran Page 23 Page 24

D Sarana dan Prasarana a. Transportasi Modul : Sistem Informasi Manajemen Pemantauan Angkutan Barang Nama Alias : SIM-PAB Obyek Layanan : G2C Jenis Layanan : Front Office Deskripsi : Sistem informasi transportasi sangat membantu masyarakat dalam melaksanakan perjalanan, baik darat, sungai, laut dan udara.

Analisis SWOT Strengh, Weakness, Opportunity and Threath merupakan analisis yang digunakan untuk menyusun strategi pengembangan sarana dan prasarana transportasi laut, yang dimana terdiri dari empat aspek yaitu kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dimana data darui ke empat aspek tersebut diperoleh dan diperkuat dari hasil pembahasan, analisis dan survey lapangan yang dilakukan sebelumnya, sesuai data dan informasi yang telah digambarkan pada pembahasan sebelumnya, adapun faktor-faktor analisis sebagai berikut 1. Kekuatan strengh 2. Kelemahan Weakness 3. Peluang Opportunity 4. Ancaman Threath aAnalisis Faktor Internal dan Eksternal Analisis yang digunakan untuk mengetahui bagaimana strategi pengembangan sarana dan prasarana transportasi laut adalah analisis S W O T analisis ini bersumber dari evaluasi faktor internal dengan menggunakan matrik IFAS dan evaluasi faktor eksternal dengan menggunakan matrik EFAS. Berdasarkan hasil pengumpulan data dilapangan, hasil analisis faktor internal dan eksternal perahu/katinting dan dermaga Desa Lero-Kota Pare-pare adalah seperti tabel berikut. Tabel 18 Hasil Analisis Faktor Internal No Faktor Strategi Internal Bobot Rating Skor axb Kekuatan 1 Waktu perjalanan yang cepat dan jarak tempuh yang dekat 0,18 3 0,54 2 Dapat memuat barang lebih banyak 0,19 3 0,57 3 Harga yang terjangkau 0,18 4 0,72 jumlah 0,55 10 1,83 Kelemahan 4 Minimnya fasilitas dermaga 0,16 2 0,32 5 Minimnya fasilitas perahu 0,15 2,5 0,37 6 Waktu yang tidak terjadwal 0,14 2 0,28 Jumlah 0,45 6,5 0,97 Total 1 16,5 2,8 Sumber Hasil Analisis 2017 Dari tabel 18 dapat digambarkan bahwa sarana dan prasarana transportasi laut Desa Lero memiliki 3 faktor kekuatan, yaitu 1 waktu perjalanan yang cepat dengan rating 3 dan skor 0,54 2 jarak tempuh yang cepat yang membuat masyarakat memili jasa transportasi ini dengan rating 3 dan skor 0,57, dan yang terakhir 3 harga yang terjangkau merupakan salah satu tujuan dari transportasi yaitu murah, aman dan cepat dengan rating tertinggi 4 dan skor 0,72. Untuk faktor yang menjadi kelemahan sarana dan prasarana transportasi laut ini adalah 1 minimnya fasilitas dermaga yang menjadi faktor kenyamanan masyarakat dengan nilai rating 2 dan skor 0,32, 2 minimnya fasilitas perahu dan merupakan faktor utama untuk kenyamanan penumpang saat perjalanan memiliki rating 2,5 dan skor 0,37, 3 waktu yang tidak terjadwal merupakan hambatan bagi pengguna jasa penyebrangan dengan nilai rating 2 dan skor 0,28. Untuk analisis faktor eksternal yang menghasilkan matriks EFAS dapat dillihat pada tabel 19. Tabel 19 Hasil Analisis Faktor Eksternal No Faktor Strategi Eksternal Bobot Rating Skor axb Peluang 1 Sebagai jalur alternatif transportasi darat 0,19 4 0,76 2 Adanya objek daya tarik wisata disekitar daerah pesisir Desa Lero 0,16 3,5 0,56 3 Terdapat dukungan kebijakan pemerintah melalui RTRW 0,16 4 0,64 Jumlah 0,51 11,5 1,96 Ancaman 4 Sarana tidak dapat beroperasi jika cuaca buruk 0,15 2 0,3 5 Tingkat pelayanan angkutan umum didaratan lebih nyaman dibanding No Faktor Strategi Eksternal Bobot Rating Skor axb dilaut 6 Kondisi dermaga yang dekat dengan pelabuhan besar 0,18 2,5 0,45 Jumlah 0,49 5,5 0,91 Total 1 17 2,87 Sumber Hasil Analisis 2017 Pada tabel dapat didefinisikan bahwa peluang dari pengembangan sarana dan prasarana transportasi adalah sebagai jalur alternatif transportasi darat rating tertinggi dengan skor 0,76. Adapun yang menjadi ancaman bagi pengembangan sarana dan prasarana transportasi laut di Desa Lero adalah sara tidak beroperasi jika cuaca buruk, kondisi dermaga kurang baik yang membuat pengguna jasa penyebrangan kurang nyaman, kondisi dermaga yang dekat dengan pelabuhan nusantara yang bisa mengganggu perjalanan masyarakat dengan rating tertinggi dan skoring 0,45 b Matrik IE Internal External Matriks IE diarahkan untuk mengetahui posisi strategi pengembangan sarana dan prasarana transportasi pantai berdasarkan hasil yang didapatkan IFAS dan EFAS. Sumbu mendatar pada matrik IE adalah hasil yang diperoleh dari total skor matriks IFAS yaitu 2,8, sedangkan sumbu vertikalnya diperoleh dari total matriks EFAS, yaitu sebesar 2,87. Titik ini akan menentukan posisi sarana dan prasarana dan mengarahkan pada jenis strategi yang bisa dikembangkan di wilayah Desa Lero. Jenis strategi yang terdapat pada matriks IE jika disesuaikan dengan titik di mana posisi strategi sarana dan prasarana transportasi laut dikembangkan, yaitu pada sel I, II, dan IV strategi tumbuh dan dikembangkan grow and build posisi yang sudah dicapai sekarang. Pada seln III, V dan VII strategi jaga dan pertahankan hold and maintain posisi yang sudah ada saat ini , sedangkan sel VI, VIII, dan IX strategi menuai hasil atau lepaskan harvest and divest. Gambar  Faktor Internal Kekuatan – Kelemahan = 1,83 – 0,97 = 0,86 +  Faktor Eksternal Peluang –Ancaman = 1,96 – 0,91 = 1,05 + Berbagai Peluang Kelemahan Kekuatan Berbagai Ancaman Gambar 10 Matriks IE tingkat ketersediaan sarana dan prasarana transportasi laut Berdasarkan matrik pada gambar tersebut, dapat disimpulakn bahwa strategi pengembangan sarana dan prasarana transportasi berada pada kuadrant 1 Kuadran I Stratergi Turn Arround Kuadran I Strategi Agresif S-W= 0,86, O-T = 1,05 Kuadran II Strategi Disersifikasi Kuadran IV Strategi Defensif -0,86 ; 1,05 Artinya Situasi yang sangat menguntungkan karena memiliki peluang dan kekuatan yang ada. Strategi yang harus diterapkan dalam kondisi ini adalah mendukung kebijakan pertumbuhan yang agresif growth oriented strategy dalam Pengembangan Wilayah Desa Lero. Tabel 20 Matriks Analisis SWOT Eksternal Internal Kekuatan S  Waktu perjalanan yang cepat Jarak tempuh yang dekat.  Dapat memuat barang lebih banyak  Harga yang terjangkau. Kelemahan W  Minimnya fasilitas dermaga  Minimnya fasilitas perahu  Waktu yang tidak terjadwal Peluang O  Sebagai jalur alternatif transportasi darat  Sebagai daya tarik wisata didaerah pesisir  Terdapat dukungan kebijakan pemerintah melalui RTRW Strategi SO - Dengan waktu perjalanan dan jarak yang cepat membuat transportasi ini diminati dan sebagai jalur alternatif transportasi darat. - Pengembangan sarana dan prasarana transportasi laut ini dapat meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat serta menarik wisatawan untuk berkunjung diakhir tahun menikmati pesta nelayan. Strategi WO - Pengembangan Sarana dan prasarana transportasi laut sehingga diminati masyarakat. - Perlu adanya perbaikan kualitas sarana dan prasarana transportasi laut di Desa Lero. Ancaman T  Sarana tida beroperasi jika cuaca buruk  Tingkat pelayanan didarat lebih baik dibanding dilaut Kondisi dermaga yang dekat dengan pelabuhan besar Strategi ST - Sarana yang banyak dimintai masyarakat sehingga seringkali over load. - Meningkatkan pelayanan terhadap pengguna jasa transportasi. - Penyediaan lahan untuk menampung berbagai aktifitas bongkar-muat . Strategi WT - Perlu dilakukan sosialisai terhadap pemerintah mengenai lokasi dermaga yang dekat dengan pelabuhan. - Peningkatan fasilitas kapal/katinting sehingga tidak membahayakan penumpang. - Perlu diperhatikan letak dermaga agar tidak terjadi tubrukan kapal. Sesuai dari grafik analisis SWOT diatas menunjukkan bahwa Penyediaan Sarana dan Prasarana Transportasi Laut Di Desa Lero Kecamatan Suppa Kabupaten Pinrang menggunakan strategi S-O, maka rekomendasi strategi yang digunakan, sebagai berikut a Waktu perjalanan yang cepat dan jarak yang dekat membuat transportasi ini diminati dan sebagai jalur alternatif. Adapun rekomendasi strateginya yaitu ; 1. Meningkatkan frekuensi perahu setiap harinya dengan jadwal yang tetap. 2. Menyediakan perahu setiap harinya didermaga tersedianya sarana. 3. Menyediakan transportasi penyambung sebagai akses dari ataupun menuju dermaga. b Pengembangan sarana dan prasarana transportasi laut dapat meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat serta menarik wisatawan untuk berkunjung di akhir tahun menikmati pesta nelayan di Desa Lero. 1. Melakukan penambahan jumlah perahu dengan meningkatkan fasiltas perahu seperti menyediakan kursi yang nyaman bagi penumpang, jendela dan pintu yang aman bagi penumpang. 2. Meningkatkan fungsi dermaga yang telah ada tanpa harus melakukan penambahan dermaga seperti memberikan fasilitas ruang tunggu di sekitar dermaga dan area parkir yang dapat membuat masyarakat nyaman. 3. Mengadakan pesta nelayan yang meriah setiap tahunnya agar dapat menarik wisatawan berkunjung ke Desa Lero.

Saranadan Prasarana Transportasi di Indonesia 32 SMPMTs Kelas IX 6HODLQ SDULZLVDWD SHPDQIDDWDQ EXGD\D MXJD GLODNXNDQ GDODP UDQJND mempererat persahabatan antardaerah dan antarnegara. Melalui budaya, hubungan antarbangsa dan antarwarganya akan makin erat dengan mengenal budayanya. Studi Sistranas Pada Tatralok Di Wilayah Provinsi Gorontalo dari kebijakan dalam bentuk perda yang sudah disahkan di tingkat provinsi dan kota. Seiring dengan meningkatnya perjalanan dengan pesawat udara maka akan diperlukan angkutan pemadu moda yang merupakan aksesibiltas langsung bagi penumpang pesawat udara baik dari terminal maupun pelabuhan. Pengembangan Transportasi Penyebrangan Pengembangan transportasi penyebrangan meliputi beberaa kegiatan sebagai berikut 1 Pengembangan fasilitas dan prasarana pelabuhan penyeberangan 2 Peningkatan layanan penyeberangan, khususnya kawasan Teluk Tomini Pengembangan Transportasi Kereta Api Transportasi kereta api adalah merupakan pengembangan jaringan transportasi jangka panjang. Sebagai dukungan langsung kepada perluasan dan percepatan pembangunan ekonomi dan pengurangan kemiskinan belum dapat dilakukan untuk jangka pendek. Pengembangan jaringan transportasi kereta api disesuaikan dengan Rencana Induk Perkeretaapian Nasional Rencana pengembangan transportasi kereta api disesuaikan berdasarkan program RTRW Nasional yang ditetapkan pada prioritas pengembangan tahun 2025-2027 sehingga analisis permintaan dan pengembangan jalur kereta api akan dianalisi dalam satu koridor pulau sulawesi. Pengembangan Transportasi Laut Transportasi laut adalah salah satu pendukung utama dalam mendukung perluasan percepatan pembangunan ekonomi. Program pengembangan jaringan transpotasi laut kemudian difokuskan pada pengembangan dan penguatan pelabuhan yang ada Detail usulan program terkait dengan pengembangan jaringan transportasi jalan dapat dilihat pada tabel berikut ini. Executive Summary 63 Studi Sistranas Pada Tatralok Di Wilayah Provinsi Gorontalo Tabel Usulan Program Pengembangan Sarana Dan Prasarana Jaringan Transportasi Kota Gorontalo Nomor Usulan Program Keterangan Satuan/ Lokasi Sumber Dana Target Pencapaian 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2025 2030 Pengembangan Transportasi Darat 1 Meningkatkan dan mengembangkan kualitas dan kapasitas jalan • Jalan Barito Pelebaran dan Struktural Kota Gorontalo APBD X X X X X X X • Jalan Tondano Pelebaran dan Struktural Kota Gorontalo APBD X X X X X X X • Jalan Yusuf Hasiru Pelebaran dan Struktural Kota Gorontalo APBD X X X X X X X • Jalan Madura Pelebaran dan Struktural Kota Gorontalo APBD X X X X X X X • Jalan Arif Rahman Hakim Pelebaran dan Struktural Kota Gorontalo APBD X X X X X X X • Jalan Ki Hajar dewantoro Pelebaran dan Struktural Kota Gorontalo APBD X X X X X X X • Jalan Mohammad Yamin Pelebaran dan Struktural Kota Gorontalo APBD X X X X X X X • Jalan Sudirman Pelebaran dan Struktural Kota Gorontalo APBD X X X X X X X • Jalan Kartini Pelebaran dan Struktural Kota Gorontalo APBD X X X X X X X • Jalan Beringin Pelebaran dan Struktural Kota Gorontalo APBD X X X X X X X • Jalan Walanda Maramis Pelebaran dan Struktural Kota Gorontalo APBD X X X X X X X • Pembangunan Jalan Bebas Hambatan Gorontalo Outer Ring Road GORR Pembangunan Baru Kota Gorontalo APBN X • Penataan dan Peningkatan Kapasitas Simpang Penataan Simpang Kota Gorontalo APBD X X 2 Peningkatan kualitas Pelayanan Transportasi • Peningkatan manajeman pengelolaan sarana dan prasarana transportasi dalam kota Kota Gorontalo X X X X X X • Rasionalisasi jumlah armada Trans Hulonthalangi beserta feeder Pelayanan angkutan Executive Summary 64 Studi Sistranas Pada Tatralok Di Wilayah Provinsi Gorontalo Nomor Usulan Program Keterangan Satuan/ Lokasi Sumber Dana Target Pencapaian 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2025 2030 dengan permintaan yg ada • Penambahan rute BRT beserta feeder nya yang mengakomodir pergerakan menuju Bandar Udara di Isimu Pelayanan angkutan umum yg lebih balk Kota Gorontalo APBN X X • Program peningkatan sarana dan prasarana penunjang terminal Tipe B kelurahan Leato kecamatan Dumbo Raya. Pelayanan angkutan umum yg lebih balk Kota Gorontalo APBD X X X X X X • Pembangunan dan relokasi terminal tipe A Pelayanan angkutan umum yg lebih balk Kota Gorontalo APBD/APBN X X • Peningkatan kapasitas dan kualitas prasarana transportasi dalam kota Kota Gorontalo APBD/APBDP X X X X X X X X • Penambahan jumlah terminal untuk barang sub-sentral distribusi Pasar sentral APBD/Swasta X X • Peningkatan Kapasitas Terminal Barang di kawasan Pelabuhan Gorontalo sentral distribusi Pelabuhan Gorontalo APBD/APBN X • Pemanfaatan lahan dan bangunan terminal untuk aktivitas jasa dan perdagangan Optimalisasi Terminal 1942 Andalas/Dungingi APBD/Swasta X • Perbaikan sirkulasi penumpang dalam terminal proses naik turun, menungu, tiket, sistem informasi Semua terminal Kota Gorontalo APBD X • Penambahan jumlah terminal tipe B, C Disesuaikan dengan Executive Summary 65 Studi Sistranas Pada Tatralok Di Wilayah Provinsi Gorontalo Nomor Usulan Program Keterangan Satuan/ Lokasi Sumber Dana Target Pencapaian 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2025 2030 • Pengetatan uji kelayakan kendaraan Peningkatan Keselamatan Jalan Raya Kota Gorontalo APBD X • Pengaturan ruang gerak Bentor pada jalan lingkungan sesuai dengan perda yang telah diresmikan Kota Gorontalo APBD X • Penyelengaraan sarana transportasi pemdadu moda untuk aksesibilitas menuju bandara Kota Gororntalo X X Pengembangan Transportasi Penyebrangan 1 Pengembangan fasilitas dan prasarana pelabuhan penyeberangan Kota Gororntalo APBN X X 2 Peningkatan layanan penyeberangan, khususnya kawasan Teluk Tomini • Penyebrangan antar kota dalam provinsi Gorontalo – Marisa Kota Gororntalo APBN X X • Penyeberangan antar kota antar provinsi Gorontalo – Pagimana; Gorontalo – Wakai – Ampana; Gorontalo – Molibagu – Bitung; Kota Gororntalo APBN X X • Peningkatan kualitas dan kapasitas pelabuhan penyebrangan Gorontalo Kota Gororntalo APBN X X X X X X X Pengembangan Transportasi Kereta Api Pembangunan dan pengembangan akses jalan rel Gorontalo-Isimu sebagai sentra dan sub-sentra distribusi Kota Gororntalo APBN X Executive Summary 66 Studi Sistranas Pada Tatralok Di Wilayah Provinsi Gorontalo Nomor Usulan Program Keterangan Satuan/ Lokasi Sumber Dana Target Pencapaian 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2025 2030 1 Pengembangan pelabuhan Gorontalo, sebagai pelabuhan pengumpul Sebagai penunjang alur pelayaran nasional Kota Gororntalo APBN X 2 Peningkatan alur pelayanan nasional Bitung – Gorontalo - Luwuk – Kolonodale – Raha - Kendari – Bau Bau - Makassar; Gorontalo – Bitung – Ternate; Gorontalo – Bitung – Balikpapan – Makassar – Surabaya – Jakarta; Kajian demand; Penentuan kebutuhan armada serta jadwal; Peningkatan kapasitas pelayanan pelabuhan Kota Gororntalo APBN X X Executive Summary 31 Studi Sistranas Pada Tatralok Di Wilayah Provinsi Gorontalo Contents LATAR BELAKANG ... 1 MAKSUD DAN TUJUAN ... 3 RUANG LINGKUP STUDI ... 3 HASIL YANG DIHARAPKAN ... 4 MASTERPLAN PERCEPATAN DAN PERLUASAN PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA ... 5 Gambar 22 Kegiatan Utama Sumber MP3EI ... 6 Gambar Posisi MP3EI dalam rencana pembangunan pemerintah Sumber MP3EI ... 7 Gambar Peta koridor Ekonomi Indonesai Sumber MP3EI ... 7 Koridor Ekonomi IV Sulawesi ... 8 Gambar Ilustrasi konsep pengembangan KE IV Sulawesi Sumber MP3EI ... 9 MP3EI dan Kawasan Perhatian Investasi Provinsi Gorontalo ... 12 Tabel Daftar Proyek MP3EI Provinsi Gorontalo ... 13 PENYELENGGARAAN KAWASAN EKONOMI KHUSUS DI PROVINSI GORONTALO . 14 KEK GOPANDANG Gorontalo-Paguyaman-Kwandang Provinsi Gorontalo .... 14 Gambar Kawasan Ekonomi Khusus Gorontalo-Paguyaman-Kwandang GOPANDANG . 15 RENCANA TATA RUANG DAN WILAYAH RTRW NASIONAL, PULAU SULAWESI, DAN PROVINSI GORONTALO... 16 Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional RTRWN ... 16 Rencana Tata Ruang Pulau Sulawesi ... 16 Gambar Pola Ruang Pulau Sulawesi Tahun 2027 ... 17 Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Gorontalo ... 17 Tabel Usulan Program Utama RTRWP yang berkaitan dengan pengembangan jaringan transportasi wilayah di Kota Gorontalo ... 18 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAN MENENGAH PROVINSI GORONTALO ... 19 Rencana Pembangunan Jangka Panjang RPJP Provinsi Gorontalo 2005 – 2025 19 Rencana Pembangunan Jangka Menengah RPJM Provinsi Gorontalo 2012 – 2017 20 SISTRANAS PADA TATARAN TRANSPORTASI WILAYAH PROVINSI GORONTALO .. 21 Tabel Detail Usulan Program Pengembangan Transportasi Darat ... 23 Tabel Detail Usulan Program Pengembangan Transportasi Penyeberangan ... 26 Executive Summary 32 Studi Sistranas Pada Tatralok Di Wilayah Provinsi Gorontalo Tabel Detail Usulan Program Pengembangan Transportasi Laut... 28 Tabel Detail Usulan Program Pengembangan Transportasi Multimoda ... 29 POLA PIKIR SISTRANAS PADA TATRALOK ... 31 Penyusunan Sistranas pada Tatralok menggunakan pendekatan kesisteman yang menjelaskan keterkaitan dari seluruh komponen mulai dari input serta proses yang akan dilakukan untuk menghasilkan output/outcome yang diharapkan sebagaimana tergambar pada pola pikir berikut. ... 31 Gambar Pola fikir sistranas pada tatralok ... 31 METODOLOGI ... 32 Gambar Metodologi Penyusunan Studi Sistranas Pada Tatralok Di wilayah Provinsi Gorontalo ... 32 KONDISI GEOGRAFIS ... 33 ADMINISTRATIF PEMERINTAHAN KOTA GORONTALO ... 33 Tabel Nama dan Luas Kecamatan Kota Gorontalo ... 33 Gambar Wilayah Administratif Kota Gorontalo ... 34 KONDISI DEMOGRAFI ... 34 Tabel Jumlah dan Kepadatan Penduduk Kota Gorontalo Tahun 2012 ... 35 KONDISI EKONOMI ... 35 Gambar Grafik Pertumbuhan PDRB Kota Gorontalo ... 35 KONDISI SARANA DAN PRASARANA TRANSPORTASI KOTA GORONTALO ... 36 Kondisi Jalan ... 36 Tabel Panjang Jalan Menurut Wewenang di Kota Gorontalo 2008-2012 ... 36 Tabel Panjang Jalan Menurut Jenis Permukaan di Kota Gorontalo 2008-2012 ... 36 Tabel Panjang Jalan Menurut Kondisi di Kota Gorontalo 2008-2012 ... 36 Kondisi Simpul Transportasi di Kota Gorontalo ... 36 Tabel Nama dan Lokasi Terminal di Kota Gorontalo ... 37 Gambar Lokasi Terminal di Kota Gorontalo... 37 Kondisi Pelayanan Angkutan Umum Kota Gorontalo ... 37 Tabel Pelayanan Taryek Angkutan Umum Dari Terminal 1942 Andalas ... 38 Tabel Pelayanan Taryek Angkutan Umum Dari Terminal Leyato dan Terminal Pusat Kota Gorontalo ... 38 Tabel Koridor Trans Hulonthalangi ... 39 Tabel Jumlah Bentor Berdasarkan Kecamatan di Kota Gorontalo Tahun 2012 ... 40 Gambar Peta Lokasi Pangkalan Bentor di Kota Gorontalo ... 41 Kondisi Transportasi Penyebrangan Kota Gorontalo ... 41 Tabel Profile Sarana KMP Penyebrangan Gorontalo ... 41 Tabel Perkembangan Permintaan Perjalanan Pada Pelabuhan Penyebrangan Kota Gorontalo 2009-2011... 42 Executive Summary 33 Studi Sistranas Pada Tatralok Di Wilayah Provinsi Gorontalo Kondisi Transportasi Laut Kota Gorontalo ... 42 Tabel Tabel Fasilitas Pelabuhan Laut Kota Gorontalo 2008 2012 ... 43 Tabel Arus Kapal Unit Pelabuhan Laut Gorontalo 2008 2012 ... 43 Tabel Arus Barang Pelabuhan Laut Gorontalo 2008 2012 ... 43 Tabel Arus Penumpang Pelabuhan Laut Gorontalo 2008 2012 ... 44 POLA AKTIVITAS TRANSPORTASI SAAT INI ... 44 Kondisi Lalu Lintas ... 44 Gambar Lokasi Survey Traffic Counting Kota Gorontalo ... 45 Tabel Kondisi Lalu Lintas Tahun 2012 Kota dan Kabupaten Gorontalo ... 45 Sistem Zona ... 46 Tabel Nomor dan Nama Zona Lalu Lintas ... 46 Gambar Peta Pembagian Zona Kota dan Kabupaten Gorontalo ... 48 Gambar Model Jaringan Jalan Tahun 2013 ... 48 Pembentukan Matriks Asal Tujuan Eksisting Tahun 2013 ... 48 Tabel Matrik Asal Tujuan Kota dan Kabupaten Gorontalo Tahun Dasar 2013 Smp/jam 49 Gambar Desire Line Matrik Asal Tujuan Tahun 2013 smp/jam ... 50 Gambar Hasil pembebanan Tahun 2013 ... 50 Tabel Parameter Kinerja Jaringan jalan Tahun 2013 ... 50 PREDIKSI BANGKITAN DAN TARIKAN TAHUN MENDATANG 2014, 2019, 2025 dan 2030 51 Tabel Persamaan Regresi Bangkitan dan Tarikan Smp/hari ... 51 Gambar Proyeksi Bangkitan dan Tarikan Lalu Lintas Dengan Pertumbuhan Penduduk Smp/Hari ... 52 Tabel Matrik Asal Tujuan Kota dan Kabupaten Gorontalo Tahun 2014 smp/jam ... 53 Gambar Desire Line Matrik Asal Tujuan Tahun 2014 smp/jam ... 53 Tabel Matrik Asal Tujuan Kota dan Kabupaten Gorontalo Tahun 2019 smp/jam ... 54 Gambar Desire Line Matrik Asal Tujuan Tahun 2019 smp/jam ... 54 Tabel Matrik Asal Tujuan Kota dan Kabupaten Gorontalo Tahun 2025 smp/jam ... 55 Gambar Desire Line Matrik Asal Tujuan Tahun 2025 smp/jam ... 55 Tabel Matrik Asal Tujuan Kota dan Kabupaten Gorontalo Tahun 2030 smp/jam ... 56 Gambar Desire Line Matrik Asal Tujuan Tahun 2030 smp/jam ... 56 Gambar Hasil Pembebanan Jaringan Jalan Tahun 2014 smp/jam ... 57 Gambar Hasil Pembebanan Jaringan Jalan Tahun 2019 smp/jam ... 57 Gambar Hasil Pembebanan Jaringan Jalan Tahun 2025 Smp/jam ... 57 Gambar Hasil Pembebanan Jaringan Jalan Tahun 2030 smp/jam ... 58 ARAH PENGEMBANGAN SARANA DAN PRASARANA JARINGAN TRANSPORTASI KOTA GORONTALO ... 59 KEBIJAKAN PENGEMBANGAN JARINGAN PRASARANA DAN PELAYANAN TRANSPORTASI KOTA GORONTALO ... 59 Executive Summary 34 Studi Sistranas Pada Tatralok Di Wilayah Provinsi Gorontalo STRATEGI PENGEMBANGAN SARANA DAN PRASARANA JARINGAN TRANSPORTASI KOTA GORONTALO ... 60 PROGRAM PENGEMBANGAN SARANA DAN PRASARANA JARINGAN TRANSPORTASI KOTA GORONTALO ... 60 Program Pengembangan Jaringan Transportasi Jalan ... 60 Pengembangan Transportasi Penyebrangan ... 62 Pengembangan Transportasi Kereta Api ... 62 Pengembangan Transportasi Laut ... 62 Tabel Usulan Program Pengembangan Sarana Dan Prasarana Jaringan Transportasi Kota Gorontalo ... 63
kesiapansarana dan prasarana transportasi harus diperhatikan Senin, 21 Juli 2014 08:47 Admin1 (Cirebon, 16/7/14) - Menteri Perhubungan E. E. Mangidaan memimpin Apel Siaga Angkutan Lebaran Tingkat Jawa Barat Tahun 2014, Rabu (16/7) di Cirebon.

Perkembangan Infrastruktur di Indonesia menjadi perhatian utama pemerintah untuk merealisasikan kesejahteraan dan target pembangunan untuk empat tahun kedepan 2015-2019 nanti. Hal ini, dapat dilihat dari total anggaran untuk pengembangan infrastruktur 2015 yaitu sebesar Seratus enam puluh Sembilan Triliun rupiah Rp 169 T. Total anggaran tersebut dimaksudkan untuk mendorong geliat ekonomi yang berujung pada kesejahteraan masyarakat Indonesia secara meluas. Dari total anggaran tersebut, untuk sector infrastruktur dibagi untuk empat kementerian, masing-masing Kementerian Pekerjaan Umum Rp 81,3 Triliun, Kementerian Perhubungan Rp 44,9 Triliun, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Rp 10 Triliun, serta Kementerian Perumahan Rakyat Rp 4,6 Triliun. Pembagian anggaran dari masing-masing kementerian difokuskan untuk infrastruktur prioritas yang dicanangkan oleh pemerintahan Jokowi-Kalla yaitu, untuk pembagunan infrastruktur perhubungan dan maritime, ketahanan energy, pariwisata, serta kedaulatan pangan Sektor perhubungan dan maritime menjadi prioritas utama Bapak Presiden Jokowi pada saat kampanye dalam pemilihan umum Presiden 2014-2019 kemarin, yang akan membangun tol laut, hal tersebut dikarenakan kondisi geografis Indonesia yang memiliki ribuan pulau besar dan kecil yang saling terhubung melalui laut. Tol laut yang dimaksudkan merupakan penjabaran dari transportasi laut yang membutuhkan sarana dan prasarana seperti pelabuhan, dermaga, kapal, dan peralatan bongkar muat barang. Hal ini bertujuan untuk menunjang kondisi perekonomian dan peningkatan iklim investasi terhadap suatu daerah yang belum mampu meningkatkan perekonomiannya melalui jalur transportasi laut1 Tol laut yang direncanakan pemerintah berdasarkan data dari Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional Bappenas akan membangun dua puluh empat pelabuhan baru yang tersebar di setiap pulau dan provinsi yang ada di Indonesia. Iklan Pembangunan dua puluh empat pelabuhan tersebut memberi angin segar bagi daerah-daerah yang berada di luar pulau jawa dan sumatera, hal ini dikarenakan kegiatan industry yang sebagian besar hampir terpusat di pulau Jawa menyebabkan besarnya disparitas deviasi suatu barang pada biaya pengiriman logistik. Kemajuan Peradaban Daerah-daerah di Kawasan Timur Indonesia Pola kehidupan masyarakat yang dinamis dan semakin berkembang berdampak pada permintaan akan kebutuhan hidup dan produksi barang, lazimnya disebut perdagangan. Faktor tersebut memaksa produsen dari suatu daerah untuk memperluas wilayah pasarnya. Perluasan wilayah pasar inilah yang membentuk moda transportasi untuk menjangkau kebutuhan masyarakat. Perkembangan moda transportasi dari waktu ke waktu semakin mempengaruhi kemajuan peradaban dari suatu daerah, realitas ini disebabkan oleh pengaruh timbal balik oleh aktivitas transportasi dan perdagangan dari satu daerah ke daerah lainnya. Transportasi yang mempunyai pengaruh besar bagi kehidupan masyarakat serta perkembangan perekonomian di suatu daerah memiliki ruang lingkup yang terdiri dari obyek, sarana dan prasarana, serta regulasi. Obyek yang terdiri atas manusia dan barang serta sarana dan prasarana dalam hal ini pelabuhan, dermaga serta kapal menjadi suatu sistem yang saling mempengaruhi. Kawasan Timur Indonesia yang selalu menjadi perhatian khusus pemerintah direncanakan akan dibangun delapan pelabuhan baru yang tersebar di pulau Sulawesi, Maluku, dan Papua. Kegiatan pembangunan yang masih lesu khususnya di pulau Papua memperlihatkan kesenjangan yang begitu besar daripada pulau-pulau di Jawa dan Sumatera. Tujuan dari pengembangan infrastruktur Kawasan Timur Indonesia dan pembangunan terkhusus pada infrastruktur perhubungan, dalam hal ini pelabuhan, tidak lain untuk menggairahkan tumbuhnya perdagangan dan iklim investasi, serta deviasi pada biaya logistik dari daerah lain ke pulau Papua agar tidak menjulang tinggi. Ketersediaan Logistik Konsep dan system transportasi saling berintegrasi dalam mewujudkan ketersediaan barang produksi dan konsumsi di berbagai tempat maupun suatu daerah dalam hal ini system logistic menjamin untuk memberikan kemudahan produsen dan konsumen atas pengadaan barang. Meminjam istilah World Bank dalam memandang system logistic, bahwa “dalam menekan biaya dan meningkatkan kualitas system logistic dan transportasi akan meningkatkan akses ke pasar Internasional, yang akan berdampak langsung pada peningkatan perdagangan, dan melalui hal ini, akan meningkatkan pendapatan dan berarti mengurangi tingkat kemiskinan secara signifikan”. Dari pandangan sebelumnya menerjemahkan bahwa cakupan ataupun ruang lingkup dari system logistic meliputi kebutuhan komoditi suatu barang, penyimpanan barang, dan tata lokasi. Kawasan Timur Indonesia yang sebagian besar berada pada jalur dan akses transportasi laut internasonal seperti pulau Sulawesi dan Papua dapat meminimumkan biaya-biaya produksi dan upaya-upaya efisiensi serta efektifitas terhadap transportasi untuk distribusi komoditas, baik input maupun output. Sebagai contoh mengenai permasalahan pembangunan Smelter PT. Freeport Indonesia PTFI yang direncanakan untuk dibangun di Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Hal ini mendapat reaksi keras dari organisasi masyarakat dan berbagai kalangan karena dianggap tidak berkontribusi terhadap pembangunan di Papua. Hal ini sejalan dengan konsep otonomi daerah khususnya di Papua bahwa seluruh kekayaan alam di Papua harus dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat Papua. Jika pembangunan smelter di Papua terwujud hal tersebut akan memungkinkan bukaan lahan-lahan baru serta infrastruktur sarana pendukung seperti jalan, pembangkit listrik, dan lain-lain. Jalur-jalur yang transportasi yang terbuka nantinya, baik jalur laut maupun darat akan melayani pemenuhan pergerakan. Jaringan pelayanan akan semakin meluas sehingga pemenuhan pergerakan produksi maupun konsumsi dapat dimaksimalkan. Jika telah maskimal, maka indeks pembangunan manusia dapat terlihat dari segi kesejahteraannya. Regulasi Faktor regulasi sangat memengaruhi tingkat perkembangan infrastruktur dari suatu wilayah, oleh karena itu pembangunan infrastruktur semestinya dikhusukan di bagian kawasan timur Indonesia agar terjadi keseimbangan dalam aktifitas-aktifitas ekonomi. Situsai politik di Indonesia sangat dipengaruhi oleh faktor regulasi. Untuk itu pemerintah diharapkan dapat membuat kebijakan yang bersifat lebih mendukung terhadap pembangunan di kawasan timur. Pembangunan infrastruktur yang akan terwujud nantinya dapat meningkatkan mobilitas yang lebih dinamis. Pola hidup serta kemajuan peradaban di kawasan timur Indonesia dapat menemukan kesejahteraannya. Kegiatan maupun aktifitas ekonomi yang berlangsung akan semakin meningkat seiring pembangunan sarana dan prasarana infrastruktur yang dibangun. Maka dari itu, peran pemerintah dalam membuat kebijakan dan regulasi akan menjamin dan mendukung pembangunan khususnya di Papua yang selalu menjadi perhatian dan isu nasional bahkan internasional dalam hal pembangunan indeks kesejahteraan manusia. Karena pembangunan dan pengembangan infrastuktur di kawasan timur Indonesia akan memuluskan laju cita-cita NKRI dalam menyejahterakan elemen seluruh lapisan masyarakat nantinya. Kegiatan maupun aktifitas ekonomi yang berlangsung akan semakin meningkat seiring pembangunan sarana dan prasarana infrastruktur yang dibangun. Maka dari itu, peran pemerintah dalam membuat kebijakan dan regulasi akan menjamin dan mendukung pembangunan khususnya di Papua yang selalu menjadi perhatian dan isu nasional bahkan internasional dalam hal pembangunan indeks kesejahteraan manusia. Karena pembangunan dan pengembangan infrastuktur di kawasan timur Indonesia akan memuluskan laju cita-cita NKRI dalam menyejahterakan elemen seluruh lapisan masyarakat nantinya. Ikuti tulisan menarik Uhwan Subhan lainnya di sini.

.
  • wz33yx7tcs.pages.dev/88
  • wz33yx7tcs.pages.dev/18
  • wz33yx7tcs.pages.dev/630
  • wz33yx7tcs.pages.dev/993
  • wz33yx7tcs.pages.dev/515
  • wz33yx7tcs.pages.dev/213
  • wz33yx7tcs.pages.dev/16
  • wz33yx7tcs.pages.dev/191
  • wz33yx7tcs.pages.dev/929
  • wz33yx7tcs.pages.dev/111
  • wz33yx7tcs.pages.dev/674
  • wz33yx7tcs.pages.dev/664
  • wz33yx7tcs.pages.dev/701
  • wz33yx7tcs.pages.dev/192
  • wz33yx7tcs.pages.dev/223
  • program sarana dan prasarana transportasi laut dan keunggulannya